Tim BSMI Berangkat ke Maumere untuk Bantu Korban Gempa
Tim Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) dari Jawa Timur tiba di Maumere, Kabupaten Sikka, pada hari Minggu (17/8/2026) sore. Mereka datang dengan tujuan membantu warga yang terdampak gempa melalui layanan medis dan bantuan logistik. Keberangkatan tim ini dilakukan setelah mendapatkan informasi tentang gempa Flores yang beredar melalui media sosial.
Setelah tiba di Maumere, tim langsung mempersiapkan posko pelayanan medis dan logistik. Wahid Alfin, salah satu relawan BSMI, mengatakan bahwa mereka langsung mulai bekerja tanpa banyak waktu untuk beristirahat. Tim yang terdiri dari dr. Ferry Eko, Ns. Nuzulul, dan Slamet R yang menangani logistik, berangkat dari Jawa Timur setelah mengetahui adanya gempa.
“Saya datang ke Maumere tanggal 17 hari Minggu. Sore sudah sampai di sini, kita langsung bikin posko di wilayah kota,” ujar Wahid saat ditemui di Maumere usai membantu pengungsi.
Keberangkatan tim BSMI ini bermula dari sebuah informasi yang diterima melalui media sosial. Setelah mengetahui gempa mengguncang Flores, Wahid langsung berkoordinasi dengan BSMI Jawa Timur dan BSMI Pusat. Awalnya, rencana mereka adalah menuju Manggarai atau Flores karena di sana lebih parah. Namun, informasi dari rekan-rekan di lapangan mengubah rencana tersebut.
“Awalnya kami mau menuju ke Manggarai atau Flores karena di sana lebih parah. Terus saya dapat saran dari teman yang ada di sini, termasuk teman kami dari JNE, bahwa Maumere juga butuh tenaga medis dan logistik,” kata Wahid.
Setelah tiba di Maumere, tim langsung berkoordinasi dengan BPBD/BNPB dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka. Mereka kemudian bergerak ke sejumlah lokasi terdampak. Di Desa Wuring, sebanyak 82 warga mendapat pelayanan kesehatan dari tim BSMI.
Dari lokasi pengungsian, Wahid juga melihat kebutuhan warga yang tidak kalah mendesak. Sejumlah tenda masih kekurangan perlengkapan.
“Kita juga membawa logistik makanan sembako. Termasuk juga kita bawa terpal, selimut karena saya melihat tenda itu kekurangan terpal,” ujarnya.
Pelayanan di Tengah Gempa Susulan
Perjalanan tim kemudian berlanjut ke Nangahure, Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat. Di tengah pelayanan kesehatan, gempa susulan kembali mengguncang. Warga yang sedang diperiksa panik dan berlarian meninggalkan tempat pelayanan.
Wahid dan anggota timnya memilih tetap berada di lokasi. “Kemarin pas kami lagi ada pelayanan, ada gempa lumayan besar. Pasiennya pada lari, sementara kami masih duduk,” kata Wahid.
Setelah keadaan kembali tenang, relawan mengingatkan warga agar tidak panik ketika gempa susulan terjadi. Warga juga diminta tidak langsung berlari karena dapat menimbulkan risiko lain.
Bagi tim BSMI, perjalanan ke Flores belum selesai. Setelah pelayanan di Sikka, mereka melanjutkan asesmen ke Ende dan Nagekeo melalui jalur selatan, kemudian kembali ke Maumere melalui jalur utara. BSMI juga mengerahkan tim dari NTB, Lombok, dan Bali untuk membantu warga di Manggarai Timur. Tim tersebut tiba menggunakan kapal laut pada 17 Agustus 2026.
Tantangan di Lapangan
Wahid mencermati bahwa di lapangan, para relawan tidak hanya berhadapan dengan kebutuhan warga, tetapi juga dengan keterbatasan informasi. Data mengenai lokasi terdampak yang mereka terima belum selalu jelas.
“Awalnya kesulitan untuk komunikasi, karena data yang kami terima juga simpang siur. Karena informasi begitu banyaknya, kita tidak bisa mendeteksi daerah mana yang memang belum atau sudah didatangi oleh relawan,” kata Wahid.
Karena itu, BSMI menyiapkan relawan dan kontak person di sejumlah wilayah terdampak. Pelayanan akan disesuaikan dengan kebutuhan warga, termasuk mereka yang masih bertahan di tenda setelah masa tanggap darurat berakhir.
Profil BSMI
Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) adalah sebuah organisasi yang bergerak di bidang kemanusiaan. Organisasi ini diresmikan pada tanggal 8 Juni 2002 oleh Ketua MUI KH Amidan di Gedung Pertemuan Kompleks Masjid Agung Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta.







