Destinasi Wisata Alam Telaga Kumpe di Banyumas
Telaga Kumpe, yang terletak di Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, merupakan salah satu destinasi wisata alam yang menawarkan pemandangan yang indah. Letaknya yang berada di lereng Gunung Slamet menjadikannya memiliki keindahan alami yang menarik perhatian para pengunjung.
Wisatawan yang berkunjung akan dimanjakan dengan suasana alam yang asri, pepohonan pinus dan kopi, serta bukit yang hijau. Namun sayangnya, potensi keunggulan wisata alam ini belum sepenuhnya terkelola dan terpublikasikan secara optimal.
Saat ini, Telaga Kumpe dikelola oleh Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wonosari dan PT Palawi Risorsis, yang merupakan anak perusahaan Perum Perhutani. Untuk tiket masuk, biaya per orang pada hari biasa adalah Rp 7.500 dan Rp 10 ribu pada hari libur. Sementara itu, biaya parkir sepeda motor adalah Rp 2.000 dan mobil Rp 4.000.
Sekretaris LMDH Wonosari, Ali Masrur, mengatakan bahwa objek wisata Telaga Kumpe di lahan milik Perhutani tersebut berdiri sejak enam tahun lalu, tepatnya pada tahun 2019. Awalnya, bermula dari inisiatif masyarakat setempat. Dulunya, area Telaga Kumpe hanya berupa semak belukar.
“Tidak pakai anggaran. Masyarakat cuma kerja bakti, membersihkan semak belukar,” katanya kepada tribunbanyumas.com, Kamis (5/2/2026). Setelah dibersihkan dan ditata oleh masyarakat, kemudian pengunjung mulai berdatangan. Setelah dikelola, dilakukan perjanjian kerja sama dengan Perhutani dan diluncurkan pada 6 Januari 2019.
Bantuan berbagai pihak juga datang, seperti bantuan tempat sampah dari komunitas, gazebo senilai Rp 30 juta dari PLN, ikan dari dinas perikanan, pelatihan dan pembinaan dari dinas pariwisata, dan sebagainya.
“Tahun pertama pembukaan Telaga Kumpe sangat ramai, tapi lalu ada pandemi Covid-19, mulai menyusut,” ungkapnya.
Pendapatan Menurun
Ali menjelaskan, saat sedang booming, pengunjung pernah tercatat sebanyak 16 ribu orang dalam setahun dengan rata-rata per hari di atas 1.000 orang. Tetapi kini per bulan hanya sekira 300 pengunjung.
Meski begitu, LMDH Wonosari sedang berupaya untuk mem-booming kembali Telaga Kumpe. Baik melalui sarana prasarana maupun promosi. “Kami juga sudah memalukan pengajuan ke PT Palawi Risorsis mengenai kendala perahu tidak layak operasi. Kami minta agar pembiayaan bersama, kalau dulu dibebankan ke LMDH,” ujarnya.
Menurut Ali, pendapatan dari objek wisata Telaga Kumpe sudah ada pembagian yang merata, pertama diambil untuk cetak tiket dan kebersihan. Setelah itu ada pembagian sharing, sejumlah 40 persen untuk PT Palawi Risorsis dan sejumlah 60 persen untuk LMDH. Perolehan LMDH kemudian dibagi lagi, yaitu 50 persen untuk honor pengelola 12 orang, 20 persen untuk PAD desa, 10 persen untuk kas tiga RT, dan 20 persen sisanya masuk kas. Uang kas biasanya untuk perawatan, seperti mushola, jembatan dan beli perahu.
“Perawatan terus jalan. Alhamdulillah meski pendapatan sedang menurun, tapi masih bisa dikelola. Bulan terakhir pendapatan hanya Rp 4,4 juta,” jelasnya.
Bantu Promosi
Kepala Bidang Pariwisata Dinporabudpar Banyumas, Bahrudin, mengatakan, ada sebanyak 88 objek wisata yang ada di Kabupaten Banyumas. Dari jumlah tersebut, terdiri dari 74 objek merupakan wisata alam, sisanya 14 objek adalah wisata buatan termasuk seni dan budaya.
Dia menilai, Telaga Kumpe menjadi salah satu objek wisata yang memiliki potensi. “Potensi utama kita di Banyumas ini ada di wisata alam dan budaya. Makannya, banyak influencer dari Jakarta menjuluki Banyumas sebagai kota seribu curug,” ujarnya.
Bahrudin mengatakan, di tengah kondisi beberapa objek wisata yang sedang lesu, Dinporabudpar sedang mempersiapkan strategi untuk meningkatkan tingkat kunjungan. Satu di antaranya dengan pembuatan konten promosi jelang hari libur nasional, saat ini sebagai contoh persiapan menyambut libur lebaran. Termasuk wisata yang akan diambil gambarnya adalah Telaga Kumpe.
“Kita tahum ini, di semester pertama akan membuat 24 konten wisata. Itu berisikan seluruh atraksi dan daya tarik wisata se- Kabupaten Banyumas,” ungkapnya.
Di sisi lain, menurut Bahrudin, Dinporabudpar juga melakukan pembinaan terkait fasilitasi pelatihan pelayanan. Mulai dari petugas loket, kebersihan, dan parkir. Tujuannya agar pelayanan di objek wisata baik yang dikelola oleh pemerintah daerah maupun swasta, bisa berjalan dengan baik.
“Kami juga mengimbau para pengelola wisata agar memedomani usaha pariwisata yang aman, nyaman dan menyenangkan. SOP harus sesuai dan mempunyai SDM yang mumpuni,” jelasnya.







