Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Info Mudik Gratis PT INKA 2026: Rute Madiun-Solo-Boyolali, Cara Daftar Terbaru

    11 Maret 2026

    5 Rekomendasi LCGC Bekas Rp50 Jutaan untuk Mudik 2026

    11 Maret 2026

    7 Tempat Makan Halal Wajib Dikunjungi di Kelapa Gading!

    11 Maret 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Rabu, 11 Maret 2026
    Trending
    • Info Mudik Gratis PT INKA 2026: Rute Madiun-Solo-Boyolali, Cara Daftar Terbaru
    • 5 Rekomendasi LCGC Bekas Rp50 Jutaan untuk Mudik 2026
    • 7 Tempat Makan Halal Wajib Dikunjungi di Kelapa Gading!
    • Itinerary Ngabuburit di BXSea Bintaro dengan Budget Rp 470 Ribu
    • Prediksi Skor Kayserispor vs Trabzonspor, 10 Maret 2026 Pukul 00.00 WIB
    • Meisya Siregar Kembali ke Indonesia, Istri Bebi Romeo Minta Doa
    • HDL vs LDL: Kolesterol Baik dan Jahat
    • Diplomasi Gelas di Kuala Lumpur: Sate dan Persaudaraan
    • Berapa Kuat Nuklir Tiongkok Jika Perang Dunia III Pecah?
    • Jadwal Imsak Nusa Tenggara Barat 8 Maret 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Internasional»Serangan Tajam Teheran ke Berlin: Araghchi Sebut Merz ‘Menjijikkan’

    Serangan Tajam Teheran ke Berlin: Araghchi Sebut Merz ‘Menjijikkan’

    adm_imradm_imr8 Februari 20260 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Ketegangan Diplomatis Iran dan Jerman Meningkat

    Ketegangan diplomatik antara Iran dan Jerman kembali memanas setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, meluncurkan serangan verbal terhadap Kanselir Jerman, Friedrich Merz. Serangan ini dilakukan di tengah kunjungan Merz ke beberapa negara Teluk, yaitu Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Tujuan dari kunjungan tersebut adalah untuk memperkuat kemitraan energi, investasi, serta kerja sama keamanan kawasan.

    Araghchi tidak hanya mengkritik kebijakan Merz, tetapi juga menyerang karakter pribadi sang kanselir. Ia menyebut Merz memiliki “naivitas politik” dan “karakter yang menjijikkan,” serta menyesalkan fakta bahwa Merz kini menjabat sebagai Kanselir Jerman. Dalam pernyataannya, Araghchi menulis: “Jerman pernah menjadi mesin kemajuan di Eropa, sekarang telah berubah menjadi mesin kemunduran.” Kritik ini secara khusus ditujukan pada peran Jerman bersama Prancis dan Inggris, kelompok yang dikenal sebagai E3, dalam perundingan program nuklir Iran.

    Pernyataan keras Araghchi muncul setelah Merz dalam rangkaian lawatannya ke negara-negara Teluk menyatakan bahwa kerja sama Jerman dengan kawasan tersebut harus berkontribusi pada “mempromosikan perdamaian di Timur Tengah.” Dalam pernyataan yang sama, Merz menegaskan bahwa kekerasan di kawasan harus dihentikan dan Jerman siap “meningkatkan tekanan lebih lanjut” terhadap Teheran, termasuk mendorong pembicaraan untuk segera mengakhiri program nuklir Iran.

    Merz juga mengisyaratkan perubahan kebijakan Berlin terkait ekspor senjata, dengan mengatakan pemerintahannya akan mengambil pendekatan yang kurang ketat ke depan. Sikap ini memicu kritik tambahan dari Teheran. Dalam konteks inilah Araghchi menuduh Merz melukiskan gambaran yang menyimpang tentang Iran. Ia menyebut Kanselir Jerman itu berkhayal bahwa Iran berada di ambang kehancuran. Menurut laporan kantor berita APA, pernyataan Merz disampaikan dalam forum diskusi kebijakan luar negeri dan keamanan, ketika ia menilai tekanan internasional dan sanksi dapat melemahkan Iran secara signifikan dalam waktu singkat.

