Kehadiran Menlu AS Marco Rubio di New Delhi dan Persiapan Kerja Sama Quad
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio mengunjungi New Delhi pada hari Selasa (26/5/2026) untuk memperkuat kerja sama antara negara-negara anggota Quad, yaitu AS, Australia, India, dan Jepang. Pertemuan ini dilakukan sebagai respons atas meningkatnya ketegangan global, terutama dalam konteks dominasi Tiongkok di berbagai sektor.
Kerja sama Quad dilihat dengan skeptis oleh China karena dipandang sebagai upaya untuk membangun koalisi yang mampu menyeimbangkan kekuatan Tiongkok di kawasan Asia-Pasifik. Namun, soliditas Quad terus diuji akibat perbedaan pendapat antara anggotanya, khususnya terkait konflik Iran dan posisi mereka terhadap tindakan AS-Israel.
Perbedaan Pandangan Mengenai Iran
Salah satu isu utama yang menjadi perdebatan adalah sikap terhadap Iran. India dan Jepang tidak ingin memutus hubungan historis mereka dengan Teheran, meskipun AS dan Israel memiliki kepentingan besar dalam menghentikan pengaruh Iran di kawasan. Pada awal tahun ini, AS dan Israel meluncurkan serangan terhadap Iran sebagai respons atas ancaman yang dirasa mengancam stabilitas regional.
Keputusan AS-Israel untuk menyerang Iran tanpa konsultasi lebih lanjut dengan sekutu membuat Presiden Donald Trump marah. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan tentang komitmen AS terhadap aliansi militer dan diplomatiknya. Dalam pertemuan tersebut, Menteri Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar, menyatakan bahwa fokus pembicaraan akan berada pada “Indo-Pasifik”, yang menjadi batas spesifik dari Quad.
Isu Strategis dan Ekonomi di Asia
Selain soal Iran, India juga memiliki pandangan berbeda dengan negara-negara Quad lainnya terkait invasi Rusia ke Ukraina. India tetap menjaga hubungan baik dengan Moskow, meskipun beberapa negara lain seperti AS dan Eropa menuntut pemutusan hubungan. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri India tidak sepenuhnya selaras dengan sekutu-sekutu Barat.
Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, menyoroti pentingnya menghadapi lingkungan strategis yang semakin memburuk dan tekanan ekonomi yang semakin mengkhawatirkan. PM Australia Anthony Albanese juga menunjukkan sedikit pemahaman atas perang Iran, meski ia tidak ikut serta dalam operasi militer tersebut. Hal ini membuat Trump merasa tidak senang dengan sikap Australia.
Kerja Sama dalam Berbagai Bidang
Rubio menekankan bahwa Quad perlu bekerja sama dalam berbagai bidang, termasuk mengamankan pasokan mineral kritis. Ini menjadi area penting karena Tiongkok memiliki dominasi dalam sumber daya yang sangat dibutuhkan oleh sektor teknologi tinggi. Di bawah pemerintahan Trump, AS lebih fokus pada diplomasi tradisional dengan membangun jaringan dengan sekutu, terutama dalam menghadapi ancaman dari Tiongkok.
Area kerja sama lainnya mencakup kebebasan navigasi, respons kemanusiaan, dan ketahanan energi. Kebebasan navigasi sudah lama menjadi sandi Washington untuk menentang sikap agresif Tiongkok di laut, khususnya di Laut Cina Selatan. Namun, belakangan ini, prinsip ini juga digunakan untuk menggalang dukungan terhadap tindakan terhadap Iran.
Kebijakan Diplomasi yang Berubah
Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi, dalam pertemuan bilateral dengan India menyatakan bahwa situasi keamanan global semakin parah. Ia menilai dunia sedang menghadapi perubahan struktural terbesar sejak era pasca-Perang Dunia II, didorong oleh pergeseran keseimbangan kekuatan dan meningkatnya konflik.
Pertemuan di New Delhi ini merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat hubungan Quad, yang sebelumnya sempat tertunda karena ketidakpastian dari pihak AS. Meskipun KTT Quad yang diharapkan terlaksana tahun lalu tidak jadi digelar, para menteri luar negeri Quad tetap berkumpul di Washington pada Juli 2025.







