Peran Indonesia dalam Dinamika Geopolitik Asia Timur
Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Arif Havas Oegroseno, menyampaikan bahwa Indonesia bukanlah negara asing dalam menghadapi tantangan geopolitik global. Menurutnya, Indonesia telah memiliki pengalaman sejarah yang cukup dalam menghadapi dinamika politik internasional, terutama sejak era Perang Dingin. Hal ini menjadi bekal penting bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi situasi global saat ini.
Dalam kuliah tamu yang diselenggarakan oleh Departemen Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), dengan tema “Dinamika Geopolitik Asia Timur di Tengah Rivalitas Kekuatan Besar”, Wamenlu Havas memberikan wawasan kepada mahasiswa tentang perkembangan geopolitik Asia Timur dan dampaknya terhadap ASEAN serta posisi Indonesia dalam persaingan global.
Menurut Havas, sejak Konferensi Asia Afrika 1955, Indonesia sudah berada di tengah pertarungan kepentingan negara-negara besar. Pada masa itu, dunia sedang terbelah oleh rivalitas ideologi Barat dan Timur yang memengaruhi hubungan internasional. Meski tantangan geopolitik yang dihadapi saat ini berbeda, Indonesia dinilai lebih siap dibandingkan masa lalu.
Rivalitas AS-China dan Dampaknya pada ASEAN
Dosen mata kuliah Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), Edy Prasetyono, Ph.D., menjelaskan bahwa kuliah tamu tersebut berkaitan erat dengan pembahasan posisi ASEAN dalam dinamika global. Menurut Edy, mata kuliah ASEAN tidak hanya membahas organisasi kawasan Asia Tenggara sebagai institusi regional, tetapi juga mengkaji secara kritis posisi ASEAN dalam percaturan kekuatan dunia.
Ia menilai perkembangan geopolitik Asia Timur memiliki dampak langsung maupun tidak langsung terhadap stabilitas kawasan Asia Tenggara. Dalam dua dekade terakhir, rivalitas Amerika Serikat dan China menjadi faktor dominan yang memengaruhi politik, keamanan, teknologi, hingga ekonomi kawasan. Dinamika geopolitik Asia Timur secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi stabilitas dan arsitektur kawasan Asia Tenggara.
Keterkaitan antara ASEAN dan Asia Timur terlihat melalui berbagai mekanisme kerja sama regional seperti ASEAN Plus Three, East Asia Summit, dan ASEAN Regional Forum.
Indonesia Memiliki Modal untuk Menghadapi Tantangan Global

Dalam kuliah tamu tersebut, Havas menilai Indonesia saat ini memiliki kapasitas yang jauh lebih kuat untuk menghadapi dinamika geopolitik dunia dibandingkan beberapa dekade lalu. Ia menyebut perkembangan ekonomi, teknologi, dan dukungan dari kalangan akademisi menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
“Hari ini, Indonesia justru jauh lebih siap. Kita memiliki sumber daya yang lebih kuat, kapasitas ekonomi yang lebih baik, teknologi yang berkembang, serta dukungan akademisi dan para ahli yang membantu pemerintah memikirkan berbagai persoalan global secara lebih matang,” ujarnya.
Selain faktor ekonomi dan diplomasi, Havas menilai kekuatan terbesar Indonesia terletak pada daya tahan sosial masyarakatnya. Ia menyinggung pengalaman Indonesia menghadapi krisis ekonomi 1998 dan berbagai konflik sosial sebagai bukti ketahanan bangsa.
“Saya percaya kekuatan terbesar Indonesia terletak pada resiliensinya. Kita pernah menghadapi krisis ekonomi 1998, konflik sosial di berbagai daerah, dan beragam tantangan kebangsaan, tetapi Indonesia tetap berdiri,” tutur Havas.
Menurutnya, pengalaman menghadapi berbagai krisis membuat Indonesia memiliki kemampuan untuk bertahan sekaligus menyesuaikan diri dengan perubahan situasi global.
Posisi ASEAN di Tengah Rivalitas Kekuatan Besar Dunia

Kuliah tamu tersebut juga menjadi ruang diskusi bagi mahasiswa untuk memahami posisi ASEAN di tengah rivalitas kekuatan besar dunia. Persaingan geopolitik di Asia Timur dinilai akan terus memengaruhi arah kebijakan kawasan, termasuk bagi Indonesia.
Mahasiswa diajak melihat bagaimana ASEAN berupaya mempertahankan sentralitasnya di tengah meningkatnya kompetisi negara-negara besar. Dalam situasi tersebut, Indonesia dinilai memiliki peran penting sebagai salah satu negara utama di Asia Tenggara.
Selain membahas tantangan geopolitik, kegiatan itu juga menyoroti pentingnya diplomasi dan kerja sama regional dalam menjaga stabilitas kawasan. Melalui forum tersebut, mahasiswa diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai strategi Indonesia dalam menghadapi rivalitas global sekaligus mempertahankan peran ASEAN dalam arsitektur geopolitik dunia.







