Arah Pembangunan Kota Malang Tahun 2027
Arah pembangunan Kota Malang pada tahun 2027 akan difokuskan pada akselerasi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Hal ini dilakukan dengan penguatan layanan dasar serta infrastruktur pendukung produktivitas daerah. Dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD 2027 Kota Malang di Hotel Grand Mercure, Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menyampaikan bahwa capaian kinerja makro Kota Malang menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Malang mencapai 85,55, menjadi yang tertinggi kedua di Jawa Timur. Sementara itu, tingkat kemiskinan berada di angka 3,85 persen, menjadikan Kota Malang sebagai daerah dengan tingkat kemiskinan terendah ketiga di provinsi tersebut. Di sektor ekonomi, pertumbuhan Kota Malang mencapai 5,92 persen, bahkan lebih tinggi dari rata-rata provinsi dan nasional. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) juga meningkat signifikan hingga Rp 108,15 triliun pada 2025.
“Capaian kinerja makro semakin positif. Ini menjadi modal penting dalam mendorong pembangunan ke depan,” ujar Wahyu Hidayat. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan pembangunan ke depan semakin kompleks, seiring pertumbuhan penduduk, dinamika sosial, hingga disrupsi teknologi. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan yang adaptif dan kolaboratif.
Prioritas Pembangunan 2027
Dalam RKPD 2027, Pemkot Malang menetapkan sejumlah prioritas pembangunan, antara lain penanggulangan kemiskinan, penguatan ketahanan pangan, peningkatan layanan kesehatan, serta perluasan akses pendidikan. Program tersebut juga diselaraskan dengan program strategis nasional. Selain itu, Wahyu menekankan pentingnya transformasi sosial dan ekonomi melalui berbagai program unggulan, seperti pemberian beasiswa, pelaksanaan 1.000 event olahraga, seni, budaya, dan ekonomi kreatif, hingga alokasi dana pembangunan Rp 50 juta per RT.
Upaya peningkatan kualitas layanan dasar juga dilakukan melalui implementasi Universal Health Coverage (UHC), penguatan infrastruktur perkotaan, penanganan banjir dan kemacetan, serta pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Di sektor ekonomi kreatif dan pariwisata, optimalisasi Malang Creative Center serta pengembangan kawasan Kayutangan Heritage menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan daya tarik Kota Malang sebagai destinasi wisata.
Wahyu juga menegaskan pentingnya partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan. Berdasarkan data Musrenbang, tingkat akomodasi usulan masyarakat dalam RKPD 2027 mencapai 55 persen dari total usulan yang masuk, meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Potensi dan Tantangan Kota Malang
Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, menilai Kota Malang memiliki sejumlah potensi yang bisa dioptimalkan. Setidaknya terdapat lima kekuatan utama yang dapat menjadi pendorong pembangunan ke depan.
Pertama, sebagai kota pendidikan, Kota Malang memiliki sumber daya manusia yang melimpah dari berbagai perguruan tinggi. Potensi ini, kata dia, harus diiringi dengan kolaborasi intensif antar pemangku kepentingan serta penerapan hasil riset yang inovatif.
Kedua, sektor ekonomi kreatif yang dinilai berkembang pesat. Daya tahan masyarakat Kota Malang cukup kuat, tercermin dari keberanian pelaku usaha dalam mengambil risiko. Namun, pemerintah daerah perlu memperkuat pendampingan dan distribusi produk agar tidak kehilangan potensi pasar.
Ketiga, sektor pariwisata berbasis heritage yang dinilai belum digarap secara maksimal. Dengan posisi strategis serta kekayaan budaya dan gaya hidup masyarakat, Kota Malang dinilai memiliki peluang besar untuk mengembangkan pariwisata berbasis pengalaman.
Keempat, kuatnya modal sosial masyarakat atau solidaritas “arek-arek Malang” yang dinilai menjadi kekuatan dalam menjaga ketahanan sosial. Pemerintah, kata dia, cukup memberikan stimulus agar partisipasi masyarakat semakin optimal.
Kelima, posisi strategis Kota Malang dalam jejaring wilayah yang memungkinkan penguatan distribusi logistik dan pengembangan ekonomi regional secara terkoordinasi.
Di sisi lain, Amithya juga menyoroti persoalan ketahanan pangan. Berdasarkan temuannya saat turun ke masyarakat pada momentum Ramadan, ia mendapati produktivitas lahan pertanian yang masih rendah. “Ada kelompok tani yang produksinya masih di bawah 20 persen, padahal seharusnya bisa maksimal. Ini harus dilihat secara luas, bagaimana ke depan ketahanan pangan kita,” ujarnya.
Amithya menegaskan bahwa penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2027 harus mampu menjadikan Kota Malang sebagai daerah yang adaptif dan tangguh. Beberapa fokus yang perlu didorong antara lain penguatan ekonomi berbasis talenta muda, efisiensi energi, perlindungan daya beli masyarakat, serta percepatan transformasi layanan publik.
Strategi Pembangunan yang Berkelanjutan
Selain itu, Pemkot Malang juga menekankan pentingnya pengembangan infrastruktur yang mendukung produktivitas daerah. Dengan penguatan layanan dasar, seperti kesehatan dan pendidikan, serta peningkatan kualitas lingkungan hidup, Kota Malang berkomitmen untuk memastikan semua warga merasakan manfaat dari pembangunan.
Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, pemerintah daerah berkolaborasi dengan berbagai stakeholder, termasuk masyarakat, pelaku usaha, dan lembaga pendidikan. Dengan pendekatan yang inklusif dan berkelanjutan, harapan besar dipegang bahwa Kota Malang akan menjadi contoh pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan seluruh masyarakat.







