Ketergantungan Teknologi Digital Indonesia pada China: Tantangan dan Peluang
Penetrasi teknologi digital China ke sektor industri dan pemerintahan di Indonesia terjadi secara masif. China tidak hanya menjadi pemasok infrastruktur teknologi digital, tetapi juga menguasai kepemilikan infrastruktur, dominasi aplikasi, hingga investasi strategis. Dengan pasar utama di Asia Tenggara, realisasi investasi China di sektor teknologi dan hilirisasi di Indonesia mencapai 2,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp38 triliun pada kuartal I 2026, meningkat 22 persen secara tahunan.
Perusahaan raksasa teknologi China seperti Hisense telah menandatangani kesepakatan kerja sama strategis (MoU) dengan Badan Pengelola Investasi Danantara untuk membangun ekosistem digital nasional dan infrastruktur pusat data (data center). Selain itu, perusahaan China juga menyepakati 16 proyek baru di bidang riset dan AI senilai 2,19 miliar dolar AS di Indonesia. Investor China juga mendominasi bisnis e-commerce dan penetrasi masif perusahaan teknologi keuangan di industri fintech Indonesia.
Tantangan dari Dominasi China dalam Investasi Digital
Menurut Ketua Forum Sinologi Indonesia (FSI) Johanes Herlijanto, pemerintah perlu mewaspadai risiko kerawanan akibat dominasi China dalam investasi digital, terutama ancaman terhadap kedaulatan bangsa Indonesia dalam aspek digital. Pemerintah diminta untuk meningkatkan diversifikasi rantai pasok, menghindari penguasaan infrastruktur vital oleh satu vendor atau negara, serta memanfaatkan diplomasi dengan berbagai negara lain seperti Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Eropa.
Pemerintah juga diharapkan menggunakan otoritasnya untuk memaksa vendor asing tunduk pada yurisdiksi hukum Indonesia, termasuk kepatuhan pada UU Perlindungan Data Pribadi (UU PDP), kewajiban lokalisasi data untuk sektor strategis, serta audit keamanan transparan.
Fenomena China sebagai Aktor Siber
Gatra Priyandita, peneliti dari Australian Strategic Policy Institute, menjelaskan bahwa Pemerintah China memiliki salah satu program siber ofensif paling canggih di dunia. Program ini memiliki skala dan persistensi yang tinggi, serta adanya fusi sipil-militer yang menghapus batas antara negara dan swasta, serta penyelarasan strategis dengan prioritas nasional.
China menawarkan infrastruktur digital, konektivitas, dan pembangunan kapasitas kepada negara-negara berkembang melalui program “Jalur Sutra Digital”. Strategi ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi intelijen strategis, melakukan akuisisi ekonomi dan teknologi, serta mendapatkan akses dan praposisi. Perusahaan teknologi sipil diwajibkan berbagi hasil penelitian dan pengembangan dengan Tentara Pembabasan Rakyat (TPR) Cina, menciptakan jalur langsung dari IP yang dicuri ke aplikasi militer.
Jalur Sutra Digital: Potensi dan Risiko
Jalur Sutra Digital bertujuan memperkuat posisi China sebagai kekuatan teknologi global melalui ekspor infrastruktur digital, standard teknologi, dan model tata kelola digital. Asia Tenggara menjadi target utama, dengan perusahaan China berinvestasi dalam 5G, cloud, pusat data, kabel bawah laut, dan smart city. Meski potensi proyek ini bisa mempercepat transformasi digital kawasan, ia juga mengingatkan bahwa proyek tersebut harus direspons dengan kewaspadaan.
Kekhawatiran Terkait Ketergantungan Teknologi
Ketergantungan teknologi dapat menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan siber dan pengaruh strategis China di Asia Tenggara. Gatra Priyandita menekankan bahwa Pemerintah Indonesia harus segera memperkuat regulasi data, terutama implementasi UU PDP, mendiversifikasi vendor infrastruktur, dan membangun kapasitas siber domestik sebelum ketergantungan ini menjadi terlalu dalam untuk dikelola.
Peran Indonesia dalam Ekspansi Digital China
Profesor Teddy Mantoro menekankan bahwa Indonesia berada di simpul strategis ekspansi digital China. Hal ini karena Indonesia memiliki populasi digital yang besar dan pasar perdagangan elektronik (e-commerce) atau teknologi finansial (fintech) terbesar di antara negara-negara anggota ASEAN. Indonesia juga memiliki kebutuhan konektivitas antarpulau, termasuk dalam hal jaringan 5G, fiber, cloud, pusat data, dan pembangunan “kota cerdas” (smart city).
Persaingan Pengaruh Antara Negara Besar
Persaingan pengaruh antara negara-negara besar seperti Cina dan Amerika Serikat tidak berhenti di perdagangan, tetapi masuk ke cloud, data, kecerdasan buatan (AI), standar, dan arsitektur keamanan. Potensi risiko yang Indonesia hadapi adalah ketergantungan pada satu vendor/negara untuk infrastruktur kritis, kemungkinan data strategis berpindah yuridiksi tanpa kontrol memadai.
Diplomasi untuk Menjaga Otonomi dan Keamanan
Akademisi yang juga menerima gelar doktor dari ANU ini menilai bahwa masuknya investasi teknologi digital China dapat berdampak positif, antara lain mempercepat transformasi digital. Namun manfaat terbesar akan muncul bila Indonesia menegosiasikan transfer kemampuan (knowledge-skill), bukan sekadar impor teknologi.
Pandangan dari Purnawirawan TNI
Brigadir Jenderal TNI (Purn) Victor P. Tobing, M.Si (Han) menyampaikan bahwa penguasaan teknologi sangat bermanfaat bagi satu negara. Negara yang menguasai sumber daya dalam bidang teknologi pasti akan dapat menguasai keadaan dan menjaga kepentingan nasionalnya.
Dia mengajukan beberapa pertanyaan yang patut direnungkan, yaitu apakah Indonesia bersedia untuk melakukan adaptasi teknologi atau tidak. Jika kita sudah mau adaptasi, kita mau agile atau tidak? Dia juga menyatakan bahwa strategi perang Cina tampaknya lebih didasarkan pada strategi perang Sun Tzu, yaitu memenangkan perang tanpa bertarung.
Perspektif tentang Asean Digital Masterplan
Terkait dengan diplomasi digital, Victor mengajak publik untuk memperhatikan Asean Digital Masterplan (ADM) yang telah berlanjut dari ADM 2025 menuju ADM 2030. Jika ADM 2025 berfokus pada pemulihan pasca pandemi Covid-19, maka ADM 2030, menurut Victor, berfokus pada prediksi rivalitas dan kegunaan ganda (yaitu untuk kepentingan sipil sekaligus militer) dari seluruh aktivitas di seluruh negara-negara ASEAN.







