Malang – Gelaran turnamen sepak bola usia dini Piala Soeratin U-13 dan U-15 tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Askot PSSI Kota Malang menuai kritik tajam setelah panitia resmi menetapkan biaya pendaftaran sebesar Rp3.250.000 per tim pada tenggat penutupan registrasi, Minggu (12/7/2026) malam.
Langkah penyesuaian tarif kompetisi yang diambil sepihak oleh panitia guna menutupi defisit anggaran akibat kuota sementara yang baru menyentuh 17 tim ini memicu reaksi keras di lapangan.
Sejumlah pengurus Sekolah Sepak Bola (SSB) secara terbuka melayangkan protes dan mengaku sangat keberatan dengan tingginya nilai kontribusi finansial tersebut, mengingat beban biaya operasional dinilai terlalu mencekik bagi klub-klub lokal independen.
Alasan Manajemen Klub Keberatan dengan Biaya Turnamen
Tingginya nominal investasi yang dibebankan oleh Panitia Penyelenggara Askot PSSI Kota Malang memicu kekhawatiran akan kelangsungan pembinaan bakat muda di Malang Raya.
Beberapa perwakilan manajemen klub membeberkan alasan di balik gelombang protes ini:
Beban Finansial Wali Murid: Mayoritas SSB mandiri di Kota Malang mengandalkan pendanaan swadaya dari orang tua pemain. Angka Rp3,25 juta di luar biaya akomodasi, jersey, dan operasional harian dinilai terlalu berat.
Minimnya Transparansi Anggaran: Calon peserta mempertanyakan rincian revisi anggaran yang dipaparkan panitia pada Sabtu sore sebelumnya, di mana lonjakan biaya terjadi justru ketika jumlah peserta minim (di bawah estimasi awal).
Risiko Gotong Royong: Jika dipaksakan, banyak klub lokal terancam mundur dari kompetisi sepak bola resmi kelompok umur (U-13 dan U-15) musim ini akibat kendala dana.
Jeritan Pengurus SSB: “Biaya Pembinaan Usia Dini Terlalu Mahal”
Salah satu pengurus tim calon peserta yang enggan disebutkan namanya secara blak-blakan menyuarakan kegelisahannya terkait regulasi finansial Piala Soeratin musim ini.
”Kami sangat berkomitmen melahirkan bibit pesepak bola untuk Kota Malang, tetapi jika biaya pendaftaran kompetisi resmi sekadar untuk tingkat Askot saja mencapai Rp3.250.000, ini sudah tidak sehat bagi ekosistem pembinaan usia dini,”
“Uang dari mana lagi kalau bukan membebankan orang tua?” ujarnya dengan nada kecewa.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Panitia Penyelenggara Askot PSSI Kota Malang masih melakukan evaluasi internal pasca-penutupan pendaftaran.
Para peserta mendesak adanya ruang dialog atau pemberian subsidi khusus agar gelaran akbar Piala Soeratin 2026 tidak kehilangan marwahnya sebagai panggung pembinaan prestasi, bukan ajang komersialisasi. (Tn)







