Strategi Ketenagakerjaan dan ESDM Bali dalam Masa Depan Energi
Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Provinsi Bali, Ida Bagus Setiawan, menyebut LNG menjadi bagian dari strategi ketahanan energi Bali dalam beberapa tahun mendatang. Dalam RUPTL PLN, Bali diproyeksikan mendapat tambahan pasokan listrik berbasis LNG hingga 1.550 megawatt.
“Secara hitungan matematis, kapasitas terpasang dengan kebutuhan sampai lima tahun ke depan aman,” ujarnya.
Namun ia mengakui tantangan terbesar bukan hanya kapasitas listrik, melainkan kepastian pasokan LNG itu sendiri. Menurutnya, fasilitas LNG akan ditempatkan sekitar 3,5 kilometer dari daratan dan telah melalui proses AMDAL serta persetujuan teknis.
“Sudah diberikan keputusan melalui AMDAL, persetujuan teknis dan sebagainya bahwa ada tersus 3,5 kilometer dari darat offshore, inilah yang akan mensuplai sumber LNG kita,” tuturnya.
Penjelasan itu menunjukkan proyek ini telah masuk ke tahap teknokratis, mulai dari AMDAL, izin teknis, hingga skema bisnis antarbadan usaha. Namun di balik istilah offshore dan supply chain energi, pertanyaan warga tetap tertambat pada laut yang mereka kenal sebagai ruang hidup, bukan sekadar infrastruktur.
Kajian Lingkungan dan Pertanyaan Spiritual
Saat ditanya mengenai dampak ekologis, Setiawan menyatakan kajian teknis semestinya telah dilakukan.
“Saya kira kalau sudah AMDAL keluar mestinya kan sudah, karena ini sudah pemrakarsa sudah melakukan penyampaian,” tegasnya.
Namun sampai sejauh ini, belum terlihat apakah dimensi spiritual laut Bali benar-benar dipetakan dalam dokumen AMDAL proyek tersebut. Kajian lingkungan lazim mengukur arus, sedimentasi, kualitas air, atau dampak biologis. Tetapi bagaimana dengan kawasan campuhan tempat warga mengambil tirta? Bagaimana ruang sakral dibaca dalam logika pembangunan energi?
Kekhawatiran serupa datang dari kawasan lain dalam lanskap ekologi yang sama. Prajuru Desa Adat Serangan, Wayan Patut, mengingatkan potensi gangguan terhadap kawasan mangrove Tahura Ngurah Rai.
“Kalau beton masuk ke kawasan pinggir sungai dan mangrove, arus air akan terganggu,” ujarnya.
Ia menjelaskan perubahan arus berpotensi memicu sedimentasi yang mengancam sistem akar mangrove.
“Akan terjadi penumpukan pasir atau lumpur di sekitar bangunan serta menutupi perakaran pohon mangrove yang berfungsi sebagai pernafasan dalam proses penyerapan karbon,” katanya.
Peringatan itu bukan sekadar asumsi. Mangrove di Denpasar, selama ini menjadi benteng ekologis yang menahan abrasi, menyerap karbon, menjadi ruang asuh biota laut, dan melindungi garis pantai dari perubahan iklim. Benteng ekologis dari pesisir selatan.
Perubahan Garis Pantai dan Dampak Ekologis
Penelitian BRIN dan Universitas Udayana menunjukkan kawasan mangrove Teluk Benoa mencakup sekitar 1.134,92 hektare dengan kemampuan menyerap karbon hingga tiga kali lebih tinggi dibanding hutan daratan. Di saat yang sama, jalur pipa proyek LNG disebut memanfaatkan sekitar 1,7 hektare kawasan mangrove, sementara fasilitas FSRU ditempatkan 3,5 kilometer dari bibir pantai Sidakarya.
Penelitian “Monitoring and Analysis of Coastline Changes in the Coastal Area of Bali Island” dalam jurnal Civil Engineering Dimension juga menemukan perubahan garis pantai signifikan di pesisir selatan Bali akibat kombinasi faktor alam, sedimentasi, dan pembangunan pesisir. Kawasan Sidakarya, Serangan, hingga Teluk Benoa termasuk wilayah yang rentan mengalami kemunduran garis pantai terutama saat musim angin barat dan gelombang tinggi.
Ironisnya, abrasi menjadi persoalan nyata di Sidakarya. Ketua Komisi III DPRD Kota Denpasar, I Wayan Suadi Putra, menyebut garis pantai terus mengalami tekanan. “Pasir sudah turun (abrasi) karena ketarik gitu,” katanya.
Bendesa Adat Sidakarya Ketut Suka menjelaskan dari pengamatannya kalau abrasi Pantai Muntig mundur hingga sekitar 60 meter dalam waktu kurang dari enam bulan. Menurutnya, abrasi ini dapat mengganggu ritual keagamaan seperti Melasti. Ia mengungkapkannya pada rapat di Komisi III DPRD Kota Denpasar, membahas abrasi di Pantai Muntig Sidakarya, Desa Sidakarya, pada 22 Januari 2026, seperti dirilis di halaman .
