Prospek Produksi Batu Bara Indonesia di Tahun 2026
Pada tahun 2026, proyeksi produksi batu bara di Indonesia diperkirakan akan melebihi 700 juta ton. Hal ini didorong oleh perubahan kebijakan pemerintah yang mulai mengizinkan peningkatan produksi setelah sebelumnya membatasi volume produksi menjadi sekitar 600 juta ton pada tahun ini. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan realisasi produksi pada 2025 yang mencapai 790 juta ton. Namun, kenaikan harga komoditas dan meningkatnya permintaan akibat konflik di kawasan Timur Tengah membuat pemerintah mempertimbangkan relaksasi kebijakan.
Menurut Rizal dari Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), kuota produksi batu bara untuk tahun 2026 diperkirakan berada di atas kisaran 700 juta ton. Meski angka pastinya belum dirilis oleh Kementerian ESDM, situasi geopolitik saat ini menunjukkan bahwa harga dan permintaan akan terus meningkat.
Saat ini, Kementerian ESDM baru saja menyetujui RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran) batu bara tahun buku 2026 sebesar 580 juta ton. Proses persetujuan ini membutuhkan waktu lebih lama karena adanya penyesuaian terhadap sistem aplikasi baru. Persetujuan RKAB sangat penting karena masa relaksasi aktivitas penambangan akan berakhir pada 31 Maret 2026.
Rizal menilai bahwa momentum penguatan harga dan kelangkaan energi global saat ini dapat dimanfaatkan pemerintah untuk meningkatkan pendapatan negara dan devisa. Selain itu, pemerintah juga harus memastikan ketahanan energi nasional dengan menjaga kebutuhan energi masyarakat maupun industri.
Perang di kawasan Timur Tengah telah menyebabkan kelangkaan BBM dan gas secara global. Salah satu penyebabnya adalah ditutupnya Selat Hormuz, jalur distribusi minyak utama dari Timur Tengah. Akibatnya, beberapa negara seperti Filipina, Thailand, hingga Amerika Serikat (AS) telah menaikkan harga BBM untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak mentah global.
Indonesia saat ini masih belum terlalu terdampak karena memiliki stok BBM yang cukup. Pemerintah juga masih mampu menanggung subsidi BBM meskipun harga minyak global sudah naik signifikan. Namun, jika konflik di Timur Tengah berlangsung terus-menerus, dampaknya bisa segera terasa.
Untuk menjaga ketahanan energi nasional, Rizal menyarankan agar pemerintah lebih memanfaatkan potensi energi dalam negeri. Beberapa sumber energi yang bisa dikembangkan antara lain energi baru terbarukan (EBT) seperti sinar matahari, angin, air, laut, panas bumi, nabati, biomassa, serta bahan bakar fosil seperti batu bara.
Batubara dapat digunakan sebagai sumber energi untuk kelistrikan dan industri yang membutuhkan pasokan stabil. Banyak negara saat ini sedang meningkatkan penggunaan batu bara untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negerinya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pemerintah berpeluang merelaksasi kebijakan pengetatan produksi batu bara dan nikel pada tahun ini. Relaksasi ini akan dilakukan secara terukur dan tidak boleh memicu kelebihan pasokan yang menekan harga komoditas nasional di pasar global.
Bahlil menegaskan bahwa relaksasi akan terbatas dan tetap menjaga keseimbangan antara supply dan demand serta harga. Meski demikian, hingga saat ini belum ada perubahan kebijakan terkait pengelolaan batu bara dan nikel. Pemerintah akan terus memantau dinamika pasar global.







