Karina Ranau Memaafkan Pelaku, Tapi Tetap Ingin Proses Hukum Berjalan
Karina Ranau, korban penganiayaan yang terjadi di warung milik mendiang Epy Kusnandar, mengungkapkan bahwa dirinya telah memaafkan pria yang diduga melakukan tindakan kekerasan terhadapnya. Meski demikian, ia tetap berharap proses hukum berjalan hingga tuntas.
Kuasa hukum Karina, Hendro Widodo, menjelaskan bahwa keputusan untuk menggunakan restorative justice (keadilan restoratif) sepenuhnya diserahkan kepada korban. Menurutnya, syarat-syarat dalam restorative justice harus dipenuhi, seperti adanya pemberian maaf dan pemulihan hak korban. Namun, meskipun secara pribadi sudah memaafkan pelaku, Karina tetap ingin agar proses hukum berjalan agar pelaku bertanggung jawab atas kesalahannya.
“Klien kami secara manusia sudah memaafkan pelaku, namun secara proses hukum klien kami tetap meminta keadilan karena pemenuhan hak yang dimaksud klien kami adalah ketika pelaku ihukum mempertanggungjawabkan kesalahannya dan menjadi pelajaran bagi masyarakat Indonesia,” ujar Hendro.
Keluarga Pelaku Minta Maaf, Tapi Karina Pilih Proses Hukum
Sebelumnya, Karina mengatakan bahwa pihak keluarga pelaku sempat datang ke warungnya untuk meminta maaf dan menawarkan penyelesaian secara kekeluargaan. Namun, ia menolak tawaran tersebut dengan tegas.
Bagi Karina, kasus ini bukan hanya masalah pribadi, melainkan juga tentang harga diri seorang perempuan dan sebagai pelajaran moral bagi laki-laki agar tidak bertindak kasar di ruang publik. Ia menegaskan bahwa keinginan untuk damai terlalu cepat, karena tidak bisa menggantikan rasa sakit yang dialaminya.
“Tadinya saya sempat mau ke psikolog cuman saya masih mengerem diri karena pada saat almarhum suami meninggal saya pernah ke psikolog juga untuk bangkit dan sembuh dan saya sudah sembuh. Saya menghindari untuk pergi ke psikolog itu tapi jika memang itu nantinya saya perlukan mungkin saya akan pergi ke sana,” ucap Karina.
Pengakuan Pelaku dan Kronologis Kejadian
Dalam wawancara tersebut, Karina juga mengungkap informasi yang didengarnya mengenai pengakuan terduga pelaku. Menurutnya, pelaku diduga mengira dirinya hanya pegawai yang bekerja di warung, bukan pemilik usaha tersebut.
“Saya dengar, tapi ini masih simpang siur. Yang saya dengar katanya kata pelaku itu pada saat kejadian dia tidak tahu kalau saya itu owner-nya. Dia bilang dikiranya saya itu ibu-ibu yang kerja di warung itu yang jaga warung itu. Dia bilang gitu. Kiranya dia gak tahu saya owner-nya karena pada saat itu saya lagi nyapu, saya sambil nyapu di depan warung sambil beres-beres,” tutur Karina.
Kronologis Insiden di Warung
Menurut kronologis yang dijelaskan oleh Karina, insiden terjadi di warung jukut milik mendiang Epy Kusnandar. Saat itu, Karina sedang beraktivitas di warung dan merasa tidak nyaman sejak awal.
“Pokoknya setiap hari otak saya berpikir untuk warung ini,” ujar Karina dengan nada serius.
Pria tersebut datang menjelang jam operasional warung. Saat itu, terpal bagian depan masih tertutup dan para karyawan masih melakukan persiapan. Karina mengaku sudah merasa tidak nyaman sejak awal.
“Dia datang langsung buka ini,” katanya sambil menunjuk ke arah bagian depan warung. “Langsung bilang, ‘Pesen dong! Ini nila berapa?’ gitu,” sambung Karina.
Situasi semakin memanas ketika persoalan parkir muncul. Karina menjelaskan area parkir warungnya terbatas sehingga ia berusaha menjaga agar kendaraan pelanggan tidak mengganggu usaha lain di sekitar lokasi. Saat warung mulai dibuka, Karina yang sedang menyapu mencoba meminta pria itu memindahkan kendaraannya.
“Saya lagi nyapu. Saya bilang, ‘Pak, motornya bisa dipindahin dulu di sana ya Pak? Soalnya enggak enak’ gitu,” katanya. Awalnya pria itu menjawab akan memindahkan motornya. Namun ketika Karina kembali meminta agar dilakukan saat itu juga, respons yang diterimanya justru berupa bentakan.
Dalam keadaan emosi, setelah itu, pria tersebut menghampirinya. Karina menggerakkan kedua tangannya untuk memperagakan bagaimana dirinya melepaskan sapu dan pengki yang sedang dipegang karena terkejut.
“Pada saat dia kencang, saya kan megang ini (sapu). Saya digituin (bentak) gimana sih, saya lepas ini, pengki sama sapunya saya lepas,” tuturnya.







