Perang dan Krisis Kepemimpinan di Iran
Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran telah memicu krisis kepemimpinan yang luar biasa. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan tersebut. Sejak saat itu, Iran sedang menghadapi proses suksesi yang sangat penting untuk menentukan siapa yang akan menggantikan posisi ayahnya.
Mojtaba Khamenei, putra kedua dari Ayatollah Ali Khamenei, menjadi kandidat terkuat untuk menggantikan ayahnya sebagai pemimpin tertinggi Iran. Ia adalah seorang ulama tingkat menengah dengan hubungan dekat dengan Garda Revolusi Iran yang berpengaruh. Meskipun belum ada pengumuman resmi, banyak pihak melihatnya sebagai kandidat utama.
Perebutan suksesi ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan para rivalnya. Serangan dan baku tembak militer dilaporkan terjadi di Irak, Bahrain, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Kuwait, dan Lebanon. Hal ini menunjukkan bahwa konflik regional semakin memburuk.
Presiden AS Donald Trump memberikan respons terhadap langkah Iran yang akan segera mengumumkan pemimpin baru. Trump berjanji akan memberikan pengaruh atas siapa yang dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran berikutnya. “Dia harus mendapatkan persetujuan dari kami,” kata Trump. “Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama.”
Trump juga menyatakan bahwa ia tidak ingin pemerintahan Iran ke depan kembali ke masa lalu. “Saya tidak ingin orang-orang harus kembali dalam lima tahun dan melakukan hal yang sama lagi, atau lebih buruk lagi, membiarkan mereka memiliki senjata nuklir,” katanya.
Proses Pemilihan Pemimpin Baru
Menurut konstitusi Iran, Majelis Pakar, sebuah badan keagamaan beranggotakan 88 orang, bertanggung jawab untuk memilih pemimpin tertinggi negara setelah pemimpin petahana meninggal dunia. Saat ini, Majelis Pakar sedang berkumpul untuk menentukan nama pengganti Ayatollah Ali Khamenei.
Mohammad Mehdi Mirbagheri, tokoh terkemuka di Majelis Pakar, mengatakan penunjukkan pengganti Ali Khamenei harus dilakukan secara hati-hati agar tidak ada penolakan di internal mereka. “Suatu pendapat yang hampir pasti telah tercapai. Mayoritas yang signifikan telah terbentuk, tetapi pada saat yang sama, beberapa hambatan harus dihilangkan, yang kami harapkan akan segera terjadi,” kata Mirbagheri.
Sementara itu, Ahmad Alamolhoda, seorang pemimpin Muslim ultra-konservatif terkemuka yang mewakili kota suci Syiah Mashhad di Majelis Pakar, mengatakan bahwa pemimpin telah dipilih dan sekretariat Majelis Pakar harus segera mengumumkan hasilnya. “Pemilihan pemimpin telah berlangsung dan pemimpin telah ditentukan. Semua rumor bahwa Majelis Pakar belum mengambil keputusan adalah kebohongan belaka,” ujar Alamolhoda.
Kriteria untuk Pemimpin Masa Depan
Abbas Kaabi, seorang anggota senior Dewan Penjaga Konstitusi, mengungkap pernyataan Khamenei soal kriteria pemimpin masa depan Iran. “Keyakinan yang teguh pada prinsip-prinsip dasar revolusi Islam (1979), memiliki wawasan dan pengetahuan tentang musuh dan hasutan, dan terutama bersikap anti-kesombongan serta memiliki keyakinan dan perlawanan dalam menghadapi Amerika dan rezim Zionis,” ujarnya.
Khamenei juga memberikan kriteria-kriterianya, termasuk kesalehan finansial pemimpin tertinggi. “Di antara semua atribut, kesalehan finansial pemimpin tertinggi adalah yang terpenting, mengingat kekuasaan dan tanggung jawab kepemimpinan sangat penting jika terjadi penyimpangan finansial, hal itu akan menyebar ke semua hal lainnya,” kata Kaabi seperti dikutip oleh kantor berita Mehr yang berafiliasi dengan IRGC.
Dampak Perang di Seluruh Wilayah
Serangan AS-Israel terhadap Iran telah menewaskan Ayatollah Ali Khamenei. Menghadapi serangan tersebut, Iran melakukan balasan dengan meluncurkan rudal ke sejumlah Pangkalan Militer AS yang ada di kawasan Timur Tengah.
Dampak dari perang AS-Israel Vs Iran kini meluas dan merembet terhadap pasokan energi dunia. Pasokan energi seperti minyak dan LNG dunia saat ini terganggu setelah Iran menutup Selat Hormuz. Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan energi dari wilayah Timur Tengah ke Asia, Afrika, dan Eropa.
Tak hanya itu, buntut serangan AS-Israel ke Iran, penerbangan ke sejumlah wilayah Timur Tengah pun terganggu.







