Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    5 Fakta Mahasiswi Nunukan Dirudapaksa di Rumah Mewah Makassar, Lompat Jendela dengan Tangan Terikat

    18 Mei 2026

    Sunarsi Khoris, Ketua DPRD Jember yang Kecewa Anggotanya Main Game Saat Rapat

    18 Mei 2026

    Saham dan Rupiah Volatil, Waktunya Investor Perbarui Portofolio

    18 Mei 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Senin, 18 Mei 2026
    Trending
    • 5 Fakta Mahasiswi Nunukan Dirudapaksa di Rumah Mewah Makassar, Lompat Jendela dengan Tangan Terikat
    • Sunarsi Khoris, Ketua DPRD Jember yang Kecewa Anggotanya Main Game Saat Rapat
    • Saham dan Rupiah Volatil, Waktunya Investor Perbarui Portofolio
    • Terpopuler: Ibu Marah Bawa Sound Ingin Duet dengan Afgan hingga Penipuan Jaksa Palsu
    • Naskah Khutbah Jumat 15 Mei 2026: Jadikan Segala Aktivitas Sebagai Ibadah kepada Allah
    • 16 Masalah Kesehatan Umum pada Bayi di Bawah Satu Tahun
    • 9 Resep Jus Buah untuk Kesehatan Janin Selama Kehamilan
    • Pelatihan Kurikulum Cinta Angkatan 2 Kemenag 2026: Jadwal dan Materi
    • 10 Taman Air di Banten untuk Liburan Akhir Pekan, Tiket Mulai Rp10 Ribu
    • Nobar Pesta Babi Dibubarkan, Dandhy Laksono Merasa Terhormat
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Ekonomi»Saham dan Rupiah Volatil, Waktunya Investor Perbarui Portofolio

    Saham dan Rupiah Volatil, Waktunya Investor Perbarui Portofolio

    adm_imradm_imr18 Mei 20260 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Kondisi Pasar yang Menantang dan Strategi Investasi yang Tepat

    Pasar keuangan saat ini sedang menghadapi tekanan yang signifikan, baik dari sisi saham maupun nilai tukar rupiah. Hal ini memaksa para investor untuk lebih berpikir kritis dalam menyesuaikan portofolio investasinya atau mencari alternatif instrumen yang lebih aman.

    Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mengalami penurunan sebesar 23,15% secara year to date (ytd) hingga level 6.723,32 pada Rabu (13/5). Penurunan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan internal, termasuk pengumuman rebalancing dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan FTSE Russel. Selain itu, kurs rupiah di pasar spot juga terus melemah. Pada Jumat (15/5), rupiah mencapai level Rp 17.596 per dolar Amerika Serikat (AS).

    Genta Wira Anjalu, Chief Investment Officer Sinarmas Asset Management, menyatakan bahwa koreksi IHSG dan pelemahan rupiah mencerminkan meningkatnya risk aversion global maupun domestik. Namun, dalam situasi seperti ini, disiplin alokasi aset menjadi lebih penting daripada upaya menebak titik terendah pasar.

    Menurut Genta, saham masih relevan sebagai bagian dari portofolio, terutama bagi investor dengan horizon jangka menengah-panjang. Secara historis, fase koreksi sering kali membuka valuasi yang lebih menarik, terutama pada emiten dengan fundamental kuat, arus kas sehat, dan kemampuan menjaga margin di tengah tekanan ekonomi.

    Namun, situasi saat ini berbeda karena adanya volatilitas nilai tukar dan ketidakpastian arah suku bunga acuan global. “Oleh karena itu, pendekatan investasi sekarang harus berbasis diversifikasi dan resilience,” ujar dia.

    Dalam kondisi seperti ini, beberapa instrumen alternatif dapat menjadi pilihan. Misalnya, obligasi korporasi berkualitas dengan yield yang kompetitif, instrumen pasar uang dan deposito untuk investor yang mengutamakan likuiditas dan pelestarian modal, serta emas yang secara historis berfungsi sebagai aset safe haven ketika volatilitas global tinggi.

    Untuk investor tertentu, aset berbasis dolar AS atau instrumen yang memiliki natural hedge terhadap pelemahan rupiah juga mulai diperhatikan. Strategi ideal saat ini bukanlah bersikap terlalu defensif atau agresif, melainkan menjaga keseimbangan antara memanfaatkan peluang dan memperkuat kemampuan bertahan.

    Genta merekomendasikan komposisi aset sebagai berikut:
    * Investor agresif: saham 60%–75%, obligasi 15%–25%, sisanya pasar uang dan emas.
    * Investor moderat: saham 40%–50%, obligasi 30%–40%, sisanya pasar uang atau aset defensif.
    * Investor konservatif: saham 10%–25%, obligasi dan pasar uang 50%–70%, sisanya instrumen lindung nilai seperti emas jika diperlukan.

    Direktur Panin Asset Management Rudiyanto menambahkan bahwa diversifikasi portofolio sangat penting untuk menghindari risiko kerugian pada seluruh instrumen secara bersamaan. Diversifikasi bisa dilakukan melalui reksadana saham, pendapatan tetap, pasar uang, atau reksadana berbasis dolar AS.

