Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Selebgram Pukul WN Brunei Hingga Tewas dalam Cekcok

    29 Mei 2026

    Jangan Salah Niat, Simak Doa Kurban Idul Adha Sesuai Ajaran Nabi Muhammad

    29 Mei 2026

    Kuwu Ambulu Cirebon: Masalah Terbesar Warga Bukan Gatal, Tapi Kesehatan Mental yang Terus Teror

    29 Mei 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Jumat, 29 Mei 2026
    Trending
    • Selebgram Pukul WN Brunei Hingga Tewas dalam Cekcok
    • Jangan Salah Niat, Simak Doa Kurban Idul Adha Sesuai Ajaran Nabi Muhammad
    • Kuwu Ambulu Cirebon: Masalah Terbesar Warga Bukan Gatal, Tapi Kesehatan Mental yang Terus Teror
    • Hentikan! Mencuci daging sebelum memasak justru berisiko
    • Soal dan Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 9 SMP Halaman 104
    • Igor Tolic Jadi Pelatih, Striker ASEAN Semakin Dekat ke Persib
    • 5 Poin Kesepakatan AS-Iran dalam Pembicaraan Damai Minggu Lalu
    • LYT-600 50 MP, Sensor Mid-Range yang Populer di Smartphone, Keunggulannya
    • ICAR V23 resmi dirilis, SUV listrik mudah dimodifikasi
    • Seniman Banyumas Tolak Pembangunan KDMP di Taman Budaya: Ruang Seni Harus Dilindungi
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Kajian Islam»Haji dan Diskriminasi Barat

    Haji dan Diskriminasi Barat

    adm_imradm_imr29 Mei 20263 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Haji sebagai Representasi Universalitas Islam

    Dalam Alqur’an, kita menemukan ayat-ayat yang menarik tentang haji. Perintah untuk menunaikan ibadah ini tidak ditujukan kepada “Mukmin” atau “Muslim”, melainkan kepada “manusia (
    an-naas
    ). Padahal, kita tahu bahwa haji hanya wajib bagi Muslim atau Mukmin.

    Beberapa ayat dalam Alqur’an menjelaskan hal tersebut:
    “Dan serulah manusia untuk berhaji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus. Mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 27)
    Di surah lain Allah menegaskan:
    “Dan kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah bagi yang mampu.” (QS. Ali Imran: 97)

    Pemilihan kata ini menunjukkan bahwa haji mencerminkan wajah universal Islam. Islam hadir untuk seluruh penjuru dunia, diperuntukkan bagi semua manusia tanpa kecuali. Setiap manusia memiliki akses yang sama kepada Islam, tanpa pembedaan.

    Karena haji mencerminkan tabiat Islam yang universal, tidak mengherankan bila deklarasi kesetaraan manusia secara global justru disampaikan Rasulullah SAW saat beliau berhaji. Haji Wada’ menjadi momentum tepat bagi beliau untuk menyampaikan ajaran Islam yang menyetarakan manusia melalui khutbah monumental: Khutbah Wada’.

    Dalam khutbah itu, Rasulullah menegaskan pokok-pokok ajaran agama, termasuk relasi antar manusia. Salah satunya: menjaga
    human life and human dignity
    — nyawa dan kehormatan manusia.
    “Sesungguhnya darah dan harta kalian haram atas sesama kalian, sebagaimana haramnya hari ini, di negeri ini, di bulan ini.”

    Secara khusus beliau juga mewasiatkan pentingnya memuliakan perempuan. Pesan ini disampaikan pada abad ke-6, ketika Eropa masih belum dikenal dan hidup dalam kegelapan. Barat yang hari ini mengklaim paling menghargai perempuan justru seharusnya belajar dari Islam tentang makna
    gender equity
    yang sejati.

    Namun yang ingin saya tekankan kali ini adalah bagian khutbah yang menegaskan dua hal: universalitas keluarga besar manusia dan kesetaraan ras. Deklarasi yang pada masanya mungkin dianggap utopia. Rasulullah mengumandangkannya berabad-abad sebelum Deklarasi HAM PBB 1948.



    Umat muslim berjalan menuju Jabal Rahmah untuk melaksanakan wukuf saat puncak ibadah haji di Arafah, Mekkah, Arab Saudi, Selasa (26/5/2026). Jutaan umat muslim melaksanakan wukuf di Arafah sebagai puncak dari pelaksanaan ibadah Haji. – (EPA)

    Dengan tegas beliau bersabda:
    “Sesungguhnya Tuhan kalian satu, dan ayah kalian satu. Kalian semua dari Adam, dan Adam diciptakan dari tanah. Tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab, dan tidak ada kelebihan non-Arab atas orang Arab kecuali dengan takwa. Tidak ada kelebihan orang berkulit putih atas orang berkulit hitam, dan tidak ada kelebihan orang berkulit hitam atas orang berkulit putih kecuali dengan takwa.” (Petikan Khutbah Wada’)

    Pernyataan ini revolusioner. Saat itu, superioritas ras dan warna kulit dianggap normal. Sebagian ras merasa terlahir istimewa, sementara yang lain dianggap rendah. Perbudakan pun menjadi hal lumrah, bahkan dipandang sebagai
    privilege
    .

