Keterlibatan Juri dalam Kontroversi LCC Empat Pilar MPR RI
Media sosial kini tengah dihebohkan oleh dugaan ketidakadilan dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI. Insiden ini terjadi saat ajang tersebut berlangsung di tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Dalam babak final, tiga tim bersaing, yaitu SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Sanggau.
Pertanyaan yang muncul berkaitan dengan mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). SMAN 1 Pontianak, yang berada di regu C, menjawab dengan benar bahwa anggota BPK dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD sebelum dilantik oleh presiden. Namun juri menilai jawaban tersebut salah. Regu B kemudian mencoba menjawab pertanyaan itu, dan juri menyatakan jawaban regu B benar, padahal sama persis dengan jawaban regu C. Regu C sempat melayangkan protes, tetapi juri tidak menghiraukannya. Hal ini menimbulkan kontroversi besar.
Sosok juri pun menjadi sorotan. Salah satu juri bernama Dyastasita WB memberikan nilai minus lima kepada siswi dari SMAN 1 Pontianak, Josepha Alexandra, karena dianggap menjawab salah. Namun, beberapa saat kemudian, siswi dari regu B menjawab dengan jawaban yang sama persis dan mendapatkan poin tinggi. Ocha, siswi dari SMAN 1 Pontianak, protes karena merasa jawabannya benar, tetapi juri tidak menerima.
Dyastasita merespons dengan menyatakan bahwa ia tidak mendengar Ocha menyebutkan DPD dalam jawabannya. Ocha mencoba membela diri dengan mengulang jawabannya, tetapi juri tetap mempertahankan keputusannya. Ocha akhirnya disindir oleh Indri Wahyuni, yang menyinggung soal artikulasi Ocha yang kurang jelas saat memberikan jawaban.
Reaksi Publik Terhadap Peristiwa Ini
Insiden ini membuat lomba cerdas cermat MPR viral se-Indonesia. Netizen merasa kecewa dengan dewan juri yang seolah anti kritik. Banyak orang menduga bahwa Ocha dicurangi dalam ajang tersebut. Ocha sendiri mengungkapkan responsnya melalui media sosial. Ia mengatakan bahwa ini bukan pertama kalinya ia ikut lomba cerdas cermat MPR. Di tahun 2025 lalu, Ocha berhasil menyabet juara 1 bersama teman-temannya.
Ocha juga menulis di akun Instagram-nya: “Lucu ya, ga sengaja nonton ulang kejadian yang mengungkap ‘perasaan’ siapa yang sebenarnya salah… C2 izin muncul ke permukaan.”
Penilaian Juri dan Proses Pengambilan Keputusan
Selain Dyastasita, ada juri lain yang turut menilai jawaban peserta. Dalam video yang beredar, MC membacakan soal tentang pemilihan anggota BPK. Ocha langsung memencet bel dan menjawab dengan percaya diri. Jawaban yang ia berikan adalah:
“Anggota-anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh presiden.”
Juri Dyastasita memberikan nilai minus lima karena dianggap salah. Namun, saat siswi dari regu B menjawab dengan jawaban yang sama, juri memberikan nilai 10. Ocha kemudian protes, tetapi juri tidak meralat keputusannya.
Tanggapan dari Juri dan Pengamat
Indri Wahyuni, salah satu juri, menegaskan bahwa artikulasi sangat penting dalam lomba seperti ini. Ia menyatakan bahwa jika jawaban tidak terdengar jelas, dewan juri berhak memberikan nilai minus. Meski begitu, banyak orang merasa bahwa penilaian juri tidak adil, terutama karena jawaban yang sama diberi nilai berbeda.
Kontroversi ini juga menimbulkan perdebatan tentang objektivitas dewan juri dalam lomba seperti ini. Banyak pengamat menyatakan bahwa proses penilaian harus lebih transparan dan adil agar tidak menimbulkan kesan curang.







