Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Revolusi Hijau Lamongan: Menanam Padi dengan Rice Transplanter, Mentan Janjikan Dukungan

    2 Juni 2026

    Ketika Haji Jadi Puncak Pengorbanan Sejati

    2 Juni 2026

    BPSDM kuatkan kinerja ASN dan pemahaman KUHP baru lewat apel virtual

    2 Juni 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Rabu, 3 Juni 2026
    Trending
    • Revolusi Hijau Lamongan: Menanam Padi dengan Rice Transplanter, Mentan Janjikan Dukungan
    • Ketika Haji Jadi Puncak Pengorbanan Sejati
    • BPSDM kuatkan kinerja ASN dan pemahaman KUHP baru lewat apel virtual
    • 5 Bahaya Utang Saat Perusahaan Ekspansi
    • Ahmad Syah Farhan, Bos Hanania Travel yang Diduga Tipu Korban Umrah dengan Rp 60 Miliar
    • Sering merasa minder? Ini cara mengembalikan kepercayaan diri
    • Apa Itu Resisten Tepung? Rahasia Nasi Dingin yang Lebih Baik untuk Gula Darah
    • Karawang Kian Sibuk, Saige Luncurkan Pabrik Motor Listrik Berkapasitas Besar
    • Jadwal dan Harga Tiket Bus AKAP Bali ke Jawa Minggu (31/5)!
    • 3 Peran Suami Toxic Baim Wong di Film, Terbaru di Suamiku Lukaku
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Kajian Islam»Ketika Haji Jadi Puncak Pengorbanan Sejati

    Ketika Haji Jadi Puncak Pengorbanan Sejati

    adm_imradm_imr2 Juni 20261 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Perjalanan Haji: Pengorbanan dan Kepasrahan yang Menggetarkan Jiwa

    Haji adalah salah satu ibadah yang paling mulia dalam agama Islam. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

    “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 27)

    Musim haji kembali tiba. Bulan Zulhijah, bulan penghabisan yang menandai akhir tahun Hijriyah, telah tampak hilalnya. Bagi umat Islam, bulan ini adalah bulan penuh makna, di mana jiwa-jiwa yang beriman menyambutnya dengan penuh haru dan kerinduan. Ada yang sedang mempersiapkan diri untuk berhaji, sementara ada juga yang masih menunggu giliran.

    Tidak sedikit bukti pengorbanan nyata terlihat dari para jemaah haji. Mereka yang berhasil mendapat kesempatan menginjakkan kaki di tanah suci, memiliki kisah-kisah yang menginspirasi. Ada yang berasal dari kalangan tukang bubur, pemungut sampah, hingga pedagang asongan. Hasil keringat mereka selama bertahun-tahun, baik dari mengepul barang bekas maupun dari sisa keuntungan dagangan, menjadi tiket menuju Baitullah.

    Secara teknis, haji hanya wajib bagi yang mampu. Namun, sejarah dan realita mengajarkan bahwa kemampuan tidak hanya tentang uang atau kesehatan, tetapi juga tentang kesiapan ruhiyyah (jiwa) yang telah remuk redam dalam pasrah. Di sinilah puncak pengorbanan itu muncul.

    Menunaikan haji berarti bersiap melepaskan segalanya. Para jemaah harus merelakan kehangatan pelukan anak dan istri, menanggalkan jabatan dan status sosial, lalu berjalan ribuan kilometer hanya dengan berbalut dua lembar kain putih tanpa jahitan. Di hadapan Ka’bah, raja dan jelata sama-sama melebur dalam rupa yang sama.

    Jika melihat sejarah, tantangan perjalanan haji di masa lalu jauh lebih berat dibanding saat ini. Pada masa ketika pesawat belum ada, jemaah haji harus bertaruh nasib di atas kapal laut selama berbulan-bulan bahkan setahun. Samudra Hindia menjadi saksi bisu bagi banyak jemaah yang gugur dan syahid di tengah ombak besar sebelum sempat menatap Ka’bah.

    Kain ihram yang mereka bawa dari rumah, seketika berubah menjadi kain kafan yang menemani jasad mereka tenggelam ke dasar laut. Namun, segala bahaya yang mengintai di tengah lautan itu telah mereka ikhlaskan sejak pertama kali hati memantapkan niat untuk memenuhi seruan-Nya.

    Keluarga yang melepas di dermaga pelabuhan juga tahu betul bahwa lambaian tangan hari itu mungkin saja menjadi perpisahan terakhir di dunia.

    Esensi pengorbanan dalam ibadah haji sejatinya berakar dari tapak tilas sejarah keluarga Nabi Ibrahim a.s. Betapa teteguhnya hati Sayyidah Hajar yang ditinggalkan di lembah tandus Bakkah tanpa bekal memadai, lalu harus berlari bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah demi mencari seteguk air untuk bayinya, Ismail. Pengorbanan fisik dan mental yang luar biasa inilah yang kini kita kenang dalam ritual sa’i.

    Puncaknya adalah ketika perintah penyembelihan Ismail turun, sebuah ujian cinta tertinggi yang mengikis habis ego kebapapan Nabi Ibrahim demi ketaatan mutlak kepada Sang Khalik. Padahal, tak terhitung berapa puluh tahun Ibrahim menanti kehadiran seorang anaknya yang bernama Ismail.

