Kematian ASN di Metro Akibat Penembakan oleh Penagih Utang
Seorang pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Metro, Dedi Christian Agung (40), tewas ditembak oleh Fajar Jaya Putra (FJP) yang berusia 19 tahun. Insiden ini terjadi karena sengketa utang sebesar Rp1 juta yang bermula dari cekcok antara korban dan pelaku. Peristiwa memilukan ini terjadi tepat di depan mata istri dan dua anak korban yang masih kecil.
Pelaku Menyerahkan Diri Setelah Kejadian
Fajar Jaya Putra akhirnya menyerahkan diri ke Mapolres Lampung Utara setelah menjadi buronan selama satu hari. Ia dibawa oleh keluarga serta Wakil Bupati Lampung Utara, Romli. Pada ekspose perkara yang digelar di Mapolda Lampung, Senin (25/5/2026), polisi mengungkapkan bahwa pelaku sering membawa senjata api rakitan saat melakukan penagihan utang.
Dedi, yang bekerja sebagai ASN di Dinas Perkebunan, Peternakan, dan Perikanan Lampung Tengah, meninggal dunia setelah menderita luka tembak fatal di bagian kepala pada Sabtu (23/5/2026) malam. Saat itu, ia sedang menemani istrinya berjualan ayam geprek di Jalan Khair Bras, Kecamatan Metro Barat.
Motif Penembakan Terkait Utang Koperasi Ilegal
Menurut Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Lampung, Kombes Indra Hermawan, Fajar bekerja di sebuah koperasi simpan-pinjam ilegal. Berdasarkan pemeriksaan, tersangka mengakui bahwa ia selalu membawa senjata api saat menagih utang kepada nasabah.
Utang yang dimaksud sebesar Rp1 juta, namun hingga kini polisi masih mendalami jumlah utang sebenarnya. Saat melakukan aksi nekat, Fajar melepaskan empat kali tembakan secara brutal. Dua peluru diarahkan langsung ke tubuh korban, sementara dua lainnya dilesatkan ke udara untuk menakuti warga sekitar.
Kronologi Penembakan yang Mengerikan
Kronologi penembakan bermula saat Fajar datang ke lapak dagangan ayam geprek korban untuk menagih uang Rp1 juta. Alih-alih mendapatkan solusi, pertemuan singkat itu berujung pada cekcok mulut yang sangat sengit. Emosi pelaku menyulut hebat hingga memicu perkelahian fisik.
Pelaku sempat melayangkan pukulan mentah yang meleset, yang kemudian dibalas oleh korban demi membela diri. Situasi yang tadinya sekadar adu jotos mendadak berubah menjadi horor ketika pelaku berbalik badan dan merogoh sesuatu dari dalam tas selempang kecilnya.
Trauma yang Di Alami Keluarga Korban
Sang istri, Vita Lestari, harus menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana suaminya tersungkur bersimbah darah di hadapan dua anak mereka yang masih balita. Vita menceritakan, saat itu suaminya mengira kedatangan pelaku hanya untuk mengobrol biasa, apalagi lokasi jualan mereka berdekatan dengan pemilik tempat pencucian mobil.
Namun tanpa diduga, emosi pelaku mendadak menyulut hebat hingga memicu perkelahian fisik. Setelah pelaku kabur membawa ketakutan warga, korban yang sudah tidak berdaya baru bisa dievakuasi sekitar 15 menit kemudian oleh petugas Babinsa bersama warga setempat.
Tubuh Dedi langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat, namun nyawa sang ASN tidak dapat tertolong lagi akibat luka tembak jarak dekat tersebut.






