Perang yang Berpotensi Berakhir: Perspektif dari Berbagai Pihak
Pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran terkait kesepakatan damai menunjukkan adanya peluang untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama beberapa tahun. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan optimisme bahwa perdamaian akan segera tercapai. Namun, perkembangan ini justru memicu kekhawatiran dan kemarahan di kalangan masyarakat Israel.
Perbedaan situasi ini sangat mencolok dibandingkan dengan Februari 2026 lalu, ketika keputusan Presiden Donald Trump untuk menyerang Iran bersama Israel dinilai sebagai puncak keberhasilan karier politik dan diplomatik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Namun, setelah tiga bulan, rezim di Tehran tetap bertahan. Kini, Trump justru berusaha mencapai kesepakatan baru agar Selat Hormuz kembali terbuka bagi kapal-kapal tanker minyak.
Langkah ini dinilai mengorbankan kepentingan keamanan Israel. Dalam tulisan di harian Ma’ariv, kolumnis Ben Caspit menyoroti kegagalan strategi Netanyahu. Alih-alih menghancurkan program nuklir Iran seperti yang dijanjikan, dampak perang dan rencana gencatan senjata justru berisiko mempercepat pembuatan senjata nuklir Iran.
Dampak dari Kematian Pemimpin Tertinggi Iran
Kekhawatiran semakin memuncak dengan kemungkinan gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, selama perang. Di satu sisi, pembunuhan itu dapat menghilangkan sosok yang mendirikan program nuklir. Namun di sisi lain, hal ini juga menghilangkan figur yang selama ini mencegah Iran melangkah ke fase akhir pembuatan senjata nuklir.
Nahum Barnea dalam tulisan di Yedioth Ahronoth menyebut strategi Netanyahu sebelum dan selama operasi militer, yang dikenal sebagai Operation Epic Fury oleh AS dan Operation Roaring Lion oleh Israel, telah gagal total. Ia menulis bahwa Israel sepenuhnya bergantung pada keputusan presiden Amerika yang tidak menentu dan putus asa.
Isu Keamanan dan Diplomasi yang Mengkhawatirkan
Menurut laporan The New York Times, posisi Israel dalam diplomasi ini sangat memprihatinkan. Tel Aviv tidak hanya dikucilkan dari meja perundingan antara AS dan Iran, tetapi juga tidak diberi informasi tentang perkembangan prosesnya. Akibatnya, pemerintah Israel harus mengandalkan sekutu regional dan jaringan intelijen mereka sendiri untuk memata-matai pergerakan para pemimpin Iran.
Garis besar kesepakatan yang digodok tim Trump diprediksi akan jauh lebih longgar daripada JCPOA era Barack Obama pada 2015. Selain masalah nuklir, isu-isu krusial lain seperti jaringan proksi regional Iran dan arsenal rudal balistik yang sempat menghujani Israel dilaporkan tidak masuk dalam pembahasan.
Dukungan Publik yang Menurun
Sejak awal perang, elite keamanan Israel telah memperingatkan Netanyahu. Ambisinya mengejar perubahan rezim di Iran demi meningkatkan popularitas menjelang pemilu Oktober berisiko mengorbankan aset kebijakan luar negeri paling vital, yaitu dukungan bipartisan di AS.
Jajak pendapat di AS menunjukkan bahwa rusaknya warisan hubungan bilateral tersebut menjadi dampak yang paling membekas bagi Israel. Rencana kesepakatan ini langsung memicu keretakan di internal pemerintahan Israel. Anggota koalisi sayap kanan kini mendesak Netanyahu untuk bersikap keras menentang Trump, terutama terkait kesepakatan gencatan senjata parsial dengan Hizbullah di Lebanon.
Perubahan Sentimen Publik
Di tingkat akar rumput, sentimen publik Israel juga mulai bergeser. Berdasarkan survei dari Israel Democracy Institute, dukungan masyarakat terhadap keputusan perang awalnya sangat kuat karena dipicu oleh ketakutan atas ancaman Iran dan sekutunya. Namun, dukungan terhadap kinerja pemerintah terus merosot seiring konflik yang berlarut-larut tanpa ada tanda-tanda tumbangnya rezim Teheran.
Segera setelah gencatan senjata diumumkan, lebih dari sepertiga warga Yahudi Israel menyatakan sangat atau agak tidak puas dengan penghentian perang. Sementara itu, hanya sekitar seperempatnya yang mengaku senang. Ariel Kahana, kolumnis untuk harian berbahasa Ibrani Israel Hayom, mengakui bahwa situasi akhir ini tidak menguntungkan bagi posisi Israel di mata dunia.