    Isu dominan kala itu memang ras dan warna kulit. Di Makkah, mereka yang berkulit terang memiliki hak istimewa yang tidak dimiliki kelompok lain. Demikian pula dikotomi Arab dan non-Arab. Karena itu, penekanan Rasulullah tertuju pada dua hal tersebut.

    Namun, ketika beliau memulai dengan “Tuhan kalian satu” dan “ayah kalian satu”, sejatinya beliau menyampaikan pesan yang all-inclusive: seluruh manusia, dengan segala latarnya, setara. Setara, meski tidak harus sama. Ada kesatuan dalam keragaman.

    Prinsip ini tidak berhenti sebagai retorika. Ia ditegaskan dan dipraktikkan oleh Rasulullah dan para sahabat. Alqur’an, hadits, dan sirah mencatatnya dengan jelas.

    “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

    Bahkan ayat pertama Surah An-Nisa menegaskan:
    “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu.” (QS. An-Nisa: 1)

    Ayat-ayat lain mempertegas hal serupa. Allah-lah yang membentuk rupa manusia, termasuk ras dan warna kulit. Itu karunia, bukan pilihan manusia.

    “Dialah yang membentuk kamu dalam rahim menurut kehendak-Nya.”([QS. Ali Imran: 6])



    Umat muslim berkumpul di Jabal Rahmah untuk melaksanakan wukuf saat puncak ibadah haji di Arafah, Mekkah, Arab Saudi, Selasa (26/5/2026). Jutaan umat muslim melaksanakan wukuf di Arafah sebagai puncak dari pelaksanaan ibadah Haji. – (EPA)

    Lebih jauh, Alqur’an menyebut keragaman sebagai sunnatullah dan tanda kebesaran-Nya:
    “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, serta perbedaan bahasa dan warna kulitmu.” (QS. Ar-Rum: 22)

    Sejarah Islam pun membuktikan komitmen ini. Lingkaran sahabat Rasulullah sangat beragam: Bilal dari Afrika, Salman dari Persia, Shuhaib dari Romawi, bersama para sahabat Quraisy.

    Saya tutup dengan kisah perselisihan dua sahabat yang berbeda ras, warna kulit, dan status sosial: Bilal, mantan budak berkulit hitam, dengan Abdurrahman bin Auf, bangsawan Arab yang kaya.

    Ketika emosi memuncak, Abdurrahman mencela Bilal: “Hai anak perempuan hitam!” Mendengar itu, Rasulullah SAW menegurnya keras: “Sungguh, dalam dirimu masih ada sifat jahiliah.”

    Semoga, dengan memahami makna universal keluarga kemanusiaan melalui haji, umat Islam kian sadar akan tanggung jawab globalnya. Bahwa keislaman itu bersifat universal. Tidak ada keutamaan seseorang karena ras, warna kulit, atau kebangsaan.

    Maka, tak perlu angkuh dengan label “Islam Nusantara” atau “Islam Arab”. Benahi saja ketakwaan kita. Di situlah letak kemuliaan sejati. Yakinlah!

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Jangan Salah Niat, Simak Doa Kurban Idul Adha Sesuai Ajaran Nabi Muhammad

    By adm_imr29 Mei 20260 Views

    Persyaratan berkurban Idul Adha, perhatikan kesehatan hewan kurban

    By adm_imr29 Mei 20261 Views

    Bacaan dan Tata Cara Salat Iduladha Lengkap

    By adm_imr29 Mei 20261 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Selebgram Pukul WN Brunei Hingga Tewas dalam Cekcok

    29 Mei 2026

    Jangan Salah Niat, Simak Doa Kurban Idul Adha Sesuai Ajaran Nabi Muhammad

    29 Mei 2026

    Kuwu Ambulu Cirebon: Masalah Terbesar Warga Bukan Gatal, Tapi Kesehatan Mental yang Terus Teror

    29 Mei 2026

    Hentikan! Mencuci daging sebelum memasak justru berisiko

    29 Mei 2026
    Berita Populer

    HUT ke-112 Kota Malang Jadi Momentum Evaluasi, Wali Kota Tekankan Penyelesaian Masalah Prioritas

    Kota Malang 1 April 2026

    Kota Malang- Wahyu Hidayat menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang bukan…

    Kasus Perzinaan Oknum ASN Kota Batu Berujung Penjara, Vonis Diperberat di Tingkat Banding

    29 April 2026

    Banyak Layani Luar Daerah, Dinkes Kabupaten Malang Ubah UPT Kalibrasi Jadi BLUD

    27 Maret 2026

    Kejagung Sita Aset Kasus Ekspor CPO di Kota Malang, Tanah 157 Meter Persegi Dipasangi Plang

    2 Mei 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?