Proyek Hilirisasi yang Diluncurkan oleh BPI Danantara
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) baru saja meresmikan peletakan batu pertama pembangunan enam proyek hilirisasi. CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menjelaskan bahwa proyek-proyek ini tersebar di berbagai lokasi dan sektor industri. Ia menyampaikan bahwa total investasi dari keenam proyek tersebut mencapai sekitar US$ 7 miliar atau setara dengan Rp 117 triliun.
Proyek hilirisasi ini merupakan tahap pertama dari rencana yang akan melibatkan total 18 proyek. Dalam tahap ini, seluruh proyek dibiayai langsung oleh Danantara, namun ke depan kemungkinan besar akan ada partisipasi pihak lain dalam investasi.
Daftar Proyek Hilirisasi Tahap Pertama
1. Hilirisasi Bauksit Menjadi Alumina dan Aluminium
Proyek ini dilaksanakan di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Pihak terlibat antara lain PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Antam Tbk, dan PT Bukit Asam Tbk. Proyek ini menambah fasilitas smelter yang akan terintegrasi dengan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 1. Nilai investasi sekitar Rp 40,6 triliun dan dapat memproduksi aluminium sebanyak 600 ribu metrik ton per tahun, serta menyerap 1.370 tenaga kerja. Selain itu, SGAR Fase II akan dibangun untuk kapasitas produksi 1 juta metrik ton per tahun.
2. Pabrik Bioetanol
Proyek ini berada di Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Dilakukan oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dan PT Pertamina (Persero). Kapasitas produksi ditargetkan mencapai 100 KLPD, yang akan digunakan untuk mendukung sektor energi. Biotanol berasal dari komoditas tebu milik perusahaan maupun masyarakat. Proyek ini diklaim mengurangi impor bahan bakar minyak senilai US$ 13,9 juta dan menurunkan emisi hingga 66 ribu ton setara karbon dioksida per tahun.
3. Proyek Biofinery
Dikerjakan oleh PT Pertamina (Persero) di Cilacap, Jawa Tengah. Fasilitas dirancang memiliki kapasitas pengolahan hingga 6 ribu barel per hari minyak jelantah. Saat ini, produksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) mencapai 27 kilo liter per hari, dan akan meningkat menjadi 887 KL SAF per hari pada 2029. Proyek ini juga berpotensi mengurangi impor Avtur, mendukung penggunaan SAF di Indonesia, dan menurunkan emisi hingga 600 ribu ton setara karbon dioksida per tahun.
4. Peternakan Unggas
Proyek industri perunggasan dikerjakan oleh PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID Food. Target proyek bisa menyerap 1,46 juta tenaga kerja, produksi daging ayam diproyeksikan mencapai 1,5 juta ton daging ayam dan 1 juta ton telur ayam. Proyek ini juga akan menambah pendapatan peternak hingga Rp 81,5 triliun per tahun secara bruto dan mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
5. Pabrik Garam Bahan Baku Industri
Proyek bernilai Rp 2 triliun ini berada di Desa Pangarengan, Kabupaten Sampang, Jawa Timur. Target kapasitas produksi mencapai 200 ribu ton per tahun dan akan menyerap 200 tenaga kerja. Pelaksanaan proyek dilakukan melalui skema join operation antara PT Garam (Persero), PT Putra Arga Binangun, dan China Chemical Engineering Indonesia.
6. Pabrik Garam Bahan Baku Industri dengan Teknologi MVR
Proyek pabrik garam dengan teknologi Mechanical Vapor Recompression (MVR) ini bernilai Rp 1 triliun berada di Manyar, Gresik, Jawa Timur. Target kapasitas produksi mencapai 100 ribu ton per tahun dan akan menyerap 150 tenaga kerja. Pelaksanaan proyek dilakukan oleh PT Garam (Persero) bersama PT Unilever Indonesia Tbk. Selain itu, terdapat pembangunan pabrik garam olahan di Segoro Madu 2, Gresik, Jawa Timur. Nilai investasi proyek sebesar Rp 112 miliar dan akan menyerap 200 tenaga kerja.
Tiga proyek PT Garam (Persero) yang ground breaking hari ini akan menambah kapasitas produksi sebesar 380 ribu ton per tahun.