    Allah menguji ketulusan Ibrahim a.s. dalam menjalankan perintah-Nya. Ibrahim pun menyahut segala perintah Allah dengan tunduk patuh. Sehingga, sempurnalah keislaman (ketundukpatuhan) Ibrahim di hadapan Allah, Sang Khalik. Ibrahim dan keluarganya sudah membuktikan kerelaan mereka dengan mengorbankan segala yang mereka cintai dan miliki, demi kecintaan kepada Tuhan semata.

    Tunduk, patuh, dan pasrah kepada Tuhan semesta, adalah sifat yang harusnya dimiliki oleh setiap pribadi muslim. Pengorbanan yang demikian luar biasa dibutuhkan saat melaksanakan haji, merupakan bentuk puncak dari pembuktian keislaman (ketundukan) seorang hamba di hadapan Sang Khalik.

    Di dalam menyahut panggilan-Nya, jemaah haji disunahkan untuk mengucapkan kata; Labbaikallahumma..labbaik…( Telah kami jawab panggilan-Mu, dengan patuh dan tunduk duhai Allah). Kumpulan kata yang cukup menggambarkan bagaimana segala kesulitan dan kepayahan, dikorbankan dengan tunduk patuh pada Rabbul ‘alamin.

    Secara logika matematis manusiawi, jika ibadah haji hanya digerakkan oleh kalkulasi materi, niscaya akan banyak orang yang enggan melaksanakannya. Modal yang dikumpulkan dengan susah payah selama berpuluh-puluh tahun tentu terasa lebih logis jika digunakan untuk modal usaha, memperluas aset, atau sekadar meningkatkan taraf hidup di tanah air. Namun, di hadapan cinta kepada Allah, logika itu luruh. Semuanya dikorbankan dengan penuh keikhlasan.

    Begitu pula ketika mereka sampai di tanah suci. Ritual tawaf, sai, hingga wukuf di Arafah adalah syiar yang membutuhkan ketahanan fisik dan kelapangan sabar yang luar biasa. Tanpa fondasi keikhlasan yang kokoh, semua keletihan dan pengorbanan materi tersebut akan menguap sia-sia menjadi sekadar perjalanan wisata religius tanpa makna.

    Mengenai hakikat cinta dan kepasrahan total ini, seorang sufi pernah bergumam di dalam syairnya yang menggetarkan jiwa,

    “Hanya kepada-Mu rindu ini melangkah; jika tidak, untuk apa lelah bersiap menempuh perjalanan?

    Hanya dari-Mu segala karunia mengalir; jika tidak, sirnalah sudah seluruh dambaan.

    Hanya pada-Mu harapan ini bersandar; jika tidak, merugilah jiwa yang menggantungkan impian.

    Hanya tentang-Mu kebenaran itu nyata; jika tidak, setiap cerita hanyalah bualan belaka.

    Hanya untuk-Mu seluruh cinta dipersembahkan; jika tidak, sia-sialah segala rasa di dalam dada.

    Hanya cahaya-Mu yang menerangi semesta; jika tidak, indahnya purnama pun tak ubahnya malam yang gulita.”

    Ketika musim haji kembali memanggil, kita yang hari ini masih menatap Ka’bah dari balik layar kaca hanya bisa melangitkan pinta dengan hati yang patah. Kita sadar diri betapa berlumurnya jiwa ini dengan dosa, betapa tidak pantasnya diri ini bertamu ke rumah-Nya yang suci. Kita sering kali mengaku rindu, tetapi hati kita masih sibuk dengan kesenangan duniawi yang fana.

    Namun, ya Rabb, Penguasa tiap-tiap hati yang merindu. Jika di musim haji kali ini nama kami belum tertulis di papan panggilan-Mu. Jagalah iman ini agar tidak padam dalam penantian.

    Panggillah kami, ketuklah pintu hati kami, dan izinkan seluruh raga, harta, serta sisa usia ini kami korbankan demi bisa bersimpuh, bersujud di bawah naungan ampunan-Mu pada musim haji berikutnya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Fase Armuzna Berakhir, Menhaj Ingatkan Jamaah Haji Tuntaskan Thawaf Ifadhah Sebelum Pulang

    By adm_imr2 Juni 20261 Views

    Bolehkah Menjual Daging Kurban? Ini Jawaban Ulama dan Dasar Hukumnya

    By adm_imr2 Juni 20261 Views

    Wamenhaj Akui Kekurangan Pelayanan Haji di Armuzna

    By adm_imr2 Juni 20265 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Revolusi Hijau Lamongan: Menanam Padi dengan Rice Transplanter, Mentan Janjikan Dukungan

    2 Juni 2026

    Ketika Haji Jadi Puncak Pengorbanan Sejati

    2 Juni 2026

    BPSDM kuatkan kinerja ASN dan pemahaman KUHP baru lewat apel virtual

    2 Juni 2026

    5 Bahaya Utang Saat Perusahaan Ekspansi

    2 Juni 2026
    Berita Populer

    HUT ke-112 Kota Malang Jadi Momentum Evaluasi, Wali Kota Tekankan Penyelesaian Masalah Prioritas

    Kota Malang 1 April 2026

    Kota Malang- Wahyu Hidayat menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang bukan…

    Kasus Perzinaan Oknum ASN Kota Batu Berujung Penjara, Vonis Diperberat di Tingkat Banding

    29 April 2026

    Banyak Layani Luar Daerah, Dinkes Kabupaten Malang Ubah UPT Kalibrasi Jadi BLUD

    27 Maret 2026

    Kejagung Sita Aset Kasus Ekspor CPO di Kota Malang, Tanah 157 Meter Persegi Dipasangi Plang

    2 Mei 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?