Indonesia Menjadi Pusat Pasokan Pupuk Global
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, telah menyampaikan bahwa pupuk yang dihasilkan oleh Indonesia kini menjadi daya tarik utama di tengah situasi krisis pupuk global. Permintaan dari berbagai negara terhadap pupuk Indonesia meningkat tajam, hal ini disampaikan dalam pidato yang disampaikan saat Rapat Paripurna DPR pekan lalu.
Prabowo menjelaskan bahwa sejumlah negara seperti Australia, Brasil, hingga Filipina meminta bantuan ke Indonesia, terutama dalam bentuk pupuk urea karena produksi Indonesia melampaui kebutuhan dalam negeri. Ia menegaskan bahwa Indonesia kini bisa memberikan bantuan kepada negara-negara yang lebih kaya dari kita.
Kondisi Global yang Mendorong Permintaan Pupuk
Dalam sambutan peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Prabowo mengungkapkan bahwa banyak negara kesulitan dan panik akibat dampak perang di Timur Tengah. Selat Hormuz, jalur penting perdagangan minyak dunia, juga mengalami ancaman gangguan distribusi energi. Hal ini membuat produksi pupuk terpengaruh karena banyak pupuk berasal dari minyak dan gas.
Permintaan pupuk dari Indonesia meningkat, terutama untuk komoditas urea yang sangat dibutuhkan oleh banyak negara untuk menjaga produksi pertanian mereka. Prabowo menekankan bahwa Indonesia tidak euforia atau sombong, tetapi berada di posisi yang bisa memberikan bantuan.
Progres Ekspor Pupuk ke Australia
Salah satu negara yang meminta pasokan pupuk dari Indonesia adalah Australia. Teddy Indra Wijaya, Sekretaris Kabinet, menyampaikan bahwa Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, telah berkomunikasi dengan Presiden Prabowo. Dalam komunikasi tersebut, PM Albanese menyampaikan apresiasi atas langkah Indonesia memulai ekspor pupuk urea ke Australia sebesar 250.000 ton pada tahap awal.
Selain Australia, Indonesia juga sedang memperluas jangkauan pasar ekspor pupuk dengan menjajaki pengiriman ke sejumlah negara lain. Total komitmen ekspor mencapai sekitar 1 juta ton. Ke depan, sebagian pupuk urea akan diekspor ke India, Filipina, Thailand, dan Brasil.
Kebijakan Ekspor yang Terukur
Pemerintah menegaskan bahwa kebijakan ekspor dilakukan secara terukur dengan tetap menjaga keseimbangan pasokan dalam negeri. Saat ini, jumlah produksi urea nasional berada di atas kebutuhan dalam negeri. PT Pupuk Indonesia (Persero) melalui PT Pupuk Kalimantan Timur telah melaksanakan ekspor perdana produk urea ke Australia dalam skema government-to-government (G2G).
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa ekspor perdana 47.250 ton merupakan tahap awal dari komitmen kerja sama sebesar 250.000 ton. Volume ekspor akan terus ditingkatkan hingga mencapai 500.000 ton dengan total nilai mencapai sekitar Rp7 triliun.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menegaskan bahwa pengiriman urea ke Australia memiliki makna lebih besar daripada sekadar aktivitas perdagangan. Langkah ini menjadi bagian dari diplomasi pangan Indonesia di tengah tekanan rantai pasok pangan dan pupuk global.
Data Ekspor Pupuk Indonesia
Berdasarkan data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja ekspor pupuk Indonesia dengan kode HS 31 sampai Maret 2026 telah mencapai 185.284 ton. Negara tujuan ekspor pupuk dari Indonesia terbesar adalah Australia, India, Filipina, hingga Brazil.
Dari tahun sebelumnya, yaitu 2025, ekspor pupuk Indonesia mencatatkan lonjakan signifikan yakni 2,14 juta ton, naik dari 1,7 juta ton pada 2024. Berikut adalah rincian data volume ekspor pupuk Indonesia dalam lima tahun terakhir:
- 2021: 2,3 juta ton
- 2022: 1,91 juta ton
- 2023: 1,84 juta ton
- 2024: 1,7 juta ton
- 2025: 2,14 juta ton







