Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    PWI Bulungan raih 22 medali, finis ketiga Porwada II Kaltara 2026

    12 Juli 2026

    Daya Ledak Tinggi! Ini Alasan Madura United Incar Gali Freitas dari Persebaya Surabaya

    12 Juli 2026

    Harga saham BACH melonjak di BEI, ARA siap bertahan jika naik ke level ini

    12 Juli 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Senin, 13 Juli 2026
    Trending
    • PWI Bulungan raih 22 medali, finis ketiga Porwada II Kaltara 2026
    • Daya Ledak Tinggi! Ini Alasan Madura United Incar Gali Freitas dari Persebaya Surabaya
    • Harga saham BACH melonjak di BEI, ARA siap bertahan jika naik ke level ini
    • Karina Ranau Memaafkan Terduga Pelaku, Tapi Minta Proses Hukum Berlanjut
    • Qari Kaltim Juara Dunia di Malaysia, Bukti Peningkatan Pesat Pembinaan Al-Qur’an
    • Orang yang Suka Sendirian Punya 6 Hobi yang Membuat Mereka Bahagia
    • Manfaat Kopi Pagi: Rekomendasi Tempat Nongkrong di Kendari
    • Tujuh Keunggulan VinFast VF MPV 7, Pilihan Mobil Listrik Keluarga Indonesia
    • Ada Perbedaan, Taqwaddin Minta Advokat Pahami KUHAP 2026
    • Cari oleh-oleh ikonik? Ini 4 tempat legendaris di Bandung yang wajib dikunjungi
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Internasional»Yen Melemah ke Level Terendah sejak 1986, Jepang Siaga Hadapi Krisis

    Yen Melemah ke Level Terendah sejak 1986, Jepang Siaga Hadapi Krisis

    adm_imradm_imr12 Juli 20261 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Penyebab Utama Yen Terus Melemah

    Salah satu penyebab utama melemahnya yen adalah perbedaan suku bunga antara Jepang dan Amerika Serikat. Bank of Japan (BoJ) memang telah menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1 persen, level tertinggi dalam sekitar 31 tahun. Namun, angka tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan suku bunga di AS sehingga aset berbasis dolar tetap menawarkan imbal hasil yang lebih menarik bagi investor.

    Kondisi ini membuat banyak investor meminjam yen dengan bunga rendah, lalu mengalihkan dana tersebut ke investasi di luar Jepang yang memberikan keuntungan lebih besar. Arus modal yang keluar dari Jepang akhirnya meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sekaligus menekan nilai yen. Analis pasar Axel Rudolph dari IG menjelaskan bahwa ekspektasi kenaikan suku bunga AS semakin memperlebar selisih kebijakan moneter kedua negara sehingga dolar semakin diminati pasar.

    Selain itu, pemerintah Jepang juga menghadapi dilema. Jika BoJ menaikkan suku bunga terlalu agresif untuk memperkuat yen, biaya pinjaman di dalam negeri akan meningkat dan berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi. Karena itu, bank sentral harus menjaga keseimbangan antara mengendalikan inflasi dan mempertahankan momentum pemulihan ekonomi.

    Lonjakan Harga Minyak Ikut Menekan Ekonomi Jepang

    Faktor lain yang membuat yen semakin tertekan adalah kenaikan harga minyak dunia. Jepang merupakan negara yang miskin sumber daya alam sehingga sangat bergantung pada impor energi. Sebelum konflik terbaru di Timur Tengah, sekitar 95 persen impor minyak Jepang berasal dari kawasan tersebut.

    Situasi menjadi semakin rumit setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang mengganggu stabilitas pasokan energi global. Kekhawatiran terhadap distribusi minyak melalui Selat Hormuz membuat harga minyak melonjak. Karena minyak diperdagangkan menggunakan dolar AS, Jepang harus menukarkan lebih banyak yen untuk membeli jumlah minyak yang sama.

    Akibatnya, biaya impor energi meningkat tajam dan memberi tekanan tambahan terhadap nilai tukar yen. Kenaikan harga energi juga mendorong biaya produksi berbagai sektor industri sehingga perusahaan harus mengeluarkan pengeluaran yang lebih besar. Pada akhirnya, beban tersebut ikut dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga berbagai barang dan jasa.

    Ada Keuntungan dari Yen Lemah, Tapi Masyarakat Juga Menanggung Bebannya

    Melemahnya yen ternyata gak sepenuhnya menjadi kabar buruk bagi Jepang. Nilai tukar yang lebih rendah membuat produk-produk Jepang menjadi lebih murah di pasar internasional. Hal ini meningkatkan daya saing eksportir Jepang, terutama perusahaan otomotif, elektronik, dan berbagai industri manufaktur yang selama ini mengandalkan pasar luar negeri.

    Selain itu, sektor pariwisata juga menikmati keuntungan besar. Wisatawan asing berbondong-bondong datang ke Jepang karena biaya belanja, penginapan, dan liburan menjadi relatif lebih murah jika dibandingkan dengan negara asal mereka. Gak heran jika jumlah kunjungan wisatawan internasional terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir.

