Teknologi Digital Jakarta Dibagikan ke 200 Kota di Indonesia
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus berupaya memperluas manfaat transformasi digital yang telah dikembangkan. Melalui JAKI & Fellowship Cities Forum (JFCF) 2026, dua platform digital milik Jakarta yaitu City Data Platform dan Learning Management System diberikan hak penggunaan dan replikasinya kepada 200 kota di Indonesia. Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa teknologi tersebut dapat diterapkan sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.
Forum JFCF 2026 yang berlangsung secara hibrida pada 19–20 Agustus 2026 menjadi ajang pertukaran pengetahuan antara pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya. Dengan tema “Sharing Best Practices in Digital Transformation and Public Innovation”, forum ini diikuti oleh lebih dari 3.000 peserta dari 200 kota di Indonesia. Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyampaikan bahwa JFCF menjadi tempat bagi pemerintah daerah untuk saling mempelajari praktik yang telah berjalan.
Berbagai Isu yang Dibahas dalam JFCF 2026
JFCF 2026 membahas sejumlah isu yang semakin menentukan kualitas tata kelola perkotaan. Beberapa topik utama meliputi pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), mahadata (big data), integrasi pengaduan masyarakat, komunikasi digital, serta inovasi pelayanan publik. Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik DKI Jakarta Marulina Dewi menjelaskan bahwa rangkaian JFCF terdiri atas 14 forum, dengan lima di antaranya digelar secara luring dan sembilan secara daring.
Narasumber dalam forum ini berasal dari berbagai sumber, termasuk pemerintah pusat dan daerah, akademisi, industri digital, komunitas, serta mitra nasional dan internasional. Menurut Marulina, pertukaran pengetahuan dalam JFCF tidak berjalan satu arah. Jakarta juga ingin mempelajari inovasi yang telah berhasil diterapkan pemerintah daerah lain.
Forum Khusus ASEAN Smart Cities Network
Salah satu forum khusus yang digelar adalah ASEAN Smart Cities Network Forum. Dalam forum tersebut, Jakarta bersama Makassar, Denpasar, Semarang, dan Sumedang berbagi pengalaman mengenai pengembangan kota cerdas. Hal ini menunjukkan bahwa Jakarta tidak hanya berbagi teknologi, tetapi juga berkomitmen untuk belajar dari kota-kota lain dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Dari Teknologi ke Pelayanan Warga
Bagi Pemprov DKI, transformasi digital tidak berhenti pada pengembangan aplikasi. Teknologi diarahkan untuk membantu pemerintah membaca persoalan, menentukan prioritas, dan mempercepat pelayanan kepada warga. Salah satu instrumennya adalah JAKI, yang hingga Agustus 2026 telah diunduh lebih dari 7,06 juta kali dan menyediakan 101 fitur layanan publik.
Sistem pengaduan Cepat Respon Masyarakat (CRM) juga diperkuat melalui AI Image Detector dan AI Recapture Detection. Teknologi tersebut digunakan untuk membantu memverifikasi keaslian foto yang disampaikan dalam laporan warga. Marulina menjelaskan bahwa JAKI terus dikembangkan, mulai dari integrasi Satu Data Jakarta, penambahan layanan publik, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan untuk memastikan setiap laporan warga dapat diverifikasi dan ditindaklanjuti secara akurat.
Pengalaman Mengembangkan Layanan Digital
Pengalaman mengembangkan layanan digital itu kemudian dibuka untuk daerah lain melalui City Data Platform dan Learning Management System. Pemprov DKI memberikan hak penggunaan dan replikasi kedua platform tersebut kepada 200 kota, antara lain Bandung, Depok, Bekasi, dan Probolinggo.
Transformasi digital juga ditempatkan sebagai salah satu instrumen untuk meningkatkan daya saing Jakarta. Saat ini, Jakarta berada di peringkat ke-71 dari 156 kota global dan menargetkan masuk 50 besar pada 2030.
Perubahan di Tingkat Lingkungan
Namun, inovasi pelayanan tidak selalu harus dimulai dari teknologi berskala kota. Di tingkat lingkungan, pengaduan sederhana dari warga pun dapat menjadi sumber perubahan. Ketua RT 08 RW 04 Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur, Taufiq Supriadi, membagikan pengalamannya menjadikan keluhan warga sebagai dasar memperbaiki pelayanan di lingkungan.
Taufiq menyampaikan bahwa pengaduan dari warga bisa menjadi sensor sosial. Dari persoalan yang disampaikan warga, RT 08 mengembangkan sejumlah inovasi, seperti sistem pengaduan berbasis QR, RT Online untuk meningkatkan transparansi, pengelolaan sampah organik melalui budi daya maggot, hingga pemanfaatan saluran air menjadi kolam ikan.
Manfaat JFCF bagi Peserta
Natasya (29 tahun), ASN Pemprov DKI Jakarta yang mengikuti JFCF, mengatakan manfaat forum justru terletak pada kesempatan melihat pengalaman daerah dan pihak lain sebelum mengembangkan solusi sendiri. Dari pengalaman, ide sampai inovasi digital semuanya dibagiin buat sama-sama belajar.
Menurut dia, pertukaran pengalaman tersebut akan lebih berarti jika berlanjut menjadi kolaborasi dan inovasi yang dapat diterapkan. Ia berharap dari forum ini lahir lebih banyak kolaborasi dan inovasi untuk kota-kota di Indonesia.







