Pohon Sukarno di Padang Arafah
Di tengah teriknya panas matahari yang menyengat di Padang Arafah, Makkah, daun pohon Sukarno tampak melambai-lambai tertiup angin. Beberapa jemaah haji yang mengenakan kain ihram pun melipir ke bawah pohon tersebut untuk berteduh. Di Maktab 20, beberapa jemaah haji Indonesia duduk di kursi-kursi plastik putih di bawah pohon Sukarno. Salah satu dari mereka tampak menengadahkan tangan sambil berdoa kepada Sang Khalik pada hari Arafah, 9 Zulhijah.
Di Padang Arafah yang tandus, gersang, dan berdebu, pohon Sukarno menjadi satu-satunya tanaman yang hidup di wilayah itu. Sepanjang mata memandang dari titik start Arafah sampai menuju pegunungan batu yang membatasi kawasan Arafah, hanya ada pohon Sukarno yang tumbuh berderet di pinggir jalan yang memisahkan tenda-tenda jemaah haji.
Batang pohonnya kecil, dengan cabang di sana-sini. Kulit kayunya kering dan mengelupas akibat paparan sinar matahari yang sangat keras. Meskipun demikian, daun-daunnya yang kecil berwarna hijau tua mampu meneduhkan panasnya sinar matahari yang mencapai suhu 42 derajat Celcius.
Seorang jemaah haji asal Batam yang sedang duduk bersama istrinya, memegang pohon Sukarno yang ada di sampingnya. Ia menjelaskan bahwa ini adalah pohon Sukarno, satu-satunya tanaman yang tumbuh di Arafah. Ia lalu menelisik kulit kayu pohon tersebut, yang sebagian terkelupas karena kekeringan. Di sela-sela kulit kayu tersebut juga terlihat serangga yang berjalan.
Berdasarkan aturan dalam berhaji, ada sejumlah larangan yang tidak boleh dilakukan jemaah ketika dalam keadaan berihram. Di antaranya adalah mencabut rumput atau tanaman dan membunuh atau mengganggu binatang. Karena masih hari wukuf dan berihram, kami saling mengingatkan agar tidak lebih jauh mengulik-ngulik kulit kayu Sukarno.
Alasan Pohon Sukarno Dibawa ke Arafah
Pohon Sukarno atau pohon mindi memiliki nama latin Melia Azedarach. Dalam bahasa Inggris disebut Bead tree atau Chinaberry tree. Sukarno sengaja memilih pohon ini karena tahan terhadap cuaca ekstrem dan tandus, serta kokoh. Pohon ini juga bisa tumbuh di daerah sub tropis ataupun tropis.
Menurut informasi dari plants.ces.ncsu.edu (North Carolina State University), pohon Sukarno berasal dari Asia. Umumnya tumbuh di pinggir jalan, di hutan terbuka, semak belukar, dan di daerah yang masih alami. Pohon ini memiliki mahkota bundar dengan cabang kasar dan kaku yang dapat mentolerir semua jenis tanah.
Pohon Sukarno di Arafah Dirawat Khusus oleh Pemerintah Saudi

Pada abad ke-18, pohon ini dibawa oleh seorang ahli botani Prancis ke Amerika Serikat, sehingga pohon ini juga tumbuh subur di hampir semua negara bagian Amerika Serikat, kecuali wilayah Barat. Bertahun-tahun pohon Chinaberry telah digunakan sebagai tanaman hias, pohon peneduh, dan juga sebagai kayu bakar.
Pohon ini juga bisa beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan, hampir bebas dari penyakit dan serangga, dan tumbuh subur di wilayah terbuka. Tak heran, meskipun Padang Arafah dan daerah-daerah lainnya di Arab Saudi sangat panas dan gersang, pohon Sukarno tetap bisa tumbuh subur dan rindang.
Menurut informasi dari kemenag.go.id, agar pohon ini tumbuh subur di Arafah, Pemerintah Arab Saudi secara khusus membuat saluran air yang ditanam di dalam tanah untuk menyirami setiap akar pohon Sukarno.
Fungsi dan Khasiat Pohon Sukarno

Pohon Sukarno tak hanya berfungsi menjadi peneduh dan menghijaukan pemandangan, tapi juga memiliki banyak khasiat. Menurut informasi dari Uptpth.dishut.jatimprov.go.id, ekstrak daun mindi mengandung insektisida (azadirachtin) yang dapat digunakan sebagai bahan untuk mengendalikan hama pada pakaian dan belalang.
Sementara kulit mindi dapat dipakai sebagai penghasil obat untuk mengeluarkan cacing usus. Kulit daun dan akar mindi telah digunakan sebagai obat reumatik, demam, bengkak, dan radang.
Selain itu, suatu glycopeptide yang disebut meliacin diisolasi dari daun dan akar mindi yang berperan dalam menghambat perkembangan beberapa DNA dan RNA dari beberapa virus misalnya virus polio.
Meski banyak tumbuh di Saudi, kata Suparman, warga negara Indonesia yang sudah menetap di Arab Saudi sejak 2006, tak banyak orang Arab apalagi pemuda-pemudanya yang mengetahui pohon itu dinamai pohon Sukarno. Hanya orang-orang Arab lama atau yang sudah tua yang tahu pohon itu dinamai pohon Sukarno.







