Perbedaan Jadwal Puasa Ramadhan 1447 Hijriah Antara Pemerintah, NU dan Muhammadiyah
Pertanyaan tentang kapan puasa Ramadhan 1447 Hijriah akan dimulai mulai ramai muncul di media sosial. Hal ini wajar mengingat puasa Ramadhan merupakan momen penting bagi umat Islam. Di bulan ini, keimanan umat Islam akan diuji. Puasa Ramadhan menjadi ladang pahala bagi mereka yang sungguh-sungguh dalam menjalankannya. Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Hadits riwayat Bukhari dan Muslim menegaskan hal ini, menjadikan puasa sebagai sarana penyucian jiwa yang sangat mulia. Puasa termasuk ibadah yang pahalanya hanya Allah yang tahu seberapa besarnya, karena pelakunya meninggalkan syahwat dan makanan demi-Nya. Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap amal baik akan dilipatgandakan 10 hingga 700 kali, tapi puasa adalah pengecualian istimewa yang dibalas langsung oleh Allah.
Di bulan ini pula, ada sebuah momen penting yang diberi nama malam Lailatul Qadar. Malam Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemuliaan dan keutamaan dalam Islam. Malam ini disebut sebagai waktu turunnya Al-Quran pertama kali kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Qadr ayat 1-3: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan.”
Karenanya, begitu puasa Ramadhan tiba, umat muslim berlomba-lomba untuk mempersiapkan diri. Tujuannya semata-mata mengharap keriidhaan dari Allah S.W.T. Lalu pertanyaannya, kapan 1 Ramadhan 1447 Hijriah?
Ada Perbedaan Waktu
Pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan 2026 dipastikan berbeda antara Muhammadiyah, pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU). Muhammadiyah tegas menyebutkan bahwa 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada 18 Februari 2026. Dalam hal ini, Muhammadiyah mengacu pada hisab hakiki wujudul hilal berbasis Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Hisab hakiki wujudul hilal adalah metode perhitungan astronomis akurat (hisab hakiki) yang digunakan Majelis Tarjih Muhammadiyah untuk menentukan awal bulan Hijriah berdasarkan keberadaan (wujud) hilal di atas ufuk saat matahari terbenam. Metode ini mengacu pada gerak faktual Bulan sebagai benda langit, dengan kriteria utama: ijtima’ (konjungsi Bulan-Matahari) telah terjadi sebelum matahari terbenam, matahari terbenam lebih dulu daripada Bulan, dan piringan atas Bulan sudah di atas ufuk saat itu (minimal 0,1°).

Berdasarkan perhitungan ijtimak, yakni pertemuan antara Bulan dan Matahari yang terjadi pada Selasa Kliwon, 29 Syaban 1447 H atau 17 Februari 2026, pukul 12.01 waktu UTC, belum ada satu pun wilayah di dunia yang Parameter Kalender Global (PKG) 1, yaitu tinggi Bulan minimal 5 derajat dan elongasi Bulan minimal 8 derajat. Namun, setelah pukul 24.00 UTC dan sebelum fajar di Selandia Baru, tepatnya pada pukul 16.06 UTC, terdapat wilayah di daratan Amerika yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 2.
Wilayah tersebut berada pada 56 derajat 48 menit 49 detik Lintang Utara (LU) dan 158 derajat 51 menit 44 detik Bujur Barat (BB). Pada titik tersebut, posisi Bulan tercatat berada pada ketinggian 5 derajat 23 menit 35 detik dengan elongasi 8 derajat 0 menit 11 detik. Dengan terpenuhinya kriteria tersebut, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H pada Rabu, 18 Februari 2026.
Penjelasan BRIN
Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi bahwa 1 Ramadhan 1447 H akan jatuh berbeda. 1 Ramadhan 1447 H di wilayah Indonesia diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Dia menerangkan, pada saat Maghrib 17 Februari 2026 di wilayah Asia Tenggara posisi hilal belum memenuhi kriteria baru MABIMS, sebagaimana yang digunakan pemerintah dan untuk menentukan awal bulan hijriah.
Ketika waktu tersebut, posisi hilal belum memenuhi tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. “Fakta Astronomi pada saat maghrib 17 Februari 2026 di wilayah Asia Tenggara, posisi hilal belum memenuhi kriteria MABIMS, kriteria yang digunakan oleh pemerintah dan sebagian besar ormas Islam, yaitu kurva kuning, ini tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat geosentrik. Ini di wilayah Amerika, sehingga di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, belum memenuhi kriteria,” kata Thomas, dikutip dari laman Youtube resminya.
