Film Dokumenter Pesta Babi Mencuri Perhatian Publik
Film dokumenter Pesta Babi yang digarap oleh Watchdoc resmi tayang di YouTube dan langsung mendapat sambutan hangat dari publik. Dalam waktu singkat, jumlah penonton film ini telah melebihi 1,5 juta kali. Film ini mengangkat isu-isu penting seperti perampasan tanah adat, proyek strategis nasional, serta dugaan militerisasi di Papua yang memicu perlawanan masyarakat adat.
Film ini dirilis melalui kanal Jubi TV pada Jumat (22/5/2026). Peluncuran dilakukan secara simbolis oleh masyarakat adat Yei, Vincen Kwipalo, yang juga menjadi salah satu narasumber dalam film tersebut. Acara peluncuran berlangsung di Aula Gereja Katolik Kristus Terang Dunia, Jayapura, Papua.
Menurut pantauan pada Sabtu (23/5/2026) pukul 09.23 Wita, jumlah penonton film Pesta Babi telah mencapai 1.524.342 views. Hal ini menunjukkan antusiasme besar dari masyarakat terhadap film yang menyajikan isu-isu penting tentang Papua.
Perwakilan Jubi Media, Yuliana Lantipo, menjelaskan bahwa tujuan publikasi film di platform digital adalah untuk memperluas akses masyarakat terhadap isu-isu yang dihadapi masyarakat adat Papua. Ia menambahkan bahwa film ini pertama kali diputar di rumahnya di Papua pada awal Maret lalu, sebelum akhirnya menyebar ke berbagai daerah.
Film Pesta Babi digarap oleh Dandhy Dwi Laksono bersama Cypri Jehan Paju Dale dengan pendekatan etnografi dan akademik. Produksinya melibatkan sejumlah lembaga dan organisasi, seperti Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Greenpeace Indonesia, Jubi Media, Pusaka Bentala Rakyat, hingga LBH Papua Merauke.
Film ini menyoroti perubahan besar yang terjadi di wilayah selatan Papua akibat proyek pangan dan energi nasional yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Dalam film disebutkan sekitar 2,5 juta hektare hutan dan tanah adat dibuka untuk pengembangan proyek bioetanol serta biodiesel sawit.
Dokumenter itu juga memperlihatkan perjuangan masyarakat adat dari suku Malind, Yei, Awyu, dan Muyu dalam menghadapi perubahan tersebut. Berbagai bentuk perlawanan mereka ditampilkan, mulai dari jalur hukum, membangun solidaritas bersama kelompok sipil, hingga aksi langsung menggunakan simbol adat seperti pemasangan palang dan salib merah di lokasi proyek.
Tradisi pesta babi yang selama ini menjadi bagian budaya masyarakat Papua juga diangkat sebagai simbol konsolidasi sosial dan bentuk perlawanan masyarakat adat.
Tingginya perhatian publik terhadap film ini sebelumnya terlihat dari rangkaian nonton bareng yang dimulai sejak 12 April 2026. Tim produksi mencatat sekitar 15 ribu orang mendaftar dalam agenda nobar yang berlangsung di berbagai daerah di Indonesia hingga luar negeri.
Direktur Ekspedisi Indonesia Baru, Susi Haryanti, menilai antusiasme tersebut menunjukkan masih adanya ruang diskusi publik terkait situasi di Papua. Ia memberikan apresiasi kepada masyarakat, komunitas, mahasiswa, dan berbagai kolektif yang tetap berkumpul untuk nobar dan mendiskusikan situasi di Papua secara kritis.
Di tengah tingginya minat masyarakat, tim dokumenter juga mengungkap adanya penghalangan pemutaran film di sejumlah lokasi. Sedikitnya 52 titik nobar disebut mengalami intimidasi, tekanan, hingga pembubaran. Selain itu, pembajakan film juga disebut marak terjadi. Tim kolaborator menemukan lebih dari 150 akun YouTube mengunggah ulang film tersebut tanpa izin resmi.
Salah satu narasumber dalam film, Vincen Kwipalo, menyebut dukungan masyarakat membuat perjuangan masyarakat adat Papua semakin kuat. Ia menyatakan komitmennya untuk terus berjuang hingga titik darah penghabisan.
Direktur LBH Papua Merauke, Teddy Wakum, berharap perhatian publik terhadap film tersebut dapat memperkuat solidaritas untuk masyarakat adat Papua yang tengah memperjuangkan hak atas tanah mereka.
Sementara itu, Cypri Paju Dale berharap Pesta Babi tak hanya menjadi tontonan semata, tetapi juga membuka ruang refleksi mengenai kondisi Papua saat ini. Ia menyatakan bahwa film ini bukan hanya cerita untuk diketahui, tetapi meminta tanggapan dan jawaban.







