Kebijakan Sekolah di Banjarbaru Menghadapi Kabut Asap Akibat Karhutla
Disdikbud Balanjarbaru mengambil kebijakan untuk memperbolehkan siswa datang ke sekolah lebih siang karena kabut asap yang terjadi pada Kamis (20/8). Langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk melindungi kesehatan siswa dan memberikan kondisi yang lebih aman dalam proses belajar mengajar.
Kepala SMP 15 Banjarbaru, Herry, mengatakan bahwa mereka mengambil kebijakan mengizinkan siswa masuk lebih siang dari biasanya, yaitu pukul 07.00 Wita. Dalam situasi seperti ini, sekolah mempertimbangkan kualitas udara dan risiko kesehatan yang mungkin terjadi akibat kabut asap.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyebabkan kabut asap juga direspons oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Selatan. Mereka membolehkan SMA, SMK, dan SLB untuk melakukan pembelajaran dari rumah jika diperlukan.
Surat Edaran Disdikbud Kalsel Nomor 9 Tahun 2026 tentang Kesiapsiagaan dan Penyesuaian Penyelenggaraan Pembelajaran dalam Kondisi Kabut Asap Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan menetapkan beberapa aturan. Salah satunya adalah pengaturan jam masuk siswa sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah. Jika kualitas udara memburuk, aktivitas luar ruang seperti olahraga, upacara, dan apel harus dikurangi atau dipindahkan ke dalam ruangan.
Selain itu, sekolah diminta segera menerapkan skema pembelajaran dari rumah (PJJ) jika kondisi udara memicu tingkat bahaya kesehatan. Kepala Satuan Pendidikan wajib melakukan penyesuaian kegiatan pembelajaran dan berkoordinasi dengan pengawas Sekolah serta Dinas.
Ancaman Karhutla Menyentuh Sekolah-Sekolah
Ancaman karhutla dirasakan langsung oleh siswa dan guru saat terjadi kebakaran lahan di seberang SMKN 1 Sungaitabuk, Banjar. Peristiwa tersebut terjadi saat proses belajar mengajar berlangsung, membuat siswa berhamburan. Saat api mulai membesar, siswa-siswi di sekolah bahkan dibuat histeris, terutama ketika api menyentuh kabel.
Beruntung, relawan segera datang dan melakukan pemadaman sehingga api tidak sampai meluas. Namun, kebakaran tersebut tetap mengakibatkan kabut asap pekat di sekitar sekolah. Kepala SMKN 1 Sungaitabuk, Drs Ahmad Yanis, mengatakan bahwa pembelajaran sengaja dimundurkan ke pukul 09.00 Wita sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi asap.
Waka Kurikulum SMKN 1 Sungaitabuk, Gilang Dwi Kurniawan, menambahkan bahwa kondisi asap sudah mulai dirasakan di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, siswa diminta menggunakan masker selama berada di sekolah.
Dari pengalaman kemarin, selain perlindungan terhadap siswa, sekolah juga memperkuat langkah mitigasi untuk mengantisipasi kemungkinan api dari karhutla mendekati sekolah.
Respons Sekolah di Wilayah Lain
Terpisah, Kasi Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Banjar, M Yusup, mengatakan beberapa madrasah yang berada di wilayah Gambut ikut menjadi perhatian, di antaranya MTsN 1 Gambut, MTsN 2 Gambut dan MAN 3 Banjar. “Sementara ini yang berkoordinasi dengan MIN 4 Banjar,” ujarnya.
Menurut Yusup, pihaknya menyesuaikan kebijakan pembelajaran dengan kondisi di lapangan serta edaran yang dikeluarkan Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar terkait pembelajaran selama masa kabut asap.
Di Banjarmasin, Dinas Pendidikan (Disdik) berupaya melakukan tindakan preventif. “Kami belum memberlakukan penyesuaian jam masuk sekolah, namun nanti akan ada surat edaran terkait kewajiban penggunaan masker di sekolah,” ujar Kadisdik Ryan Utama.
Pihaknya telah menjalin komunikasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) guna mendistribusikan bantuan masker secara gratis ke sekolah-sekolah. Ditambahkan Ryan, pada kawasan titik rawan, terutama sekolah-sekolah di wilayah perbatasan yang terpapar kabut asap lebih pekat perlu ada monitoring berkala.
Dampak Karhutla pada Perguruan Tinggi
Parahnya karhutla tak hanya berdampak pada pembelajaran di tingkat sekolah dasar dan menengah. Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari juga menghentikan seluruh kegiatan pengenalan budaya akademik dan kemahasiswaan (PBAK) tingkat fakultas 2026 setelah kawasan kampus 2 di Guntungmanggis, Banjarbaru dilanda kabut asap tebal.
Penghentian kegiatan pengenalan kampus bagi mahasiswa baru itu dikonfirmasi langsung Rektor UIN Antasari, Prof Nida Mufidah. Ia menyebut kegiatan PBAK di kampus 2 Banjarbaru diintruksikan untuk dihentikan sejak Kamis. Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerja Sama UIN Antasari, Dr Irfan Noor, juga menjelaskan bahwa PBAK di kampus 2 sempat dilaksanakan Rabu (19/8). Namun, rektorat merespons cepat dengan meminta kegiatan mahasiswa baru itu dipercepat waktunya dan mahasiswa baru diminta langsung pulang.
Penghentian PBAK ini tidak hanya karena kabut asap, tetapi juga dikarenakan kampus yang terletak di kawasan Guntungmanggis sempat ‘dikepung’ kebakaran lahan.







