Program Kesehatan, Gizi, dan Pemberdayaan Masyarakat di Pasuruan dan Gresik
Cargill terus memperkuat program pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Pasuruan dan Gresik melalui berbagai kegiatan yang mencakup bidang kesehatan, gizi, akses air bersih hingga penguatan ekonomi UMKM perempuan. Program ini menjadi bagian dari dukungan perusahaan terhadap ketahanan pangan dan percepatan penurunan stunting di Jawa Timur.
Di Kabupaten Pasuruan, fokus program adalah pada peningkatan layanan kesehatan masyarakat serta pemenuhan gizi bagi kelompok rentan. Selain itu, penyediaan akses air bersih juga menjadi prioritas. Di samping itu, Cargill juga memberikan penguatan usaha mikro yang berbasis perempuan di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Melalui kerja sama dengan puskesmas dan pemerintah desa, Cargill mendukung layanan klinik kesehatan masyarakat di Desa Kepulungan dan Desa Ngerong. Program tersebut melayani ratusan warga setiap bulan melalui pemeriksaan kesehatan, konsultasi medis, pemberian vitamin dan obat-obatan hingga rujukan layanan lanjutan.
Selain itu, perusahaan juga menjalankan program pemantauan kesehatan dan gizi bagi bayi, remaja, ibu hamil serta lansia di sejumlah dusun. Tercatat lebih dari 440 anak dan sekitar 400 lansia menerima manfaat dari program tersebut. Edukasi gizi juga menjadi perhatian, melalui peringatan World Food Day dan World Egg Day. Cargill mendistribusikan bahan pangan bergizi seperti telur, tempe dan susu kedelai yang diproduksi UMKM lokal.
Program itu menjangkau lebih dari 1.000 penerima manfaat sepanjang 2025, mulai dari bayi, ibu hamil hingga lansia.
Penguatan ketahanan masyarakat juga dilakukan melalui pembangunan tujuh sumur dalam atau deep well di Kabupaten Pasuruan. Infrastruktur tersebut kini dimanfaatkan lebih dari 10 ribu warga untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
Di sektor ekonomi, Cargill turut mendorong pengembangan UMKM perempuan melalui pelatihan kewirausahaan, literasi keuangan, pengembangan produk hingga akses pasar. Koordinator Griya UMKM Desa Ngerong Sudarti mengatakan, dukungan tersebut sangat membantu pelaku usaha kecil agar berkembang lebih profesional dan memiliki daya saing.
“Dulu usaha kami belum memiliki legalitas dan kemasan standar. Sekarang sudah dibantu pengurusan NIB, sertifikasi halal, SPP-IRT sampai pelatihan digital marketing sehingga usaha menjadi lebih siap berkembang,” ujarnya.
Program Laskar Cegah Stunting di Gresik
Sementara itu di Kabupaten Gresik, Cargill menjalankan program “Laskar Cegah Stunting” di Kecamatan Manyar. Program ini melibatkan tenaga kesehatan, sekolah, pemerintah desa dan masyarakat dalam upaya pencegahan stunting berbasis komunitas di enam desa. Kegiatan tersebut meliputi edukasi kesehatan ibu dan anak, pemberian ASI, pemantauan tumbuh kembang balita hingga pelatihan kader kesehatan desa.
Kader Laskar Cegah Stunting Desa Pegaden, Hj Nur Cholilah menyebut program tersebut membantu masyarakat memahami pentingnya pemenuhan gizi keluarga sejak dini. “Kami mendampingi kelas menyusui, parenting Posyandu hingga rembuk stunting agar masyarakat bisa bersama-sama mencari solusi penanganan stunting di desa,” katanya.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Sistem Pangan Berkelanjutan
Director Plant Management Food Southeast Asia Australia and New Zealand Cargill Yusuf Ronzy mengatakan, penguatan sistem pangan membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan aksi nyata di tingkat masyarakat. Menurutnya, akses terhadap pangan bergizi, layanan kesehatan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan.
“Melalui kerja sama dengan masyarakat dan pemerintah daerah, kami ingin membantu memperluas akses terhadap gizi, kesehatan dan peluang ekonomi agar masyarakat menjadi lebih kuat dan sehat,” urainya.
Kegiatan itu dilakukan Cargill berdasarkan Resilient Food Systems Index (RFSI)1, riset terbaru dari Economist Impact yang didukung oleh Cargill. Indonesia berada di peringkat ke-29 dari 60 negara dengan skor 66.522 yang mencerminkan fondasi kuat dalam keterjangkauan pangan dan akses terhadap nutrisi. Namun, kesenjangan masih terdapat pada aspek ketersediaan pangan dan ketahanan sistem pangan. Sehingga, perlu penegasan untuk memperkuat cara pangan diproduksi, didistribusikan, dan diakses di tingkat masyarakat.







