Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Populer Sulut: Penimbunan BBM di Tombatu dan Surat Terbuka Bupati Sitaro

    13 Mei 2026

    Apakah Kaku Saat Bangun Tidur Wajar Bagi Ibu Hamil?

    13 Mei 2026

    Santriwati Akui Jadi Korban Ashari, Diperintah Temani Tidur dengan Dalih Obati Penyakit Hati

    13 Mei 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Rabu, 13 Mei 2026
    Trending
    • Populer Sulut: Penimbunan BBM di Tombatu dan Surat Terbuka Bupati Sitaro
    • Apakah Kaku Saat Bangun Tidur Wajar Bagi Ibu Hamil?
    • Santriwati Akui Jadi Korban Ashari, Diperintah Temani Tidur dengan Dalih Obati Penyakit Hati
    • Kronologi Pria Mojokerto Bunuh Mertua dananiaya Istri, Panik hingga Ditolak Berhubungan Badan
    • Kumpulan Soal IPA dan Sosial Kelas 6 SD Tahun 2026 dengan Jawaban Terbaru
    • Mengenali Tanda Penyakit Jantung Bawaan pada Anak dan Hubungannya dengan Kesehatan Gigi
    • Djaka Budhi Disebut dalam Dakwaan John Field
    • Kronologi Pembunuhan Mertua oleh Badut Mojokerto yang Berawal dari Paket COD
    • Tiga Berita Terpopuler Padang: Aksi Peduli Karim, Standar Hewan Kurban, dan Pencuri Diamankan Warga
    • Ramalan zodiak Cancer hari Jumat, 8 Mei 2026: Karier meningkat, hubungan semakin hangat, rezeki tiba perlahan
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Kesehatan»Mengenali Tanda Penyakit Jantung Bawaan pada Anak dan Hubungannya dengan Kesehatan Gigi

    Mengenali Tanda Penyakit Jantung Bawaan pada Anak dan Hubungannya dengan Kesehatan Gigi

    adm_imradm_imr13 Mei 20261 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Memahami Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pada Anak

    Kesehatan jantung anak menjadi prioritas utama bagi para orang tua sejak masa kehamilan hingga setelah kelahiran. Salah satu kondisi yang perlu dipahami dengan baik adalah Penyakit Jantung Bawaan (PJB), yaitu kelainan struktur dan sirkulasi jantung yang sudah ada sejak lahir. PJB memerlukan pemahaman mendalam agar penanganannya dapat dilakukan secara cepat dan tepat.

    Pada acara yang digelar oleh Rumah Sakit Pondok Indah di Jakarta Pusat, dr. Yovi Kurniawati, Sp. J. P. Subsp. K. Ped. P. J. B. (K), seorang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, membagikan wawasan penting mengenai bagaimana orangtua bisa mendeteksi hingga mencegah PJB pada anak.

    Definisi dan Struktur Kelainan Jantung pada Janin



    Penyakit Jantung Bawaan (PJB) merupakan kelainan struktur dan sirkulasi jantung yang sudah ada sejak lahir. “Bukan didapat dari lahir, tapi sudah ada saat pembentukan jantung ketika masih di rahim, bentuk fetus,” jelas dr. Yovi.

    Jantung memiliki struktur kompleks yang terdiri dari empat ruang, tujuh pembuluh darah, dua sekat, dan empat katup jantung. PJB dapat terjadi pada seluruh bagian tersebut, baik berupa lubang tunggal pada sekat maupun kelainan yang lebih kompleks pada pembuluh darah besar.

    Berdasarkan data internasional, PJB ditemukan pada 8 hingga 10 dari 1000 kelahiran hidup. Di Indonesia, angka kejadiannya mencapai 43.200 kasus per tahun atau sekitar 1 persen dari total kelahiran.

    Gejala PJB Tipe Sianotik dan Asianotik



    Gejala PJB secara umum terbagi menjadi dua kategori utama, yakni tipe sianotik atau biru dan tipe asianotik atau tidak biru.

