Tantangan dan Peluang Industri Peralatan Listrik Nasional
Industri peralatan listrik nasional menghadapi berbagai tantangan, termasuk kebijakan tarif impor sebesar 19% ke Amerika Serikat. Namun, Asosiasi Produsen Peralatan Listrik Indonesia (APPI) tetap optimis bahwa industri ini masih mampu mencatatkan pertumbuhan signifikan pada tahun ini. Hal ini didorong oleh beberapa faktor yang memengaruhi persaingan global dan permintaan domestik.
Kondisi Persaingan Global yang Seimbang
Ketua Umum APPI Yohanes Purnawan Widjaja menyatakan bahwa kebijakan tarif impor ke AS tidak menjadi hambatan utama bagi produk peralatan listrik Indonesia untuk tetap kompetitif di pasar internasional. Tarif tersebut, menurutnya, dikenakan juga kepada negara lain, sehingga produk Indonesia tetap dapat bersaing dengan negara produsen lain seperti Vietnam, Thailand, dan negara Asia lainnya.
Potensi Pasar Amerika Serikat
Amerika Serikat menjadi salah satu pasar potensial untuk produk alat listrik Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor produk peralatan listrik (kode HS 85) dari Indonesia ke Amerika Serikat mencapai US$4,18 miliar pada 2024, naik dari tahun sebelumnya yang tercatat sebesar US$3,45 miliar. Dalam beberapa tahun terakhir, pelaku usaha peralatan listrik mendapat kesempatan ekspor ke AS serta beberapa negara lainnya untuk berbagai produk seperti Transformator Tenaga, Transformator Distribusi, Panel Listrik Tegangan Menengah, Panel Listrik Tegangan Rendah, dan Meter Listrik (kWh Meter).
Prospek Domestik yang Cerah
Dari sisi domestik, prospek industri peralatan listrik pada tahun ini dinilai cukup cerah. Hal ini didasarkan pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034 yang telah diterbitkan pemerintah. Dalam dokumen tersebut, PLN diproyeksikan menambah sekitar 3 juta pelanggan baru setiap tahun, disertai pembangunan jaringan transmisi dan gardu induk dalam skala besar yang membutuhkan pasokan peralatan listrik secara berkelanjutan.
Selain proyek PLN, APPI juga melihat peluang besar dari rencana pemerintah meluncurkan berbagai proyek hilirisasi, termasuk yang dikelola melalui Danantara. Proyek-proyek ini dipastikan membutuhkan pasokan energi listrik dalam jumlah besar. Selain itu, saat ini banyak investor asing yang masuk ke Indonesia untuk membangun Data Center yang juga akan membutuhkan tenaga listrik yang sangat besar.
Target Pertumbuhan yang Ambisius
Dengan berbagai peluang tersebut, APPI menargetkan pertumbuhan industri peralatan listrik dapat melampaui target pertumbuhan ekonomi nasional yang dipatok sebesar 5,4% pada 2026. Yohanes menyebut, industri peralatan listrik menargetkan pertumbuhan minimal 20% tahun ini. Namun, ia menekankan pentingnya dukungan pembiayaan, khususnya terkait ketersediaan modal dengan bunga pinjaman yang lebih terjangkau.
“Kami menargetkan bisa tumbuh minimal 20% sehingga yang kami sangat butuhkan adalah ketersediaan modal dengan biaya bunga pinjaman yang murah karena saat ini biaya bunga bank masih terlalu tinggi untuk kami,” pungkasnya.