Tantangan Ekonomi dan Budaya
Pernyataan-pernyataan itu memotret situasi pesisir yang rapuh. Laut di Sidakarya tidak hanya menghadapi rencana industrialisasi energi, tetapi juga sedang bergulat dengan perubahan ekologis yang telah berlangsung lama.
Sementara itu, Sebagai provinsi yang menggantungkan sumber pendapatan dari sektor pariwisata, infrastruktur gas akan merusak ruang laut. Tak hanya mengurangi wilayah tangkap nelayan, tapi juga berpotensi mengganggu pariwisata laut Bali yang menjadi daya tarik wisatawan.
Penggunaan energi gas juga akan menjerat Bali pada jebakan baru, sebab energi gas bersifat fluktuatif, khususnya ketika berhadapan dengan konflik geopolitik.
“Ketidakbijakan pemerintah dalam menyusun agenda transisi energi dengan masih memberikan ruang bagi energi fosil seperti gas, berpotensi akan meningkatkan kerentanan kita atas bencana iklim yang makin sering terjadi. Tak terkecuali Bali, dengan segala keindahannya, akan semakin rentan dan gagal mencapai impian nya untuk mandiri energi. Lebih dari itu, lagi-lagi masyarakat yang akan menanggung beban ganda dari ketidakbijakan dan ketidakhadiran negara dalam memberikan jaminan sosial dalam agenda transisi energi tersebut,” tutur Novita Indri, Pengkampanye Energi Fosil Trend Asia.
Potensi Energi Terbarukan dan Visi Gubernur
Padahal dalam dokumen Peraturan Daerah Nomor 9 tahun 2020 tentang Rencana Umum Energi Daerah (RUED), Bali memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar di antaranya mini dan mikrohidro 15 MW, angin 1019 MW, dan surya 1254 MW. Penelitian dari Greenpeace Indonesia dan Center For Community Based Renewable Energy (CORE) Universitas Udayana, potensi energi surya di Provinsi Bali bahkan memiliki potensi yang paling tinggi, sekitar 98 persen dari total potensi energi terbarukan di Bali.
Di sisi lain, Gubernur Bali Wayan Koster menempatkan proyek LNG sebagai bagian dari visi Bali mandiri energi dan energi bersih. “Saya tidak mau ditambahi saluran energi dari luar Bali lewat kabel bawah laut. Bali mandiri energi dengan energi bersih sudah masuk ke program PLN,” ujarnya.
Perspektif Budaya dan Agama
Benturan dua narasi pun menjadi semakin nyata. Di satu sisi, ada kebutuhan mendesak akan ketahanan energi dan kemandirian pulau. Di sisi lain, ada lanskap budaya yang tidak bisa diukur hanya dengan angka megawatt.
Pandangan lain disampaikan I Gusti Agung Paramita, Dosen Prodi Ilmu Filsafat Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar. Menurutnya, dalam ajaran Hindu, Dewa Baruna atau Varuna tidak hanya dipahami sebagai dewa laut, tetapi juga penjaga keteraturan alam semesta.
“Dewa Baruna itu tidak hanya menjaga laut. Dalam Weda dan mitologi Hindu, beliau juga penjaga rta, penjaga hukum kosmis, penjaga langit dan bumi,” jelasnya.
Ia menerangkan, laut dalam kosmologi Hindu merupakan bagian penting dari siklus kehidupan air. Gunung, sungai, hutan, hingga laut saling terhubung dalam satu kesatuan ekologi dan spiritualitas.
“Laut itu bagian dari siklus hidrologi. Air dari gunung, sungai, dan hutan akhirnya bermuara ke laut,” ujarnya.
Menurut Paramita, air memiliki posisi sangat sentral dalam praktik ritual masyarakat Hindu Bali. Karena itu, menjaga sumber air semestinya menjadi bagian dari tanggung jawab spiritual, bukan sekadar urusan lingkungan. Dalam tradisi Bali, laut juga menjadi tempat umat Hindu memohon amerta atau air kehidupan. Lanjutnya, segaralah tempat umat Hindu nunas amerta, angamet amerta ring tengahing segara.
“Air itu tidak hanya harus bersih secara sekala, tetapi juga bersih secara niskala,” katanya. Sekala dan niskala merupakan konsep (secara umum) keseimbangan hidup dari budaya dan ajaran Hindu Bali, di mana sekala berarti alam nyata (kasat mata) yang dapat disentuh, sedangkan niskala berarti alam niskala atau dimensi spiritual yang tak terlihat.
Senja benar-benar hilang ketika Karjana kembali menatap laut yang mulai gelap. Di titik campuhan dekat bakau itu, warga masih mengambil tirta untuk penglukatan. Sementara beberapa kilometer dari sana, laut yang sama sedang dipersiapkan menjadi jalur energi baru bernama LNG.




