Tradisi Takbiran Pawai Obor di Kampung Jodipan Wetan Kota Malang
Warga kampung Jodipan Wetan Kota Malang merayakan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah dengan menggelar takbiran pawai obor yang berlangsung pada Jumat (20/3/2026) malam. Kegiatan ini menjadi bagian dari tradisi tahunan yang rutin dilaksanakan oleh masyarakat setempat.
Pawai obor ini tidak hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan antar warga. Suasana semakin meriah karena banyak anak-anak yang turut serta dalam kegiatan tersebut. Mereka tampak antusias dan bersemangat mengikuti prosesi takbiran sambil membawa obor yang menyala.
Antusiasme Warga dan Anak-Anak
Sejak selepas salat Isya, warga mulai berkumpul di titik awal pemberangkatan, yaitu di poros Jalan Jodipan Wetan Gang 1. Dengan membawa obor, mereka berkeliling kampung sambil mengumandangkan takbir. Suasana religius terasa sangat kental menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Pawai obor ini tidak hanya menjadi momen seremonial, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi yang terus dilestarikan oleh masyarakat Jodipan dari tahun ke tahun. Kegiatan ini juga menjadi ajang untuk memperkuat kebersamaan antar warga. Bahkan, antusiasme tidak hanya datang dari kalangan orang dewasa, tetapi juga dari anak-anak.
Anak-anak tampak sangat bersemangat mengikuti pawai. Meski membawa obor dengan bara api yang menyala, mereka tetap percaya diri dan dalam pengawasan orang dewasa. “Setiap tahun pasti ada, dan anak-anak selalu paling semangat. Ini sudah jadi tradisi yang kami jaga bersama,” ujar Muhammad Farid, salah satu pemuda Jodipan.
Dinanti di Sepanjang Rute Pawai
Sepanjang rute pawai, gema takbir terus berkumandang, berpadu dengan cahaya obor yang berkelap-kelip di sepanjang jalan kampung. Salah satu warga setempat mengatakan bahwa pawai obor ini menjadi momen yang selalu dinanti, terutama oleh anak-anak.
Selain sebagai bentuk syiar, kegiatan ini juga memberikan kebahagiaan tersendiri bagi warga. Suasana semakin meriah ketika rombongan pawai obor melintas di depan Masjid Roisiyah Kota Malang. Petasan dan kembang api pun dinyalakan, membuat suasana semakin meriah.
Pawai ini pun tidak luput dari perhatian warga sekitar. Mereka rela berjejer di pinggir jalan untuk menunggu dan melihat rombongan pawai datang. Pawai diakhiri dengan masuk kembali ke Jalan Jodipan Wetan Gang 1, yang artinya pawai kembali masuk ke dalam kampung.
Anggaran dan Kontribusi Warga
Untuk penyelenggaraan tahun ini, Farid menyebut anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 10 juta. Dana tersebut diperoleh dari iuran sukarela warga dan para perantau yang masih peduli dengan kampung halamannya. “Anggaran sekitar Rp 10 juta, dari iuran teman-teman dan warga. Termasuk warga yang sudah di luar, tapi masih antusias ikut berkontribusi,” jelasnya.
Tradisi ini menjadi simbol kuat kebersamaan warga dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa nilai gotong royong dan kekompakan masih terjaga di tengah masyarakat perkotaan.
Keunikan dan Makna Tradisi
Tradisi takbiran pawai obor di Jodipan Wetan tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga memiliki makna yang mendalam. Kegiatan ini mencerminkan kekayaan budaya lokal yang terus dilestarikan oleh masyarakat setempat. Dengan adanya partisipasi aktif dari berbagai kalangan, termasuk anak-anak dan perantau, tradisi ini menjadi lebih hidup dan bermakna.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah untuk memperkuat hubungan antar warga. Melalui pawai obor, masyarakat dapat merasakan kehangatan dan kebersamaan yang langka di tengah kesibukan kehidupan modern.