    Pada tipe sianotik, perubahan warna menjadi kebiruan terlihat jelas pada area mulut, lidah, serta ujung jari tangan dan kaki bayi. Gejala ini dapat muncul segera setelah lahir atau berkembang seiring bertambahnya usia saat aktivitas fisik si Kecil meningkat.

    Sebaliknya, tipe asianotik sering kali tidak menunjukkan gejala fisik yang nyata, namun dapat dideteksi melalui pola menyusu bayi. Salah satu indikator utama yang harus diperhatikan orangtua adalah kelelahan saat bayi mengisap ASI.

    “Bayi tidak mampu mengisap susu dengan baik karena malah jadi kelelahan, nafas memburu, berkeringat dan akhirnya saat menghisap suka berhenti,” jelas dr. Yovi.

    Selain gangguan menyusu, baik tipe sianotik dan asianotik, gejala lain yang sering menyertai adalah sulitnya kenaikan berat badan atau gangguan tumbuh kembang karena tubuh menggunakan energi berlebih untuk kompensasi kerja jantung.

    Faktor Risiko Multifaktorial Selama Masa Kehamilan



    Penyebab terjadinya kelainan jantung pada bayi bersifat multifaktorial, yang berarti melibatkan berbagai kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Hingga saat ini, belum ditemukan satu penyebab tunggal yang dapat dipastikan, namun terdapat beberapa faktor risiko yang secara signifikan meningkatkan potensi PJB.

    Di antaranya adalah kelainan kromosom seperti Down Syndrome yang seringkali disertai dengan kelainan struktur jantung tertentu. Selain faktor genetik, kondisi kesehatan ibu selama masa kehamilan memegang peranan penting.

    Infeksi virus, contohnya Rubella pada kehamilan sangat berkaitan dengan risiko kecacatan jantung janin. Paparan lingkungan seperti asap rokok dan konsumsi alkohol juga menjadi faktor pemicu yang dapat meningkatkan risiko PJB secara drastis.

    Penyakit metabolik pada ibu, seperti Diabetes Melitus (DM), juga memerlukan pengawasan ketat karena dapat memengaruhi proses pembentukan ruang jantung janin.

    Jenis Kelainan PJB



    Terdapat tiga jenis PJB yang paling sering ditemukan dalam praktik medis, yaitu ASD, VSD, dan PDA.

    Atrial Septal Defect (ASD) atau Defek Septum Atrium adalah kebocoran pada sekat yang memisahkan serambi kanan dan kiri, sementara Ventricular Septal Defect (VSD) atau Defek Septum Ventrikel terjadi pada sekat antara bilik kanan dan kiri. Lokasi kebocoran VSD dapat bervariasi, mulai dari bagian perimembranous hingga bagian otot jantung.

    Jenis ketiga adalah Patent Ductus Arteriosus (PDA) atau Duktus Arteriosus Persisten, yaitu kondisi di mana pembuluh darah yang menghubungkan aorta dan paru-paru tetap terbuka setelah bayi lahir, padahal seharusnya menutup secara alami.

    Metode Deteksi Dini Melalui Skrining Lima Jari



    Proses identifikasi PJB pada si Kecil dapat dilakukan melalui pendekatan sistematis yang dikenal dengan metode lima jari. Metode ini meliputi pengecekan riwayat pasien secara mendalam, pemeriksaan fisik melalui teknik lihat, raba, dan dengar, rekam jantung atau EKG, foto polos dada, serta USG jantung dan pemeriksaan laboratorium.

    Deteksi ini bahkan sudah bisa dimulai sejak masa kehamilan melalui ekokardiografi janin untuk melihat kecurigaan kelainan struktur jantung. “Paling cepat minggu ke 20 kehamilan ibu,” papar dr. Yovi.

    Deteksi dini sejak di dalam rahim sangat krusial bagi kasus PJB kritis agar tim medis dapat melakukan persiapan penanganan segera setelah bayi lahir. Selain itu, terdapat program nasional dari IDAI berupa skrining oksimetri pada bayi baru lahir yang diperiksa melalui kaki dan tangan kanan untuk mendeteksi PJB kritis.

