Infomalangraya.comPembalap Ducati, Marc Marquez, harus berjuang keras untuk mengalahkan Pedro Acosta (Red Bull KTM) pada MotoGP Aragon 2026 di Sirkuit MotorLand, Aragon, Spanyol, 30 Agustus.
Sang juara bertahan menyoroti pergantian generasi yang akan diwakili oleh rekan setim barunya pada MotoGP nanti.
Marquez menegaskan bahwa ia menikmati setiap kemenangan seolah-olah itu adalah yang terakhir baginya.
Marquez tetap tak terkalahkan sebagai pembalap Ducati di Aragon. Dia melanjutkan rekor kemenangan yang pernah ia torehkan pada musim 2014-2015 di MotorLand akhir pekan lalu.
Dia meraih kemenangan ganda pada balapan sprint dan balapan utama serta mengamankan 37 poin yang sejak lama ia incar di rumah sendiri.
Sirkuit MotorLand, Aragon adalah lintasan yang sangat cocok untuk gaya balap agresif. Namun, perjuangan kali ini terbukti jauh lebih berat dibandingkan sebelumnya.
Alasannya, Marquez harus menghadapi sosok Pedro Acosta (Red Bull KTM) yang gigih.
Acosta adalah pembalap yang kelak akan menjadi rekan setimnya pada MotoGP 2027.
Meski Marco Bezzecchi sempat memimpin pada awal balapan utama MotoGP Aragon, situasi berubah setelah kedua pembalap Spanyol itu menyalip sang pembalap Italia lewat manuver agresif di tikungan terakhir yang kemudian viral.
Setelah itu, Acosta mencatatkan kecepatan yang sangat impresif, sementara rekan-rekan setimnya justru tertinggal jauh di posisi belakang.
Acosta mengerahkan seluruh kemampuannya dan terus menempel ketat pembalap bernomor #93 itu sepanjang sebagian besar jalannya balapan.
Marquez harus berjuang keras hingga akhirnya mampu menjauh pada lap-lap terakhir dengan mengerahkan sisa-sisa tenaganya.
Saat mengulas kemenangan usai balapan hari Minggu, sang juara asal Cervera itu terutama mensyukuri perolehan 37 poin dari seri Grand Prix yang telah ia tandai secara khusus dalam kalendernya.
Meski demikian, ia juga mengakui bahwa hari itu tidak berjalan sempurna karena ia gagal melakukan start dengan baik sehingga taktik yang ia terapkan seperti saat Sprint race untuk langsung memimpin di tikungan pertama tidak membuahkan hasil.
“Kita bisa saja melakukan kesalahan karena kita manusia. Dalam balapan ini, saya hampir melakukan kesalahan fatal di beberapa tikungan awal karena membiarkan perangkat pengatur ketinggian bagian belakang (rear height adjustment device) tetap aktif,” kata Marquez dilansir dari MotoSport Espana.
“Saya melahap seluruh sektor pertama dengan posisi bagian belakang motor yang rendah, dan kami kehilangan posisi.”
“Hal itu sedikit menyulitkan jalannya balapan. Namun, saya sudah mengatakan pada Kamis bahwa jika kami ingin memiliki peluang sekecil apa pun untuk bersaing memperebutkan Kejuaraan Dunia, strateginya adalah memaksimalkan potensi di sirkuit yang cocok dengan karakter kami.”
“Setidaknya mendekati batas maksimal tersebut. Dan akhir pekan ini, kami berhasil meraih 37 poin itu,” ujarnya.
“Saat melihat Pedro Acosta tepat di belakang saya pada lap kedua, saya tahu dialah pembalap yang harus dikalahkan pada hari Minggu. Dia akhirnya menjadi yang tercepat di sesi sprint maupun pemanasan dengan menggunakan ban bekas.”
“Jadi, saya tahu dia akan terus menempel ketat di belakang saya hampir sepanjang balapan. Namun, saya sengaja menyimpan cadangan kecepatan sekitar tiga atau empat persepuluh detik untuk fase akhir balapan.”
Saat ditanya bagaimana ia merayakan kemenangan seperti yang diraihnya di Aragon, Márquez mengakui bahwa caranya merayakan kini berbeda dibandingkan sebelumnya, terutama karena ia kerap bertanya-tanya apakah kemenangan tersebut akan menjadi yang terakhir baginya.
Dia bahkan berbicara lebih terbuka dari biasanya mengenai pentingnya menikmati momen kejayaan.
“Saya merayakan kemenangan-kemenangan ini dengan cara yang berbeda. Saat meraih kemenangan pertama, kita merayakannya dengan antusiasme tinggi justru karena itu adalah yang pertama,” tutur Marquez.
“Di pertengahan karier, ada masa di mana kita tidak lagi menikmatinya sebesar dulu. Kini, saya selalu berpikir apakah ini akan menjadi kemenangan terakhir saya.”
“Begitulah kenyataannya. Kita harus menikmati momen-momen ini dan menjalaninya sepenuhnya, karena suatu hari nanti kita pasti akan merindukannya.”
Duel melawan Acosta di lintasan Teruel dianggap banyak pihak sebagai gambaran awal persaingan musim 2027, saat keduanya akan berada dalam satu tim yang sama.
Saat dimintai tanggapan mengenai sosok berjuluk ‘Shark of Mazarrón’ (Hiu dari Mazarrón) itu, Marquez sudah menyiapkan diri.
“Akan tiba saatnya nanti ketika kami menjadi rekan setim untuk membahas hal itu. Namun, pergantian generasi adalah sesuatu yang tak terelakkan,” aku Marquez.
Marquez juga menjelaskan apa yang terlintas di benak seseorang pada momen-momen seperti saat terjadi benturan hebat dalam posisi berdampingan dengan Bezzecchi di lintasan lurus belakang.
“Pada saat itu, dalam kecepatan 300 kilometer per jam, Anda tidak memikirkan ibu, ayah, kekasih, ataupun anjing Anda,” ucap Marquez.
“Satu-satunya hal yang Anda pikirkan adalah siapa yang akan memotong jalur paling akhir. Itu adalah lonjakan adrenalin, situasi yang menuntut pembalap untuk bertindak ‘gila’ namun tetap terkendali.”





