Proyek Hilirisasi Danantara: Peluang dan Tantangan bagi Sektor Industri
BPI Danantara telah resmi melaksanakan peletakan batu pertama atau groundbreaking enam proyek hilirisasi pada Jumat (6/2/2026) lalu. Keberadaan proyek tersebut diyakini dapat memberi efek berganda (multiplier effect) bagi emiten-emiten yang bergerak di sektor terkait hilirisasi. Enam proyek hilirisasi tersebut meliputi:
- Fasilitas pengolahan bauksit, alumina, dan aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat;
- Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 2 di Mempawah, Kalimantan Barat;
- Pabrik bioethanol Glenmore Fase 1 di Banyuwangi, Jawa Timur;
- Pabrik Biorefinery (Bioavtur) di Cilacap, Jawa Tengah;
- Proyek peternakan unggas terintegrasi di Malang, Gorontalo Utara, Lampung Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Barat (NTB);
- Pabrik garam di Sampang-Madura, Manyar-Gresik, dan Segoromadu 2-Gresik.
Proyek-proyek ini bernilai investasi sekitar US$ 7 miliar. Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor mengatakan, kepastian groundbreaking enam proyek hilirisasi oleh Danantara menjadi sinyal kuat bahwa agenda hilirisasi nasional telah memasuki fase eksekusi yang lebih serius dan terukur. Di samping itu, skala dan ragam proyek ini menunjukkan bahwa hilirisasi tidak lagi terbatas pada sektor pertambangan, melainkan juga mulai merambah ke energi, pangan, dan industri berbasis teknologi.
Dampak terhadap Emiten dan Sektor Pendukung
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi emiten yang paling diuntungkan secara nyata melalui proyek SGAR Fase 2. Mereka menggarap proyek tersebut bersama dengan Inalum sebagai bagian dari Holding BUMN Pertambangan MIND ID. Proyek ini memperkuat posisi ANTM dalam rantai nilai bauksit, alumina, aluminium, sehingga meningkatkan nilai tambah produk dan ketahanan pendapatan terhadap fluktuasi harga komoditas global.
Selain itu, proyek hilirisasi Danantara membuka peluang keterlibatan emiten pendukung, baik di sektor energi, logistik, maupun konstruksi. Contohnya, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) akan memasok kebutuhan energi batubara untuk pengembangan fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit, alumina, aluminium di Mempawah. Meskipun proyek gasifikasi batubara menjadi Dymethil Ether (DME) sebagai subtitusi Liquefied Petroleum Gas (LPG) tidak masuk daftar enam proyek hilirisasi yang diresmikan Danantara akhir pekan lalu, proyek ini tetap menjadi perhatian pasar.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty menyatakan, proyek hilirisasi Danantara tentu juga menimbulkan dampak tidak langsung bagi beberapa emiten. Contohnya pada proyek biorefinery dan bioetanol, di mana emiten seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) bisa terlibat untuk mengembangkan infrastruktur pendukung. Emiten-emiten produsen Crude Palm Oil (CPO) juga dapat menikmati manfaat dari proyek bioetanol.
Manfaat dan Risiko Proyek Hilirisasi
Keterlibatan emiten swasta justru cukup penting dalam proyek-proyek hilirisasi Danantara, baik itu sebagai mitra teknologi, kontraktor, maupun off-taker. Proyek hilirisasi membutuhkan modal besar, keahlian teknis, dan jaringan pasar global yang sering kali lebih matang di sektor swasta.
Dukungan Danantara memberi beberapa keuntungan strategis bagi emiten yang terlibat langsung dan tidak langsung dalam proyek hilirisasi nasional. Pertama, akses pendanaan jangka panjang berpotensi lebih stabil dan berbiaya lebih kompetitif, mengingat Danantara diposisikan sebagai katalis pembiayaan proyek strategis nasional. Kedua, kepastian regulasi dan perizinan cenderung lebih terjaga karena proyek hilirisasi berada dalam payung prioritas pemerintah, sehingga mengurangi risiko keterlambatan. Ketiga, proyek hilirisasi dengan dukungan negara meningkatkan visibilitas pendapatan jangka panjang.
Namun, risiko proyek hilirisasi ini juga tidak kecil. Di antaranya risiko eksekusi proyek, kebutuhan capex besar yang bisa menekan arus kas awal, hingga risiko perubahan kebijakan dan keekonomian proyek hilirisasi jika harga komoditas global bergerak tidak sesuai asumsi awal.
Rekomendasi Saham dan Prospek Masa Depan
Hendra menambahkan, untuk ke depannya, jumlah emiten yang terlibat dalam proyek hilirisasi yang diinisiasi Danantara diperkirakan akan terus bertambah. Hal ini didorong oleh kebutuhan pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi dan pangan nasional, sekaligus meningkatkan daya saing industri dalam negeri. Selain itu, tekanan global terhadap ekspor bahan mentah mendorong Indonesia untuk segera mempercepat hilirisasi lintas sektor.
Emiten swasta dengan neraca keuangan kuat dan kapabilitas teknologi berpeluang semakin aktif terlibat, terutama untuk mempercepat realisasi proyek. Hendra merekomendasikan buy on weakness saham ANTM di kisaran harga Rp 3.440–Rp 3.500 per saham dengan target harga di level Rp 4.000 per saham. Prospek saham ANTM ditopang oleh proyek SGAR Fase 2 serta eksposur ke komoditas strategis seperti nikel dan emas.
Saham PTBA juga direkomendasikan speculative buy dengan target harga di level Rp 3.000. Hal ini mencerminkan potensi transformasi bisnis PTBA melalui proyek DME, meski proyek ini belum resmi berjalan. Di lain pihak, Arinda menyebut saham ANTM layak dipertimbangkan oleh investor dengan target harga di level Rp 4.500 per saham.
Menurut dia, dengan meningkatnya kebutuhan pembiayaan dan integrasi rantai pasok, Danantara melalui berbagai proyek hilirisasinya berpotensi menjadi hub yang mempertemukan berbagai emiten lintas sektor.







