Bahaya Vape yang Tak Boleh Disepelekan
Vape sering dianggap sebagai alternatif lebih aman dari rokok konvensional, terutama karena asapnya yang lebih tipis dan aromanya yang manis. Namun, di balik penampilannya yang menarik, vape tetap menyimpan risiko kesehatan yang serius, terutama bagi anak-anak.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Respirologi sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Cynthia Centauri, Sp.A., Subsp.Respi.(K), menjelaskan bahwa vape mengandung berbagai zat berbahaya yang dapat merusak sistem pernapasan. Ia menegaskan bahwa anggapan bahwa vape lebih aman dibandingkan rokok biasa adalah salah besar.
“Kalau saat ini mungkin ada anggapan vape lebih aman dari rokok biasa, itu salah sekali. Ternyata keduanya sama-sama merusak,” ujarnya dalam sebuah media briefing virtual.
Zat Berbahaya dalam Vape
Uap yang dihasilkan oleh vape tetap mengandung nikotin serta berbagai senyawa kimia yang bisa mengiritasi saluran napas. Meskipun kadar logam berat dalam vape disebut lebih sedikit dibandingkan rokok konvensional, beberapa produk vape justru memiliki kadar nikotin yang lebih tinggi. Selain itu, proses pemanasan cairan vape juga menghasilkan senyawa kimia lain yang berpotensi menimbulkan peradangan pada jaringan paru-paru.
Karena itu, vape tidak dapat dikategorikan sebagai produk yang aman bagi kesehatan. Bahaya vape tidak hanya dialami oleh orang yang menggunakannya, tetapi juga dapat memengaruhi anggota keluarga yang berada di lingkungan yang sama.
Paparan Asap Tangan Ketiga
dr. Cynthia juga mengingatkan bahwa bahaya vape tidak hanya berasal dari asap yang dihirup secara langsung. Anak-anak tetap dapat terpapar melalui partikel halus yang menempel pada berbagai benda di dalam rumah, seperti sofa, kasur, karpet, gorden, hingga pakaian orang yang menggunakan vape. Paparan tersebut dikenal sebagai third-hand smoke atau asap tangan ketiga.
“Nah, partikel asap perokok atau asap vape tetap menempel. Jadi anak yang tidak menghirup langsung asapnya tetap bisa menjadi perokok tangan ketiga,” jelasnya.
Paparan asap tangan ketiga sering kali luput dari perhatian karena tidak terlihat oleh mata. Namun, dampaknya sangat nyata. Paparan asap rokok maupun vape dapat mengganggu mekanisme pertahanan alami saluran pernapasan. Rambut-rambut halus pada saluran napas yang berfungsi menyaring kotoran menjadi rusak sehingga virus dan bakteri lebih mudah menyebabkan infeksi.
Di sisi lain, produksi lendir pada saluran napas juga meningkat, sehingga memicu penyumbatan dan memperbesar risiko gangguan pernapasan. Akibatnya, anak yang sering terpapar memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami batuk berulang, infeksi saluran pernapasan, asma, bronkitis, hingga pneumonia.
Dampak Jangka Panjang
Menurut dr. Cynthia, dampak jangka panjang rokok konvensional telah dibuktikan melalui berbagai penelitian selama puluhan tahun. Sementara itu, vape merupakan produk yang relatif baru, sehingga efek kesehatannya dalam jangka panjang masih terus diteliti. Meski demikian, bukan berarti vape dapat dianggap aman.
“Tapi kalau vape, karena masih baru beredar, kita belum tahu apakah nanti di kemudian hari juga akan menunjukkan dampak yang serupa. Bisa saja, bukan berarti lebih aman,” katanya.
Langkah Pencegahan
Karena itu, dr. Cynthia mengimbau para orang tua untuk tidak merokok maupun menggunakan vape di dalam rumah atau di sekitar anak. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi paparan zat berbahaya yang dapat mengganggu pertumbuhan dan kesehatan paru sejak usia dini.
Mengurangi paparan asap rokok dan vape merupakan salah satu langkah penting untuk mencegah gangguan pernapasan yang dapat berdampak hingga anak dewasa.