“Sehingga, 1 Ramadhan 1447 jatuh pada tanggal 19 Februari 2026,” imbuhnya. Namun, ada pula ormas yang menggunakan kriteria Turkiye, di mana posisi Bulan di wilayah Alaska telah memenuhi kriteria dan ijtimak terjadi sebelum fajar di Selandia Baru. Ini artinya, menurut kriteria Türkiye, 1 Ramadhan 1447 jatuh pada 18 Februari 2026.
“Jadi ada potensi perbedaan awal Ramadhan, ada yang 18 Februari dan 19 Februari,” ungkapnya.
Puasa Menurut NU
Nahdlatul Ulama (NU) diprediksi akan melaksanakan puasa 1 Ramadhan 1447 Hijriah pada 19 Februari 2026. Ini mengacu pada penjelasan Guru Besar Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang Prof. H. Ahmad Izzuddin dalam lokakarya imsakiyah Nahdlatul Ulama (NU). Ia mengatakan, ijtimak terjadi pada Selasa (17/2/2026) sekitar pukul 19.02 WIB. Berdasarkan perhitungan hisab dan kriteria MABIMS, posisi hilal saat Matahari terbenam masih berada di bawah ufuk dan belum memenuhi kriteria imkanur rukyat. Dengan demikian, awal Ramadhan 1447 H diprediksi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Penetapan awal Ramadhan menurut NU ditetapkan menggunakan metode rukyatul hilal. Metode tersebut sudah dipakai sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga saat ini. Hanya saja, zaman sekarang pengamatan hilal dibantu dengan alat teropong agar lebih akurat dan maksimal. Rukyatul hilal adalah proses mengamati hilal untuk menentukan awal bulan Qamariyah, termasuk di dalamnya penentuan awal Ramadhan. Proses rukyatul hilal ditandai dengan munculnya visibilitas bulan sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru konjungsi atau ijtimak. Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari sehingga posisi hilal berada di ufuk barat.
Jadwal Harian Puasa Ramadan 1447 H Muhammadiyah
- 18 Februari 2026 (1 Ramadan 1447, Rabu)
- 19 Februari 2026 (2 Ramadan 1447, Kamis)
- 20 Februari 2026 (3 Ramadan 1447, Jumat)
- 21 Februari 2026 (4 Ramadan 1447, Sabtu)
- 22 Februari 2026 (5 Ramadan 1447, Minggu)
- 23 Februari 2026 (6 Ramadan 1447, Senin)
- 24 Februari 2026 (7 Ramadan 1447, Selasa)
- 25 Februari 2026 (8 Ramadan 1447, Rabu)
- 26 Februari 2026 (9 Ramadan 1447, Kamis)
- 27 Februari 2026 (10 Ramadan 1447, Jumat)
- 28 Februari 2026 (11 Ramadan 1447, Sabtu)
- 1 Maret 2026 (12 Ramadan 1447, Minggu)
- 2 Maret 2026 (13 Ramadan 1447, Senin)
- 3 Maret 2026 (14 Ramadan 1447, Selasa)
- 4 Maret 2026 (15 Ramadan 1447, Rabu)
- 5 Maret 2026 (16 Ramadan 1447, Kamis)
- 6 Maret 2026 (17 Ramadan 1447, Jumat)
- 7 Maret 2026 (18 Ramadan 1447, Sabtu)
- 8 Maret 2026 (19 Ramadan 1447, Minggu)
- 9 Maret 2026 (20 Ramadan 1447, Senin)
- 10 Maret 2026 (21 Ramadan 1447, Selasa)
- 11 Maret 2026 (22 Ramadan 1447, Rabu)
- 12 Maret 2026 (23 Ramadan 1447, Kamis)
- 13 Maret 2026 (24 Ramadan 1447, Jumat)
- 14 Maret 2026 (25 Ramadan 1447, Sabtu)
- 15 Maret 2026 (26 Ramadan 1447, Minggu)
- 16 Maret 2026 (27 Ramadan 1447, Senin)
- 17 Maret 2026 (28 Ramadan 1447, Selasa)
- 18 Maret 2026 (29 Ramadan 1447, Rabu)
- 19 Maret 2026 (30 Ramadan 1447, Kamis)

Bacaan Niat Puasa Ramadhan
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلْهِ تَعَالَى
Nawaitu Shauma Ghodin ‘An Adaa’i Fardhi Syahri Romadhoona Haadzihis Sanati Lillahi Ta’ala
“Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan fardhu di bulan Ramadan tahun ini, karena Allah Ta’ala.”
Selain bacaan niat puasa Ramadan masih ada serangkaian amalan bacaan doa lainnya.