    Risiko Komplikasi Akibat Penanganan yang Terlambat



    Penanganan PJB sangat bergantung pada jenis kelainan yang dialami dan waktu penutupan lubang yang tepat. Untuk kasus PJB biru, penanganan medis harus segera dilakukan ketika si Kecil berusia 1 bulan, sementara untuk kasus PJB tidak biru, pemantauan masih dapat dilakukan hingga si Kecil berusia 3-4 tahun selama kondisi hemodinamik si Kecil tetap stabil.

    Jika lubang atau kelainan struktur tidak ditutup sesuai dengan waktu yang disarankan, hal tersebut akan memicu berbagai komplikasi serius bagi kesehatan si Kecil. Salah satu dampak yang paling dikhawatirkan adalah gagal jantung dan hipertensi paru akibat peningkatan tekanan jantung yang terus-menerus.

    Hubungan Kesehatan Gigi dan Gejala Batuk Berulang dengan PJB



    Kaitan antara gigi berlubang dengan infeksi jantung pada pasien PJB terjadi karena adanya aliran darah yang tidak normal akibat kebocoran sekat. Aliran darah yang melewati lubang tersebut akan menyebabkan trauma pada dinding jantung, menjadikannya tempat yang sangat rentan terhadap infeksi atau disebut sebagai lokus minoris.

    Bakteri dari pembuluh darah di gigi yang terinfeksi dapat menyebar ke jantung dan menempel pada area yang mengalami trauma tersebut hingga membentuk vegetasi. Vegetasi merupakan bongkahan benda asing berisi kuman dan sel darah yang berbahaya karena jika lepas, dapat terbawa aliran darah menuju otak atau kaki dan menyebabkan komplikasi serius yang memerlukan tindakan operasi besar.

    Di sisi lain, orangtua sering kali mengeluhkan anak dengan PJB mengalami batuk dan demam yang sering berulang atau pneumonia. Hal ini terjadi karena aliran darah dari jantung bagian kiri mengalir ke bagian kanan, yang kemudian diteruskan ke paru-paru dalam jumlah berlebih. Kondisi yang disebut sebagai lung overflow ini membuat paru-paru si Kecil menjadi sangat rentan terhadap infeksi saluran pernapasan berulang.

    Pemantauan rutin dan menjaga kebersihan seluruh anggota tubuh menjadi kunci utama dalam meminimalisir komplikasi jangka panjang pada anak dengan PJB.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Apakah Kaku Saat Bangun Tidur Wajar Bagi Ibu Hamil?

    By adm_imr13 Mei 20261 Views

    Ramalan zodiak Cancer hari Jumat, 8 Mei 2026: Karier meningkat, hubungan semakin hangat, rezeki tiba perlahan

    By adm_imr13 Mei 20261 Views

    Mengapa Kekebalan Tubuh Menurun Saat Haji?

    By adm_imr13 Mei 20262 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Populer Sulut: Penimbunan BBM di Tombatu dan Surat Terbuka Bupati Sitaro

    13 Mei 2026

    Apakah Kaku Saat Bangun Tidur Wajar Bagi Ibu Hamil?

    13 Mei 2026

    Santriwati Akui Jadi Korban Ashari, Diperintah Temani Tidur dengan Dalih Obati Penyakit Hati

    13 Mei 2026

    Kronologi Pria Mojokerto Bunuh Mertua dananiaya Istri, Panik hingga Ditolak Berhubungan Badan

    13 Mei 2026
    Berita Populer

    HUT ke-112 Kota Malang Jadi Momentum Evaluasi, Wali Kota Tekankan Penyelesaian Masalah Prioritas

    Kota Malang 1 April 2026

    Kota Malang- Wahyu Hidayat menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang bukan…

    Kasus Perzinaan Oknum ASN Kota Batu Berujung Penjara, Vonis Diperberat di Tingkat Banding

    29 April 2026

    Banyak Layani Luar Daerah, Dinkes Kabupaten Malang Ubah UPT Kalibrasi Jadi BLUD

    27 Maret 2026

    Kejagung Sita Aset Kasus Ekspor CPO di Kota Malang, Tanah 157 Meter Persegi Dipasangi Plang

    2 Mei 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?