Kerja Bakti Bersihkan Sungai Kalimas, Surabaya Jadi Contoh Pengelolaan Sampah Terbaik Nasional
Ribuan warga Surabaya turun langsung untuk membersihkan Sungai Kalimas, Kota Surabaya, pada Jumat (6/3/2026). Kegiatan kerja bakti ini digelar oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) RI. Acara tersebut melibatkan total 7.269 peserta dari berbagai unsur masyarakat, termasuk perangkat daerah, TNI-Polri, mahasiswa, komunitas hingga warga biasa.
Kegiatan ini dibagi menjadi delapan titik lokasi di sepanjang Sungai Kalimas, mulai dari kawasan Monumen Kapal Selam (Monkasel) hingga Kampung Gemblongan. Sebanyak 5.316 peserta mengikuti kegiatan di titik-titik tersebut, sementara 1.953 peserta hadir dalam apel dan kerja bakti di lokasi utama sebelum bergabung dengan peserta lainnya.
Menteri Hanif Ikut Hadir dalam Kegiatan
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) RI, Hanif Faisol Nurofiq, hadir secara langsung dalam kegiatan tersebut. Ia menyampaikan apresiasinya terhadap upaya pengelolaan sampah di Surabaya, yang dinilai sebagai kota dengan sistem pengelolaan sampah terbaik di tingkat nasional.
Menurut Menteri Hanif, Surabaya telah mencapai tingkat penanganan sampah sebesar 95 persen. Dengan penduduk mencapai 4 juta jiwa, kota ini berhasil menjaga kebersihan dan kualitas lingkungan meskipun menghadapi dinamika pembangunan yang pesat.
Budaya Kebersihan yang Menonjol
Ia menilai bahwa budaya kebersihan di Surabaya sudah terlihat dari tampilan visual kota. Bahkan di jalan-jalan protokol, Surabaya dianggap sebanding dengan kota-kota besar dunia, termasuk kota-kota di Eropa yang memiliki budaya pengelolaan sampah yang sangat baik.
Selain itu, kualitas lingkungan Surabaya masih terjaga, termasuk dari sisi kualitas udara. “Kita masih bisa melihat langit biru di Surabaya,” ujarnya. Ini menunjukkan bahwa di tengah aktivitas ekonomi yang tinggi, Surabaya masih mampu mengendalikan emisi gas buang dan menjaga kualitas lingkungan.
Namun demikian, ia menyebut kualitas air masih menjadi pekerjaan rumah karena berkaitan dengan wilayah lintas kota.
Sistem Pengelolaan Sampah Terintegrasi
Setiap hari, Surabaya menghasilkan sekitar 1.800 ton sampah. Namun, sekitar 1.000 ton sampah telah berhasil ditangani melalui sistem pengelolaan yang terintegrasi, termasuk melalui fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Benowo.
Dengan kondisi saat ini, tingkat penanganan sampah Surabaya sudah mencapai sekitar 95 persen, yang merupakan capaian tertinggi untuk kota besar di Indonesia. Capaian ini mencerminkan semangat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, serta amanat Pasal 28H UUD 1945 yang menjamin hak setiap warga negara untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat.
Wujud Komitmen Bersama
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyampaikan bahwa kegiatan kerja bakti di Sungai Kalimas menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya kebersihan sekaligus mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah.
“Kegiatan ini merupakan wujud komitmen bersama dalam memperkuat budaya kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan,” katanya. Ia menambahkan bahwa ini juga menjadi langkah nyata dalam mendorong transformasi pengelolaan sampah, dari paradigma lama kumpul–angkut–buang menuju pengurangan sampah sejak dari sumbernya.
Pemilahan Sampah dan Pengangkutan yang Terstruktur
Pemkot Surabaya telah mewajibkan pemilahan sampah, tidak hanya di tingkat rumah tangga, tetapi juga di sektor usaha seperti hotel, restoran, kafe (horeka) dan pusat perbelanjaan. Selain itu, pengangkutan sampah dari sektor usaha juga diwajibkan menggunakan kendaraan compactor dan tidak diperbolehkan melakukan pembakaran sampah.
Eri menambahkan, Pemkot Surabaya juga berencana menggelar kerja bakti setiap hari Jumat sebagai upaya menjaga kebersihan kota secara berkelanjutan. Sungai Kalimas menjadi salah satu fokus utama kebersihan kota karena sungai tersebut juga merupakan sumber air baku bagi PDAM Surabaya.