    Araghchi menolak keras narasi tersebut. “Sayangnya, kami rakyat Iran telah menyaksikan beberapa contoh lain dari kenaifan politik dan karakter Merz yang tidak terpuji,” tulisnya. Ia juga menyinggung sikap Merz terhadap konflik bersenjata antara Israel dan Iran pada Juni 2025. “Ketika Israel membunuh lebih dari 1.000 warga Iran pada Juni 2025, ia justru menunjukkan kegembiraan,” tulis Araghchi, sebagaimana diberitakan kantor berita pemerintah Iran, IRNA. Menurutnya, sikap itu mencerminkan keberpihakan yang terang-terangan dan memperdalam ketidakpercayaan Teheran terhadap Berlin.

    Latar belakang polemik ini tidak terlepas dari kebuntuan panjang perjanjian nuklir Iran. Kesepakatan tahun 2015 yang bertujuan membatasi program nuklir Teheran dengan imbalan pencabutan sanksi internasional praktis lumpuh sejak Amerika Serikat menarik diri pada 2018. Upaya E3 untuk menghidupkan kembali kesepakatan tersebut sejauh ini belum membuahkan hasil, dan Araghchi menuding Jerman, atas dorongan Merz, justru berperan dalam mengakhiri keterlibatan E3 dengan mendorong pemberlakuan kembali sanksi PBB.

    “September lalu di New York, atas desakan Merz, E3 mengakhiri peran mereka dalam negosiasi nuklir dengan mengupayakan pemberlakuan kembali sanksi PBB terhadap Iran. Sekarang, Merz memohon untuk diizinkan kembali ke negosiasi yang sama,” tulis Araghchi di X, sebagaimana dikutip IRNA.

    Meski demikian, Araghchi berupaya memisahkan kritiknya terhadap pemerintah Jerman saat ini dengan pandangannya terhadap bangsa Jerman secara keseluruhan. Ia menyebut rakyat Jerman sebagai “bangsa yang hebat” yang telah memberikan kontribusi besar bagi umat manusia melalui kerja keras dan inovasi. “Iran selalu terbuka untuk hubungan yang kuat dengan Jerman. Karena itu, sangat disayangkan bahwa seseorang seperti Bapak Merz kini mewakili Jerman di panggung dunia,” tulis Araghchi. Ia menutup pernyataannya dengan harapan akan “kembalinya kepemimpinan politik yang lebih matang dan terhormat” di Berlin.

    Serangan diplomatik ini menandai babak baru ketegangan Iran–Jerman, sekaligus menunjukkan betapa isu nuklir, konflik regional, dan perbedaan visi geopolitik terus membayangi hubungan Teheran dengan negara-negara Eropa.



    Friedrich Merz, kedua dari kiri, pemimpin Uni Demokratik Kristen (CDU), bertepuk tangan saat berpidato di depan para pendukungnya di markas besar partai di Berlin, Jerman, Ahad, 23 Februari 2025. – (Michael Kappeler/dpa via AP)

    Ali Shamkhani Mengonfirmasi Kepercayaan Terhadap Araghchi

    Ali Shamkhani, Perwakilan Pemimpin Revolusi Islam untuk Dewan Tertinggi Pertahanan Nasional Iran, menegaskan posisi kuat Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di lingkaran pengambilan keputusan tingkat tertinggi negara. Dalam sebuah pesan yang diunggah melalui akun media sosial X miliknya, Shamkhani menekankan bahwa Araghchi bukan hanya diplomat aktif, tetapi sosok yang mendapatkan kepercayaan penuh dari pucuk pimpinan negara.

    “Dr. Abbas Araghchi adalah seorang negosiator yang terampil dan strategis, yang dipercaya oleh para pembuat keputusan tingkat tinggi serta lembaga militer dan intelijen,” tulis Shamkhani, sebagaimana diberitakan IRNA. Ia menambahkan bahwa para prajurit bangsa Iran di Angkatan Bersenjata berdiri bahu-membahu dengan para jenderal diplomasi. Di bawah komando Panglima Tertinggi, seluruh elemen negara, baik militer maupun diplomatik, tidak akan menyisakan upaya apa pun untuk melindungi kepentingan nasional Iran.

    Pernyataan Shamkhani ini dipandang sebagai sinyal politik yang jelas di tengah meningkatnya ketegangan regional dan tekanan internasional terhadap Teheran. Penegasan tersebut sekaligus memperkuat posisi Araghchi sebagai ujung tombak diplomasi Iran dalam menghadapi isu-isu strategis, termasuk perundingan nuklir dan hubungan dengan negara-negara Barat.



