PT Cisadane Sawit Raya Tbk. (CSRA), sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit, tengah merancang strategi pengembangan bisnis yang menargetkan akuisisi lahan baru pada tahun 2026. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk memperluas operasional dan meningkatkan daya saing di pasar domestik maupun internasional.
Dalam keterangan resmi yang dikeluarkan, manajemen CSRA menyatakan bahwa peluang pertumbuhan bagi emiten perkebunan kelapa sawit pada tahun ini masih terbuka. Meskipun rencana penerapan B50 ditunda, permintaan akan energi berbasis CPO tetap tinggi, dengan mandatori B40 menjadi penopang utama permintaan.
Berdasarkan Laporan Outlook Industri Kelapa Sawit Q1 2026 yang dirilis oleh IPOSS, CSRA mengamati bahwa penyerapan produk hasil kelapa sawit tidak hanya bergantung pada pasar ekspor, tetapi juga telah didominasi oleh pasar dalam negeri. Hal ini menjadi alasan kuat bagi perseroan untuk fokus pada pengembangan pasar lokal.
Direktur Keuangan dan Pengembangan Strategis CSRA, Seman Sendjaja, menjelaskan bahwa perusahaan sedang aktif mencari peluang dalam mengakuisisi lahan baru yang memiliki potensi berkembang. “Perusahaan telah menerapkan strategi komprehensif untuk meninjau dan mengidentifikasi berbagai peluang dalam mengakuisisi lahan baru,” katanya dalam keterangan resmi.
Seman menambahkan bahwa CSRA saat ini sedang membidik lahan baru di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatra Selatan. Lokasi ini berdekatan dengan area perkebunan yang sudah dimiliki perseroan melalui entitas usaha PT Daya Agro Lestari. Pengembangan ini dianggap sebagai langkah strategis yang bertujuan untuk mempermudah integrasi operasional, meningkatkan efisiensi pengelolaan sumber daya, serta optimalisasi infrastruktur dan sistem logistik yang sudah tersedia.
“Sehingga kegiatan operasional dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan. Nantinya lahan baru tersebut akan dikelola oleh entitas perseroan yaitu PT Bintang Kenten Lestari,” ujarnya.
Meski belum ada informasi pasti tentang kapan aksi akuisisi tersebut akan dilakukan, 2026 dinilai sebagai tahun penting bagi CSRA dalam menjalankan tujuan strategis dan percepatan kemajuan di seluruh lini perusahaan. Salah satu fokus utama perseroan adalah penguatan arus kas, yang bertujuan untuk menjaga stabilitas keuangan, meningkatkan efisiensi operasional, serta memastikan tersedianya sumber pendanaan internal yang cukup untuk mendukung berbagai program pengembangan usaha.
Kinerja CSRA Tahun 2025
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, CSRA berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp1,88 triliun pada tahun 2025. Realisasi ini mencerminkan pertumbuhan pendapatan hingga 77,10% year-on-year (YoY) dibandingkan Rp1,06 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan pendapatan CSRA terutama didorong oleh penjualan minyak dan inti sawit yang tumbuh 109,86% YoY menjadi Rp1,71 triliun dari Rp814,95 miliar pada periode Januari—Desember 2024. Namun, segmen pendapatan dari industri perkebunan justru mengalami penurunan sebesar 18,00% YoY menjadi Rp206,45 miliar pada 2025.
Manajemen CSRA menyatakan bahwa naiknya pendapatan terutama disebabkan oleh tingginya kuantitas penjualan CPO yang memiliki nilai tambah, serta harga jual rata-rata yang tinggi. Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, beban pokok pendapatan CSRA juga meningkat hingga 111,36% YoY menjadi Rp1,23 triliun pada 2025, dari Rp582,89 miliar pada periode yang sama 2024.
Beban pokok pendapatan CSRA meningkat karena beban produksi minyak sawit dan inti sawit yang tumbuh menjadi Rp1,16 triliun pada tahun lalu, dibandingkan Rp448,55 miliar pada 2024. Akibatnya, CSRA hanya mampu membukukan laba bruto senilai Rp657,22 miliar pada 2025, atau meningkat 35,82% YoY dari Rp483,86 miliar pada periode yang sama 2024.
Setelah dikurangi berbagai beban dan pajak, CSRA berhasil membukukan laba bersih senilai Rp268,77 miliar atau bertumbuh 25,09% YoY dari Rp214,85 miliar pada 2024.
Dari sisi neraca, CSRA membukukan total aset senilai Rp2,52 triliun per Desember 2025, naik dari Rp2,25 triliun pada Desember 2024. Kenaikan terutama disebabkan oleh kenaikan total aset tidak lancar menjadi Rp1,96 triliun pada tahun lalu. Sejalan dengan meningkatnya aset, liabilitas perseroan turut membengkak menjadi Rp1,05 triliun per Desember 2025, dari Rp952,71 miliar pada periode yang sama 2024. Namun, ekuitas perseroan turut naik menjadi Rp1,46 triliun per Desember 2025 dari Rp1,29 triliun pada 2024.


![Kualitas Tak Pernah Palsu! Ini Alasan Honda CBR 150R [K45R] Indonesia Jadi Raja Sport Sejati!](https://infomalangraya.com/wp-content/uploads/2026/03/Heaa2365942af450ab66c7f19207692e4s-300x300.webp)




