Presiden Prabowo dan Frekuensi Kunjungan ke Luar Negeri
Selama menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia sejak 20 Oktober 2024 hingga 30 Mei 2026, Presiden Prabowo Subianto telah melakukan 49 kali kunjungan ke luar negeri. Dari total masa jabatan selama 587 hari, durasi kunjungan tersebut mencapai sekitar 95 hari. Hal ini berarti, satu dari enam hari yang dilalui Prabowo sebagai Presiden dihabiskan untuk perjalanan dinas ke luar negeri.
Data ini menarik perhatian mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, yang mengungkapkan kekhawatirannya terhadap frekuensi kunjungan yang dinilai terlalu tinggi. Menurutnya, perjalanan dinas seorang kepala negara memerlukan anggaran yang sangat besar, termasuk biaya tim pendahulu, sewa pesawat, penginapan, logistik, konsumsi, pengamanan, serta uang harian delegasi. Dalam salah satu unggahannya, Dino menyebut bahwa satu perjalanan ke luar negeri bisa menghabiskan puluhan hingga ratusan miliar rupiah.
Dino Patti Djalal memberikan lima saran kepada Presiden Prabowo untuk meningkatkan efisiensi penggunaan anggaran negara tanpa mengurangi kualitas diplomasi Indonesia. Berikut adalah rekomendasi-rekomendasi tersebut:
Ganti Kunjungan Langsung dengan Video Call
Daripada selalu terbang jauh untuk urusan bilateral, Dino menyarankan Presiden lebih sering menggunakan teknologi seperti video call, Zoom, atau telepon. Ia menilai bahwa pertemuan tatap muka antarnegara sering kali hanya berpusat pada pembicaraan inti selama satu atau dua jam, sedangkan selebihnya hanya basa-basi, jamuan, dan seremonial yang tidak perlu. Dengan satu video call yang bernilai nol rupiah, negara bisa menghemat ratusan miliar rupiah.Terapkan “Formula 1+8” di Acara Internasional
Jika Presiden memang harus hadir di forum internasional, Dino menyarankan agar memanfaatkan momen tersebut semaksimal mungkin. Ia mengusulkan Formula 1+8, yaitu dalam satu kunjungan acara internasional menghasilkan delapan pertemuan bilateral dengan pemimpin negara lain yang hadir di lokasi yang sama. Cara ini dinilai lebih efisien daripada menyambangi tiap negara para pemimpin yang dimaksud.Transparan dan Terbuka kepada Publik
Dino menilai rakyat berhak tahu ke mana dan untuk apa Presiden pergi. Ia mengkritik adanya perjalanan dinas yang terkesan mendadak tanpa informasi yang memadai. Dengan perencanaan yang matang dan pengumuman yang terbuka sebelum berangkat, pemerintah bisa menghindari persepsi negatif dari masyarakat.Lebih Sering Terima Tamu Negara di Indonesia
Alih-alih terus berkeliling dunia, Presiden Prabowo disarankan Dino untuk lebih banyak mengundang dan menjamu tamu negara di tanah air. Dino mencontohkan Presiden Tiongkok Xi Jinping yang sangat aktif menerima kunjungan pemimpin dunia di Beijing. Cara ini ampuh menghemat anggaran sekaligus menunjukkan wibawa Indonesia sebagai tuan rumah.Serahkan Tugas Diplomasi Taktis ke Menlu
Untuk urusan diplomasi tingkat menteri atau misi taktis tertentu, Dino menyarankan Presiden agar sebaiknya mendelegasikan tugas tersebut kepada Menteri Luar Negeri. Dengan begitu, beban jadwal Presiden berkurang, anggaran lebih hemat, dan diplomasi Indonesia di tingkat global tetap berjalan lancar.
Saran-saran tersebut disampaikan Dino Patti Djalal sebagai bentuk kepedulian agar uang rakyat bisa dikelola secara lebih bijak. Ia berharap masukan ini didengar oleh pemerintah demi menjaga efisiensi di tengah kondisi ekonomi yang sedang banyak disorot oleh publik.