    Rudiyanto menyarankan bagi investor agresif, 50%–70% portofolionya bisa dialokasikan untuk instrumen berbasis saham. Investor agresif sebaiknya tidak hanya terpaku pada saham Indonesia, tetapi juga saham di pasar modal AS, baik melalui pembelian efek langsung maupun reksadana.

    Di sisi lain, kondisi pasar yang rentan terhadap volatilitas membuat upaya menentukan harga terendah suatu instrumen seperti saham relatif sulit dilakukan. “Jadi idealnya dilakukan pembelian secara berkala, bukan menunggu waktu turun,” kata dia.

    Budi Frensidy, Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI), menegaskan agar investor tidak otomatis meninggalkan saham, tetapi fokus pada diversifikasi dan aset defensif. Menurutnya, saham masih menarik, terutama untuk sektor yang diuntungkan oleh pelemahan rupiah atau berorientasi ekspor.

    “Namun, porsi lindung nilai perlu ditambah seperti emas, valas dolar AS, obligasi pemerintah tenor pendek-menengah, atau reksadana pasar uang,” tutur Budi.

    Menurutnya, reksadana pasar uang memiliki potensi imbal hasil realistis sekitar 4%–6% per tahun, sedangkan surat berharga negara (SBN) sekitar 6%–8%. Potensi imbal hasil emas bakal bergantung pada siklus tetapi tetap kuat sebagai aset safe haven, sedangkan saham tetap punya potensi upside lebih tinggi walau volatilitasnya besar.

    Bagi investor agresif, mereka dapat menempatkan aset saham dengan porsi 50%–60% sedangkan sisanya berupa obligasi, emas, atau kas. Untuk investor moderat, porsi saham idealnya berada di kisaran 30%–40%, sisanya berupa aset pendapatan tetap dan defensif. Sedangkan bagi investor konservatif, porsi saham cukup di level 10%–20%, sisanya dapat memperbanyak aset SBN, pasar uang, deposito, dan emas.

    Melvin Mumpuni, Financial Planner sekaligus CEO and Founder Finansialku, merekomendasikan agar investor agresif menempatkan 50% portofolionya berupa saham berbasis valuasi dan dividen. Setelah itu, obligasi atau aset pendapatan tetap sebesar 30% dan pasar uang, deposito, emas, dan setara kas sebesar 20%.

    Untuk investor moderat, mereka disarankan menempatkan aset berupa saham dengan porsi 30%, lalu obligasi atau aset pendapatan tetap 50%, dan sisanya 20% berupa pasar uang, deposito, emas, dan setara kas.

    Adapun bagi investor konservatif, mereka dapat mengalokasikan 30% portofolionya untuk saham berbasis valuasi dan dividen, kemudian 50% berupa obligasi atau aset pendapatan tetap, dan 20% berupa pasar uang, deposito, emas, dan setara kas.

    Melvin menekankan bahwa investor harus hati-hati, objektif, dan penuh perhitungan dalam melakukan rebalancing portofolio di tengah kondisi pasar yang bergejolak. Langkah seperti pengecekan kembali imbal hasil dan risiko dalam portofolio terkini dan portofolio rebalancing patut dilakukan oleh investor.

    “Tujuannya adalah membangun portofolio investasi yang sesuai dengan tujuan keuangan atau investasi,” tandas dia.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Tips memulai bisnis event organizer untuk hasil maksimal

    By adm_imr18 Mei 20261 Views

    Dinamika Ekonomi Global, Reksa Dana Jadi Pilihan Investor

    By adm_imr17 Mei 20262 Views

    Apa Itu Free Float Saham? Pengertian, Dampak, dan Rumusnya

    By adm_imr17 Mei 20261 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    5 Fakta Mahasiswi Nunukan Dirudapaksa di Rumah Mewah Makassar, Lompat Jendela dengan Tangan Terikat

    18 Mei 2026

    Sunarsi Khoris, Ketua DPRD Jember yang Kecewa Anggotanya Main Game Saat Rapat

    18 Mei 2026

    Saham dan Rupiah Volatil, Waktunya Investor Perbarui Portofolio

    18 Mei 2026

    Terpopuler: Ibu Marah Bawa Sound Ingin Duet dengan Afgan hingga Penipuan Jaksa Palsu

    18 Mei 2026
    Berita Populer

    HUT ke-112 Kota Malang Jadi Momentum Evaluasi, Wali Kota Tekankan Penyelesaian Masalah Prioritas

    Kota Malang 1 April 2026

    Kota Malang- Wahyu Hidayat menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang bukan…

    Kasus Perzinaan Oknum ASN Kota Batu Berujung Penjara, Vonis Diperberat di Tingkat Banding

    29 April 2026

    Banyak Layani Luar Daerah, Dinkes Kabupaten Malang Ubah UPT Kalibrasi Jadi BLUD

    27 Maret 2026

    Kejagung Sita Aset Kasus Ekspor CPO di Kota Malang, Tanah 157 Meter Persegi Dipasangi Plang

    2 Mei 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?