Dampak Perang AS dan Israel terhadap Pasokan Pupuk dan Ketersediaan Pangan
Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran berpotensi mengganggu berbagai sektor penting, termasuk pangan dan pertanian. Blokade Selat Hormuz yang dilakukan oleh Iran untuk merespons serangan AS dan Israel tidak hanya memicu krisis energi tetapi juga mengancam pasokan pupuk yang sangat dibutuhkan para petani.
Selat Hormuz menjadi jalur penting bagi perdagangan minyak dan gas dunia, serta merupakan jalur sepertiga perdagangan pupuk global. Ketika blokade ini diberlakukan, pasokan pupuk mengalami gangguan yang berdampak pada sektor pertanian. Petani di berbagai belahan dunia, terutama di daerah-daerah yang bergantung pada impor pupuk dari Teluk Persia, menghadapi tantangan besar dalam menjaga produksi pangan.
Deputi Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia (FAO) PBB Carl Skau menyatakan bahwa petani-petani miskin di belahan bumi utara sangat bergantung pada pupuk impor dari Teluk Persia. Pelemahan pasokan pupuk ini terjadi tepat sebelum musim tanam dimulai, sehingga berisiko menurunkan hasil panen dan menyebabkan gagal panen di musim depan.
Petani beras asal Punjab, India, Baldev Singh mengatakan bahwa petani kecil di negaranya mungkin tidak dapat bertahan jika pemerintah tidak mensubsidi pupuk pada periode puncak permintaan bulan Juni mendatang. “Saat ini, kami menunggu dan berharap,” katanya.
Blokade Selat Hormuz juga memengaruhi pasokan dua unsur hara utama dalam pupuk, yaitu nitrogen dan fosfat. Nitrogen, termasuk urea—pupuk yang paling banyak diperdagangkan—terkena dampak besar karena keterlambatan pengiriman dan melonjaknya harga gas alam cair yang menjadi bahan penting dalam produksi nitrogen.
Peneliti dari perusahaan konsultasi komoditas CRU Group, Chris Lawson, mencatat bahwa perang Iran sudah membatasi 30 persen perdagangan urea global. Sementara itu, ekonom University of Texas Raj Patel mengatakan sejumlah negara sudah kekurangan urea. Ia mencontohkan Ethiopia yang 90 persen nitrogen pupuknya berasal dari Teluk Persia yang melewati Djibouti, rute pasokan yang sudah terbatas bahkan sebelum perang AS dan Israel pada Februari lalu.
Pasokan fosfat yang diperlukan akar tanaman juga tertekan. Lawson mengatakan Arab Saudi merupakan produsen fosfat terbesar kelima di dunia dan mengekspor 40 persen sulfur dunia, bahan utama dan produk sampingan dari penyulingan minyak dan gas.
Analis dari Argus Consulting Services Owen Gooch mengatakan setelah perang berakhir, para produsen di Teluk masih membutuhkan jaminan keamanan untuk melewati Selat Hormuz. Dengan begitu, biaya asuransi juga akan melonjak tajam.
Pemerintah India memprioritaskan pasokan urea untuk kebutuhan domestik dan menyediakan sekitar 70 persen kebutuhan gas alam bagi produsen pupuk. Beberapa pabrik masih beroperasi di bawah kapasitas, yang menyebabkan penurunan produksi.
“Sistem pangan itu rapuh, dan bergantung pada rantai pasokan pupuk yang stabil untuk memastikan petani dapat menghasilkan pangan yang dibutuhkan dunia,” kata Hanna Opsahl-Ben Ammar dari Yara International, salah satu perusahaan pupuk terbesar di dunia.
Pupuk biasanya digunakan sebelum atau saat penanaman dilakukan. Sehingga, ketika pupuk tidak terkirim tepat waktu, hal itu akan merusak pertumbuhan tanaman dan hasil panen.
Dampak perang terhadap pasokan pupuk sudah terasa di AS dan Eropa, di mana musim tanam masih berlangsung. Masalah ini juga diperkirakan akan menghantam Asia ketika musim tanam di kawasan itu dilakukan beberapa bulan ke depan.
“Tanaman di ladang membutuhkan nitrogen saat ini juga, semakin cepat semakin baik, agar dapat tumbuh dengan baik, berkembang, dan membangun cadangan untuk panen pada musim panas,” kata Dirk Peters, seorang insinyur pertanian yang mengelola pertanian di luar Berlin.
Menteri Perdagangan Budi Santoso memastikan pemerintah telah mengantisipasi potensi gangguan pasokan bahan baku pupuk di tengah dinamika perdagangan global. Budi mengatakan pemerintah fokus menjaga stabilitas pasokan dalam negeri melalui diversifikasi sumber impor bahan baku.
“Kita sudah antisipasi untuk bahan baku misalnya. Jadi, terutama yang impor, kita cari alternatif pasar atau barangnya. Substitusi barangnya bisa diambil dari negara yang ada atau komoditas yang sama dari negara lain,” ujar Budi di Jakarta, Jumat.

Menteri Perdagangan Budi Santoso. – (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)
Untuk sektor pupuk, Budi menjelaskan bahwa Indonesia selama ini memperoleh pasokan dari negara-negara Eropa Timur dan Asia Tengah, seperti Kazakhstan dan Uzbekistan. Jika terjadi gangguan distribusi global, kata Budi, sumber impor tersebut dapat dialihkan ke negara lain dengan komoditas serupa.
“Sebenarnya kita impor pupuk dari Eropa Timur cukup banyak, seperti dari Kazakhstan, Uzbekistan, dan negara-negara Eurasia lainnya. Itu bisa dialihkan,” jelasnya.
Ia menambahkan, hingga saat ini pemerintah belum menerima laporan adanya kesulitan pasokan bahan baku pupuk dari perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di sektor pupuk. Hal tersebut menjadi indikator bahwa kondisi pasokan masih terkendali.
Namun demikian, Budi menegaskan pemerintah terus memantau perkembangan perdagangan global, terutama karena persaingan mendapatkan bahan baku pupuk di pasar internasional semakin ketat.
Budi berharap diversifikasi sumber impor mampu menjaga stabilitas ketersediaan pupuk nasional.
“Sampai sekarang belum ada laporan dari pihak BUMN. Artinya, belum ada keluhan kepada kami,” imbuh Budi.