    Namun, keuntungan tersebut gak dirasakan secara merata. Masyarakat Jepang justru harus menghadapi kenaikan harga bahan bakar, listrik, makanan, hingga berbagai barang impor lainnya. Pemerintah memang memberikan subsidi energi untuk menahan lonjakan harga, tapi inflasi tetap sulit dihindari karena perusahaan akhirnya meneruskan kenaikan biaya produksi kepada konsumen. Bahkan, kenaikan harga kebutuhan pokok sempat memicu ketidakpuasan publik terhadap pemerintahan sebelumnya.

    Jepang Rela Menggelontorkan Lebih dari Rp1.100 Triliun Demi Menahan Pelemahan Yen

    Menghadapi tekanan yang terus membesar, pemerintah Jepang gak tinggal diam. Salah satu langkah yang ditempuh adalah melakukan intervensi di pasar valuta asing dengan membeli yen dan menjual dolar AS menggunakan cadangan devisa negara. Tujuannya adalah meningkatkan permintaan terhadap yen sehingga nilainya bisa kembali menguat dan gejolak pasar dapat diredam.

    Berdasarkan data pemerintah Jepang, negara tersebut menghabiskan sekitar 11,7 triliun yen untuk intervensi pada periode akhir April hingga akhir Mei 2026. Nilai tersebut setara sekitar US$73 miliar atau kurang lebih Rp1.180 triliun dengan asumsi kurs sekitar Rp16.170 per dolar AS. Angka ini menunjukkan betapa seriusnya pemerintah Jepang dalam menjaga stabilitas mata uangnya agar pelemahan gak berlangsung semakin dalam.

    Meski demikian, intervensi bukanlah solusi yang bisa dilakukan terus-menerus. Pemerintah Jepang juga rutin memberikan sinyal kepada pelaku pasar bahwa mereka siap kembali turun tangan kapan saja jika pergerakan yen dianggap terlalu berlebihan. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi aksi spekulasi yang mempercepat pelemahan mata uang Jepang.

    Tantangan Jepang Belum Selesai Meski Suku Bunga Sudah Naik

    Kenaikan suku bunga Bank of Japan menjadi 1 persen, level tertinggi dalam sekitar 31 tahun, memang menjadi langkah penting untuk memperkuat yen. Namun, banyak ekonom menilai kebijakan tersebut belum cukup untuk mengubah arah pergerakan mata uang Jepang secara signifikan. Selama selisih suku bunga dengan Amerika Serikat masih lebar, investor diperkirakan tetap akan memilih aset berbasis dolar yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

    Ekonom Michael Wan dari MUFG Bank menjelaskan bahwa pemerintah Jepang dapat mendorong dana milik lembaga pensiun dan perusahaan asuransi untuk kembali diinvestasikan di dalam negeri. Langkah tersebut berpotensi meningkatkan permintaan terhadap yen sekaligus mengurangi arus modal yang mengalir ke luar negeri. Menurutnya, pemerintah juga perlu menjaga disiplin fiskal dan tetap memberikan ruang bagi Bank of Japan untuk menjalankan kebijakan moneternya secara independen agar kepercayaan pasar tetap terjaga.

    Dengan kata lain, tantangan Jepang bukan sekadar mengembalikan nilai tukar yen ke level yang lebih kuat. Pemerintah juga harus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pengendalian inflasi, stabilitas harga energi, dan kepercayaan investor. Jika salah satu aspek tersebut terganggu, tekanan terhadap yen berpotensi kembali meningkat meski berbagai kebijakan telah diterapkan.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Harapan Juara Piala Dunia 2026 Sirna, Ini Kebiasaan Unik di Balik Pemanggilan Pemain Timnas Cape Verde, Dikirim via LinkedIn

    By adm_imr12 Juli 20261 Views

    Nyimas Laula, Jurnalis Foto yang Viral Usai Teguran di Gym Bali

    By adm_imr12 Juli 20261 Views

    Menguji Nilai Moral dan Pragmatisme Istana: Catatan Kunjungan Narendra Modi

    By adm_imr12 Juli 20262 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    PWI Bulungan raih 22 medali, finis ketiga Porwada II Kaltara 2026

    12 Juli 2026

    Daya Ledak Tinggi! Ini Alasan Madura United Incar Gali Freitas dari Persebaya Surabaya

    12 Juli 2026

    Harga saham BACH melonjak di BEI, ARA siap bertahan jika naik ke level ini

    12 Juli 2026

    Karina Ranau Memaafkan Terduga Pelaku, Tapi Minta Proses Hukum Berlanjut

    12 Juli 2026
    Berita Populer

    HUT ke-112 Kota Malang Jadi Momentum Evaluasi, Wali Kota Tekankan Penyelesaian Masalah Prioritas

    Kota Malang 1 April 2026

    Kota Malang- Wahyu Hidayat menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang bukan…

    Kasus Perzinaan Oknum ASN Kota Batu Berujung Penjara, Vonis Diperberat di Tingkat Banding

    29 April 2026

    Gus Iqdam Bongkar Aksi Kapolresta Malang Saat Kanjuruhan Memanas, Ribuan Jemaah di Stadion Gajayana Menangis!

    4 Juni 2026

    Banyak Layani Luar Daerah, Dinkes Kabupaten Malang Ubah UPT Kalibrasi Jadi BLUD

    27 Maret 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?