Program Kamojang Agri-Aquaculture: Penggerak Ekonomi Sirkular Berbasis Panas Bumi
Program Kamojang Agri-Aquaculture Energized by Geothermal (Kanyaah) telah menjadi salah satu inisiatif yang mampu mengubah pengelolaan panas bumi menjadi sumber ekonomi berkelanjutan. Program ini tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga berkontribusi signifikan dalam pemberdayaan masyarakat sekitar. Dengan memanfaatkan uap panas bumi yang belum dimanfaatkan, program ini menciptakan sistem saling terhubung yang meningkatkan efisiensi biaya produksi dan memperkuat ketergantungan antara industri dan komunitas lokal.
General Manager PGE Area Kamojang I Made Budi Kesuma Adi Putra menyatakan bahwa program ini bukan hanya sekadar penghasil energi bersih, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan masyarakat. “Kamojang tidak hanya berperan sebagai penghasil energi bersih, tetapi juga berkembang sebagai sarana pemberdayaan masyarakat berbasis pemanfaatan energi panas bumi sebagai potensi alam setempat,” katanya dalam keterangan tertulis.
Penghargaan PROPER yang diraih oleh PGE Area Kamojang merupakan yang ke-15 secara berturut-turut. Penghargaan tersebut diberikan oleh Menteri Lingkungan Hidup pada Selasa, 7 April 2026. Hal ini menunjukkan komitmen perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan pelestarian lingkungan.
Teknologi Inovatif dalam Sektor Pertanian dan Perikanan
Pertamina mengembangkan Geothermal Fishery melalui pemanas kolam berbasis panas bumi. Teknologi ini mampu mempercepat masa panen hingga 25 persen serta meningkatkan bobot ikan dari rata-rata 200 gram menjadi 330 gram per ekor. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi para petani ikan.
Di sektor pertanian, terdapat Geothermal Organic Fertilizer yang telah menghasilkan 193,8 ton pupuk ramah lingkungan. Pupuk ini digunakan untuk lahan pertanian seluas 12,34 hektare, sehingga mendukung peningkatan hasil panen secara berkelanjutan. Selain itu, Geothermal Farming berperan dalam mendukung proses pembibitan dan budidaya tanaman holtikultura agar lebih efisien dan produktif.
Pengolahan Hasil Pascapanen untuk Meningkatkan Nilai Tambah
Geothermal Food adalah inisiatif lain yang mendorong pengolahan hasil pascapanen agar memiliki nilai tambah yang lebih tinggi. Inisiatif ini memperpanjang rantai manfaat selain pertanian dan membuka peluang usaha baru untuk meningkatkan pendapatan masyarakat secara berkelanjutan. “Kami memastikan pengelolaan energi hijau tidak hanya mendukung ketahanan energi masa depan, tetapi juga memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat melalui penguatan ekonomi lokal,” tutur I Made Budi Kesuma Adi Putra.
Dampak Sosial dan Lingkungan yang Signifikan
Program Kanyaah telah menjangkau 4.397 orang dengan total penghasilan masyarakat mencapai Rp 3,08 miliar, serta nilai social return on investment (SROI) sebesar 5,10 kali. Kanyaah juga diklaim berkontribusi mengurangi emisi sebesar 146,28 ton karbon ekuivalen per tahun, serta pengurangan sampah organik sebanyak 232 ton per tahun.
“Kami berharap Kamojang dapat terus menjadi contoh bagaimana pengelolaan panas bumi berjalan selaras antara pertumbuhan bisnis, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat,” ujar Budi.
Sejarah Pengelolaan Panas Bumi di Kamojang
Eksplorasi panas bumi di Kamojang dimulai sejak 1926 dan dilanjutkan oleh Pertamina pada 1974. Kemudian operasi komersial dimulai melalui PLTP Kamojang pada 1983. Pengelolaan Wilayah Kerja Panas Bumi Kamojang berada di bawah PT Pertamina Geothermal Energy dengan 5 unit PLTP dengan kapasitas 235 megawatt dari keseluruhan 727 megawatt kapasitas terpasang.







