Infomalangraya.com, JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengembangkan fasilitas pilot Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) sejak tahun 2017. Proyek ini bertujuan untuk mencoba teknologi konversi sampah menjadi energi listrik. Selain itu, proyek ini juga menjadi bagian dari upaya menghadapi tantangan pengelolaan sampah perkotaan serta mendukung kebijakan pemerintah terkait energi terbarukan.
Program ini juga berhubungan dengan beberapa regulasi pemerintah, seperti Peraturan Presiden No 18/2016, Peraturan Presiden No 35/2018, hingga Peraturan Presiden No 109/2025 yang menekankan percepatan pengolahan sampah menjadi energi ramah lingkungan. Kebijakan tersebut menjadi dasar dalam penguatan teknologi PLTSa di berbagai kota di Indonesia.
Wiharja, peneliti Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, menjelaskan bahwa sistem PLTSa bekerja dengan memanfaatkan sampah kota sebagai bahan bakar. Sampah terlebih dahulu dipilah dan dikeringkan agar meningkatkan nilai kalor sebelum masuk ke proses pembakaran.
“Pendekatan ini mampu mengolah dan mengurangi volume sampah secara cepat dan signifikan hingga 80 persen sekaligus mengkonversinya menjadi energi,” ujarnya dalam pernyataan resmi, Jumat (17/4/2026).
Dia menjelaskan, panas hasil pembakaran digunakan untuk menghasilkan uap yang menggerakkan turbin dan generator sehingga menghasilkan listrik. Sementara gas buang dari proses tersebut tetap di filter agar sesuai baku mutu lingkungan yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup.
Menurut Wiharja, fasilitas pilot PLTSa Merah Putih yang dikembangkan BRIN masih berada pada skala demonstratif dengan kapasitas 100 ton sampah per hari. Proyek ini pernah bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada periode 2018 hingga 2022, dengan hasil listrik sekitar 700 kW yang digunakan untuk kebutuhan internal.
“Dalam skala pengembangan penuh, potensi energi dari sampah perkotaan di kota besar seperti Jakarta dapat mencapai puluhan megawatt, tergantung pada volume dan karakteristik sampah,” kata Wiharja.
BRIN menilai teknologi ini memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari penggunaan teknologi dalam negeri hingga kemampuan adaptasi terhadap karakter sampah Indonesia yang cenderung memiliki kadar air tinggi. Sistem ini juga dirancang agar dapat ditingkatkan ke skala lebih besar sesuai kebutuhan daerah.
Selain itu, teknologi ini dinilai lebih efisien karena dilengkapi proses pra-perlakuan sampah, serta fokus pada pengendalian emisi dan residu. Pendekatan ini juga membuka peluang penerapan di berbagai wilayah dengan penyesuaian kondisi lokal.
Secara global, teknologi waste to energy berbasis insinerasi sudah banyak digunakan di negara maju seperti Jepang, Jerman, Prancis, China, dan Singapura. Data World Bank dan UNEP menunjukkan teknologi ini mendominasi sekitar 78–79 persen pasar pengolahan sampah energi dunia.
Namun, BRIN menekankan bahwa implementasi di Indonesia tetap membutuhkan sejumlah syarat, seperti ketersediaan sampah, kesiapan investasi, serta penerimaan masyarakat. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat dinilai menjadi kunci keberhasilan.
Berikut keunggulan utama teknologi PLTSa BRIN:
- Mengolah sampah domestik dengan teknologi dalam negeri
- Berbasis riset nasional yang bisa disesuaikan dengan kondisi daerah
- Adaptif terhadap karakteristik sampah Indonesia yang belum terpilah
- Efisiensi tinggi melalui proses pra-perlakuan sampah
- Pengendalian emisi dan residu untuk menjaga kualitas lingkungan
- Dapat dikembangkan ke skala lebih besar sesuai volume sampah daerah
PLTSa ini diproyeksikan menjadi bagian penting dalam sistem pengelolaan sampah nasional. Selain mengurangi ketergantungan pada tempat pembuangan akhir, teknologi ini juga diharapkan mendukung transisi energi bersih dan ekonomi sirkular di Indonesia.