    Wakil Perdana Menteri Italia Antonio Tajani (kiri) menyambut Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (kanan) menjelang perundingan nuklir dengan Amerika Serikat di Roma, Italia, 19 April 2025. – (EPA-EFE/ANGELO CARCONI)

    Abbas Araghchi, Diplomat Paling Berpengalaman

    Abbas Araghchi merupakan salah satu diplomat paling berpengalaman yang dimiliki Republik Islam Iran. Ia dikenal sebagai figur yang matang secara politik, tenang dalam bernegosiasi, dan memiliki pemahaman mendalam tentang hubungan internasional, khususnya dinamika antara Iran dan kekuatan global. Araghchi lahir di Teheran dan menempuh pendidikan tinggi di bidang hubungan internasional. Ia dikenal memiliki latar belakang akademik yang kuat, yang membentuk pendekatan diplomatiknya yang sistematis dan berbasis analisis.

    Kariernya di Kementerian Luar Negeri Iran dibangun secara bertahap, dari posisi teknis hingga jabatan strategis. Namanya mulai dikenal luas di tingkat internasional ketika terlibat langsung dalam perundingan nuklir Iran. Dalam proses panjang dan kompleks tersebut, Araghchi berperan sebagai salah satu negosiator utama yang menjembatani kepentingan nasional Iran dengan tuntutan komunitas internasional. Sikapnya yang tegas namun terukur membuatnya disegani oleh kawan maupun lawan diplomasi.

    Di dalam negeri, Araghchi dipandang sebagai diplomat yang loyal pada prinsip Revolusi Islam, namun tetap realistis dalam membaca peta politik global. Ia kerap menekankan bahwa diplomasi bagi Iran bukanlah tanda kelemahan, melainkan instrumen strategis untuk menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional. Sebagai Menteri Luar Negeri, Araghchi juga dikenal mampu menjalin koordinasi erat dengan lembaga-lembaga strategis negara, termasuk militer dan intelijen. Hal ini menjadikannya figur yang dipercaya tidak hanya oleh kalangan sipil, tetapi juga oleh struktur keamanan nasional Iran, sebagaimana ditegaskan oleh Ali Shamkhani.

    Dalam berbagai pernyataan publiknya, Araghchi menampilkan gaya komunikasi yang lugas dan argumentatif. Ia tidak segan melontarkan kritik keras terhadap negara-negara yang dianggapnya menekan Iran secara sepihak, namun tetap membuka ruang dialog yang ia nilai adil dan saling menghormati. Kombinasi antara pengalaman panjang, legitimasi politik, serta dukungan dari pimpinan tertinggi negara menjadikan Abbas Araghchi salah satu aktor kunci dalam diplomasi Iran saat ini. Dalam konteks geopolitik yang kian bergejolak, peran Araghchi diperkirakan akan semakin sentral dalam menentukan arah kebijakan luar negeri Teheran.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Diplomasi Gelas di Kuala Lumpur: Sate dan Persaudaraan

    By adm_imr11 Maret 20261 Views

    Dialektika “Mirror Dimension” dalam Perang AS-Israel vs Iran

    By adm_imr11 Maret 20261 Views

    All England Open 2026 – Taufik Hidayat Beri Nasihat, Semua Wakil Indonesia Gugur di Babak 8 Besar

    By adm_imr10 Maret 20261 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Info Mudik Gratis PT INKA 2026: Rute Madiun-Solo-Boyolali, Cara Daftar Terbaru

    11 Maret 2026

    5 Rekomendasi LCGC Bekas Rp50 Jutaan untuk Mudik 2026

    11 Maret 2026

    7 Tempat Makan Halal Wajib Dikunjungi di Kelapa Gading!

    11 Maret 2026

    Itinerary Ngabuburit di BXSea Bintaro dengan Budget Rp 470 Ribu

    11 Maret 2026
    Berita Populer

    Operasi Pekat Semeru 2026, Polres Malang Ungkap Dugaan Peredaran Bahan Peledak di Poncokusumo

    Kabupaten Malang 28 Februari 2026

    Malang – Aparat dari Polres Malang mengungkap dugaan tindak pidana membuat dan menguasai bahan peledak…

    Kejari Kabupaten Malang Geledah Kantor Dispora, Dalami Dugaan Penyelewengan Dana Hibah KONI

    6 Februari 2026

    Jadwal MotoGP Thailand 2026 Live Trans7, Bagnaia Tunjukkan Tanda Bertahan

    1 Maret 2026

    Keluhan Pasien Poli Gigi Puskesmas Arjuno, Kadinkes Kota Malang Beri Penjelasan

    6 Februari 2026
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?