Proses Evaluasi Bobibos oleh Ditjen Migas
Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral terus memproses evaluasi terhadap bahan bakar alternatif Bobibos yang dikembangkan oleh PT Inti Sinergi Formula. Produk ini kini memasuki tahap uji kelayakan sebelum dapat dipasarkan secara luas di Indonesia.
Direktur Teknik dan Lingkungan Migas, Noor Arifin Muhammad, menyatakan bahwa Ditjen Migas telah memanggil pihak produsen untuk mematangkan rencana pengujian laboratorium serta memastikan standar dan klasifikasi produk. Pemanggilan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan awal pada 14 April lalu, yang bertujuan untuk mematangkan rencana pengujian laboratorium serta memastikan standardisasi dan klasifikasi produk sebelum dipasarkan atau digunakan secara luas.
Dalam proses tersebut, Ditjen Migas meminta Bobibos untuk menjalani serangkaian pengujian guna menentukan kategori produknya, apakah termasuk bahan bakar nabati (BBN) atau bahan bakar minyak (BBM). Seluruh pengujian teknis akan dilakukan oleh Lemigas sesuai prosedur yang berlaku. “Kami minta Bobibos proaktif menindaklanjuti langkah-langkah teknis ini agar prosesnya akuntabel,” kata Noor.
Tahapan awal pengujian dilakukan melalui pengambilan sampel bahan bakar di tangki penyimpanan menggunakan standar internasional ASTM D4057. Hasil uji ini akan menjadi dasar penilaian kelayakan produk sebelum dipasarkan ke masyarakat.
Sementara itu, PT Inti Sinergi Formula menyatakan siap mengikuti seluruh proses pengujian sesuai ketentuan. Sebelumnya, perusahaan telah melakukan identifikasi internal, namun ditemukan spesifikasi produk Bobibos belum memenuhi sejumlah parameter standar, baik untuk kategori BBN maupun BBM.
Apa Itu Bobibos?
Bobibos merupakan bahan bakar alternatif berbasis nabati yang dikembangkan oleh PT Inti Sinergi Formula. Nama Bobibos merupakan akronim dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos!
Produk ini memanfaatkan limbah jerami padi sebagai bahan baku utama dan dikembangkan di Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Bahan bakar ini mulai dikenal publik sejak akhir 2025 setelah viral karena diklaim memiliki nilai oktan atau RON hingga 98, setara dengan BBM berkualitas tinggi. Inovasi ini digagas oleh Chief Executive Officer PT Inti Sinergi Formula, Ikhlas Thamrin, yang menyebut pengembangan Bobibos berangkat dari pemanfaatan sumber daya lokal.
Ikhlas mengatakan ide pengembangan bahan bakar ini telah dirintis sejak sekitar satu dekade lalu, dan semakin dipercepat di tengah isu kelangkaan serta tingginya harga BBM di Indonesia. Dari hasil riset yang dilakukan sejak 2014, ia melihat potensi besar limbah pertanian untuk diolah menjadi energi ramah lingkungan.
“Padi merupakan komoditas pangan yang sangat dibutuhkan. Sisanya, yakni jerami, bisa kami pakai untuk bahan baku Bobibos,” ujarnya.
Seluruh proses riset dan pengembangan dilakukan di dalam negeri. Hingga kini, produksi Bobibos masih dalam tahap terbatas sambil menunggu izin produksi massal dari pemerintah. Perusahaan telah memproduksi sekitar 3.000 liter yang diluncurkan pada November 2025, dengan uji coba penggunaan yang masih difokuskan untuk kebutuhan industri di sekitar wilayah Jonggol.







