Peringatan HUT ke-21 AJI Padang dengan Tema Mengawal Sumatra Pulih
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-21 dengan tema “Mengawal Sumatra Pulih”. Tema ini menjadi penegasan komitmen pers dalam menjaga kepentingan publik di tengah krisis bencana ekologis yang terus melanda wilayah Sumatra, khususnya Sumatra Barat.
Peringatan HUT ke-21 AJI Padang digelar bersamaan dengan diskusi publik lintas sektor yang melibatkan jurnalis, akademisi, aktivis lingkungan dan HAM, komunitas pendidikan, kelompok perempuan, mahasiswa, serta masyarakat umum. Kegiatan ini berlangsung di Pustaka Steva, Kelurahan Kurao Pagang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, Sumatera Barat, Sabtu (24/1/2026) malam.
Ketua AJI Padang, Novia Herlina, mengatakan tema “Mengawal Sumatra Pulih” bukan sekadar slogan, melainkan sikap etik pers untuk berpihak pada keselamatan rakyat dan keberlanjutan lingkungan.
“Bencana ekologis yang berulang di Sumatra tidak bisa lagi dipandang sebagai peristiwa alam semata. Ada persoalan tata kelola sumber daya alam, kebijakan pembangunan, serta lemahnya pengawasan yang harus terus dikawal,” ujar Novia dalam sambutannya.
Menurut Novia, peran jurnalisme tidak berhenti pada peliputan saat bencana terjadi, tetapi juga mengawal proses pemulihan jangka panjang. “Pers harus memastikan hak-hak korban terpenuhi, lingkungan dipulihkan secara berkelanjutan, serta kelompok rentan tidak terabaikan. Suara korban tidak boleh tenggelam setelah perhatian publik mereda,” tegasnya.
Diskusi lintas sektor tersebut menghadirkan empat narasumber, yakni Amalya Reza dari Trend Asia, Aidil Ikhlas dari AJI Padang, Mitra Oktavia dari LBH Padang, serta Khalid Syaifullah dari Posko Sumbar Peduli. Diskusi dipandu oleh Yola Sastra dari AJI Padang.
Perwakilan Trend Asia, Amalya Reza, menyoroti bencana ekologis di Sumatra sebagai bagian dari fenomena polikrisi, yakni kondisi ketika krisis iklim berkelindan dengan krisis sosial, ekonomi, dan tata kelola.
“Krisis iklim hari ini hadir bersamaan dengan krisis pangan, energi, dan ekonomi. Dampaknya paling berat dirasakan kelompok rentan, terutama masyarakat di wilayah rawan bencana,” kata Amalya.
Ia menilai, pendekatan pemulihan pascabencana selama ini masih berfokus pada pembangunan fisik dan infrastruktur, namun mengabaikan akar persoalan seperti eksploitasi sumber daya alam, alih fungsi lahan, dan ketergantungan pada energi fosil.
Sementara itu, Aidil Ikhlas dari AJI Padang yang terlibat dalam pemantauan lapangan ke sejumlah lokasi banjir bandang di Sumatra Barat mengungkapkan, dampak bencana tidak hanya bersifat material, tetapi juga sosial dan ekologis.
“Banyak warga kehilangan rumah, lahan pertanian, hingga sumber penghidupan. Proses pemulihan berjalan lambat dan tidak selalu melibatkan masyarakat terdampak,” ujarnya.
Dari perspektif hak asasi manusia, Mitra Oktavia dari LBH Padang menegaskan bahwa bencana ekologis berkaitan erat dengan pelanggaran HAM yang bersifat struktural.
“Korban bencana tidak hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga hak atas rasa aman, kesehatan, pendidikan, dan keadilan. Situasi ini diperparah ketika negara justru membiarkan proyek ekstraktif di wilayah rawan bencana,” kata Mitra.
Ia menambahkan, pemulihan pascabencana seharusnya berbasis pada pemenuhan hak korban, bukan semata proyek pembangunan.
Adapun Khalid Syaifullah dari Posko Sumbar Peduli menekankan pentingnya perubahan pendekatan dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
“Rehabilitasi dan rekonstruksi tidak boleh hanya membangun ulang rumah atau infrastruktur. Pemulihan harus dimulai dari pemetaan risiko, pemulihan ruang hidup warga, serta pelibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan,” ujarnya.
Sebagai penutup rangkaian peringatan HUT ke-21, AJI Padang memberikan Anugerah Pers Mahasiswa kepada karya jurnalistik mahasiswa yang konsisten mengangkat isu lingkungan dan bencana ekologis. Anugerah liputan indepth terbaik diberikan kepada Surat Kabar Kampus Ganto UNP melalui karya berjudul Rezeki Harimau di Pesisir Padang. Sementara kategori video jurnalistik terbaik diraih DKTV UIN IB lewat karya berjudul Gelondongan Kayu di Pantai Gajah.
Selain itu, AJI Padang juga memberikan penghargaan pengelolaan media sosial terbaik kepada Surat Kabar Kampus Ganto UNP, yang berhasil meraih penghargaan tersebut tiga kali berturut-turut sejak pertama kali digelar.
Pada kesempatan yang sama, AJI Padang turut menyalurkan donasi bagi anak-anak korban bencana ekologis sebagai bentuk solidaritas terhadap kelompok paling rentan terdampak bencana.







