Jejamuran: Kisah Perjuangan dan Keberhasilan Bisnis Budidaya Jamur di Yogyakarta
Jejamuran, sebuah restoran agrowisata yang terletak di Yogyakarta, menjadi salah satu destinasi wajib bagi para pencinta kuliner. Tidak hanya menawarkan hidangan lezat seperti sate jamur dan tongseng jamur, restoran ini juga memiliki kisah perjuangan yang luar biasa dari pendirinya, Ratidjo Hardjosuwarno.
Awal Mula Perjalanan
Ratidjo tidak memiliki latar belakang pendidikan pertanian. Namun, keahliannya dalam memahami karakteristik jamur berasal dari pengalaman pribadi dan kedekatan emosional dengan tanaman tersebut. Ia mengungkapkan bahwa jamur itu seperti sahabat yang bisa menunjukkan tanda-tandanya.
Sejak tahun 1980-an, ia telah melalang buana mengelola perusahaan budidaya jamur di berbagai daerah di Jawa, mulai dari Bandung hingga kawasan Dieng. Pemahamannya tentang makrofungi atau kelompok jamur yang tumbuh di dataran tinggi dan rendah sangat mendalam.
Tantangan Awal
Setelah mengundurkan diri dari pekerjaan sebelumnya, Ratidjo pulang ke Yogyakarta untuk memulai usahanya sendiri. Tantangan besar langsung menghadang ketika jamur hasil panennya tidak laku dijual. Masyarakat saat itu belum terbiasa mengonsumsi jamur selain saat musim hujan, dan banyak yang memetik jamur liar di halaman rumah.
Namun, banyak dari jamur liar tersebut beracun, sehingga Ratidjo memutuskan untuk mengedukasi masyarakat bahwa jamur budidayanya aman dan bebas racun. Ia bahkan memberikan jamur secara gratis agar warga berani mencicipi dan ketagihan.
Modal Kecil dan Kepercayaan Bank BRI
Perjalanan bisnisnya terus berlanjut dengan membuka warung makan kecil di sebuah ruko. Formulanya sederhana namun efektif: Ratidjo memanen jamur, sedangkan istri yang pintar memasak mengolahnya menjadi hidangan lezat. Setiap tamu yang datang selalu diberi edukasi seputar jamur.
Strategi word of mouth berhasil membuat warung kecilnya mulai ramai pengunjung. Namun, keterbatasan modal sempat menjadi kendala. Di awal merintis ruko, Ratidjo hanya memiliki dana sebesar Rp200 ribu untuk membeli meja dan kursi bekas di pasar luar. Bahkan, saat kapasitas restoran tidak muat, ia harus meminjam kursi dari RT dan RW setempat.
Lompatan besar terjadi pada tahun 2006 ketika Bank BRI memberikan modal kepercayaan sebesar Rp25 juta. Dari sinilah Jejamuran mulai memperluas areanya hingga mampu menampung 2.000 hingga 3.000 konsumen per hari.

Menghidupkan Ekonomi Petani Lokal
Kini, Jejamuran tidak lagi sekadar rumah makan. Bisnis mereka telah berkembang dari hulu ke hilir, mulai dari penjualan bibit jamur, media tanam (backlog), jamur segar, restoran, katering, paket pernikahan, hingga produk makanan kaleng kemasan.
Meskipun memiliki kapasitas untuk mengelola seluruh rantai produksi sendiri, Jejamuran tetap setia pada misi sosialnya yaitu menghidupkan petani lokal. Mereka fokus pada Jejamuran, dan pasokan jamur disuplai oleh petani plasma yang sudah dibina sejak tahun 1990-an.
Arief Nugroho, pengelola agrowisata Jejamuran, menjelaskan bahwa bisnis ini penuh liku-liku karena berurusan dengan makhluk hidup. Proses awal tidak selalu sukses, karena perubahan suhu atau human error bisa menyebabkan kerugian besar. Contohnya, listrik padam pada jam 1 malam bisa menjadi bencana jika penjaga ketiduran dan tidak segera menyalakan genset.

Peluang Bisnis Jamur
Bagi Anda yang tertarik mengikuti jejak sukses Jejamuran, Arief membocorkan bahwa modal awal budidaya jamur sangat terjangkau. Harga Rp2.500 per satu backlog jamur. Masa panen 1 backlog bisa dipanen hingga 3 kali, lalu hasilnya sekitar 200–300 gram jamur segar per sekali panen.
Dengan konsep belajar perlahan mulai dari merawat 1 backlog, naik ke 10.000, hingga ratusan ribu, siapa saja bisa memulai bisnis ini dari pekarangan rumah. Bermodalkan ketekunan, edukasi yang tulus kepada masyarakat, serta keberanian mengambil peluang bersama mitra perbankan seperti BRI, jamur yang dulunya dianggap sebelah mata kini sukses menjadi ladang bisnis bernilai tinggi.
BRI terus memperkuat posisinya sebagai penyokong utama ekonomi kerakyatan melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Hingga akhir tahun 2025, BRI mencatatkan pencapaian signifikan dengan total penyaluran kredit mencapai Rp178,08 triliun yang menjangkau sekitar 3,8 juta debitur di seluruh Indonesia.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menegaskan bahwa KUR merupakan instrumen strategis perusahaan dalam mendukung sektor usaha mikro dan sektor produktif, khususnya di bidang pertanian. “Melalui KUR, BRI berupaya menghadirkan pembiayaan yang mudah diakses, tepat sasaran, serta berkelanjutan,” ujar Hery Gunardi.




