Kehidupan Seorang Pedagang Sayur yang Berhasil Mengumpulkan Dana untuk Haji
Di sebuah dusun sederhana di Dusun Merbau Pendek, terdapat tumpukan sayur segar yang rapi di atas gerobak. Di sanalah Adena Yusri (58) memulai hari-harinya. Ia adalah seorang pedagang sayur keliling dari Desa Karang Jaya, Kecamatan Marbau Mataram, Lampung Selatan. Namun, di balik aktivitasnya yang sederhana ini, tersimpan kisah perjuangan dan kesabaran yang luar biasa.
Adena telah mengumpulkan uang koin sebesar Rp35 juta selama 20 tahun. Uang tersebut berasal dari hasil berjualan sayur harian. Setiap hari, ia menyisihkan uang koin Rp500 hingga Rp1.000 dalam enam ember. Dengan ketekunan dan kesabaran, ia berhasil menunaikan rukun iman yang kelima, yaitu ibadah haji pada tahun 2026.
Perjalanan Panjang Menabung
Kisah Adena dimulai sejak puluhan tahun lalu. Ia memulai usaha sebagai pedagang sayur keliling dengan modal kecil. Setiap hari, ia berangkat setelah salat subuh dan pulang setelah menjual dagangannya. Keuntungan yang diperoleh tidak besar, hanya sekitar Rp500 hingga Rp1.000 untuk setiap ikat sayur. Namun, ia tetap bersyukur karena rezeki datang dari Allah.
Selama 20 tahun menabung, hampir semua pelanggannya mengetahui niatnya untuk berangkat haji. Banyak dari mereka yang mendukung dan memberi semangat. Bahkan, beberapa pelanggan senang ketika mendengar bahwa akhirnya Adena bisa berangkat ke Mekkah.
Rintangan dan Tantangan
Perjalanan Adena tidak selalu mulus. Ada banyak rintangan yang ia hadapi. Saat anak-anak masih kecil, uang sering terpakai untuk membayar SPP, biaya mondok, dan buku sekolah. Beberapa keluarga maupun orang lain sempat meragukan niatnya untuk bisa berangkat haji. Meski begitu, Adena tetap bertekad dan tidak pernah menyerah.
Ia juga sempat ragu mendaftar haji karena ingin berangkat bersama istrinya, Aljariya (54). Namun, informasi dari pihak Kementerian Agama menyatakan bahwa pendaftaran berbeda waktu tidak bisa berangkat bersamaan dalam satu keberangkatan. Hal ini membuatnya sempat putus asa dan tidak segera mendaftarkan sang istri.
Harapan Bersama Istri
Adena sebenarnya berharap bisa berangkat haji bersama istrinya. Namun, Aljariya belum bisa ikut berangkat tahun ini. Ia mengaku, awalnya ingin naik haji bersama. Mereka bahkan pernah bekerja menanam jagung dan singkong di sawah bersama. Namun, aturan penggabungan mahram membuatnya harus mendaftar terlebih dahulu.
Aljariya mengatakan bahwa ia mendorong suaminya untuk mendaftar haji terlebih dahulu. Ia merasa kasihan melihat suaminya sering jatuh dari motor saat jualan di jalan rusak, terutama saat hujan. Ia baru mengetahui belakangan bahwa ada aturan penggabungan mahram. Namun, tabungan yang disiapkan untuk keberangkatannya sudah terpakai untuk menikahkan anak mereka.
Ajakan untuk Menabung
Dari pengalamannya, Adena mengajak masyarakat lain untuk lebih giat menabung. Ia percaya bahwa dengan kesabaran dan ketekunan, cita-cita bisa tercapai. Ia menekankan bahwa ibadah haji bukan hanya soal kemampuan ekonomi, tetapi juga soal keimanan dan kesungguhan untuk berusaha.
Adena juga berharap bisa membawa semangat menabung kepada masyarakat. Ia berpesan agar orang kampung bersabar dan sungguh-sungguh jika ingin naik haji. Ia percaya bahwa jika dibarengi dengan sedekah subuh, niat akan tercapai.







