Kasus Pembunuhan Sekeluarga oleh Anak Kandung
Kasus pembunuhan yang terjadi di Tanjungpriok, Jakarta Utara, mengejutkan banyak pihak. Seorang anak, Abdullah Syauqi Jamaludin (22), diduga membunuh ibu dan dua saudaranya dengan cara meracuni mereka menggunakan racun tikus. Kejadian ini berawal dari dugaan keracunan, namun setelah penyelidikan lebih lanjut, fakta menyatakan bahwa korban justru dibunuh secara sengaja.
Fakta Awal Kasus
Awalnya, kasus ini dianggap sebagai kejadian keracunan. Namun, setelah dilakukan penyelidikan dan uji laboratorium, ditemukan bahwa para korban meninggal akibat paparan zat kimia berbahaya. Korban ditemukan dalam kondisi mulut berbusa serta terdapat ruam merah di beberapa bagian tubuh. Hal ini menjadi indikasi kuat bahwa mereka diracuni.
Abdullah Syauqi sempat berpura-pura sebagai korban dengan kondisi lemas di depan kamar mandi. Namun, hasil penyelidikan menunjukkan bahwa ia adalah pelaku utama dari peristiwa tersebut.
Kronologi Pembunuhan
Pembunuhan berencana ini dilakukan oleh Abdullah Syauqi setelah merayakan malam Tahun Baru pada 1 Januari 2026. Sejak Desember 2025, hubungan antara Syauqi dan keluarganya tidak harmonis. Ia merasa diperlakukan secara berbeda dan sering dimarahi oleh ibunya.
Pada 31 Desember 2025, Syauqi membeli satu bungkus racun tikus di wilayah Bahari, Tanjung Priok. Selanjutnya, ia juga membeli dua bungkus kapur barus di Warakas. Setelah bekerja di Gudang Cargo Sunter hingga malam hari, Syauqi merayakan malam Tahun Baru dengan minum minuman keras bersama rekan kerjanya.
Pada 1 Januari 2026, Syauqi pulang ke rumah dan membawa sisa kembang api. Pada malam harinya, ibu dan kakaknya memarahinya karena kebiasaan pulang pagi. Di tengah malam, saat semua korban tertidur, Syauqi merebus teh dan menggunakan beberapa lapis masker. Ia memasukkan kapur barus ke dalam panci hingga ruangan berasap, lalu keluar dan menutup pintu.
Pada 2 Januari 2026 dini hari, Syauqi memastikan bahwa ketiga korban sudah dalam kondisi lemas. Ia kemudian menyiapkan minuman teh yang telah dicampur racun tikus dan menyuapi korban satu per satu hingga meninggal dunia. Setelah itu, ia membakar kembang api dan mengarahkannya ke tubuhnya sendiri agar seolah-olah ikut menjadi korban.
Hasil Autopsi
Dokter Forensik RS Polri, dr Nader Aditya Mardika, menjelaskan bahwa tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan fisik pada jenazah korban. Namun, aroma menusuk ditemukan saat proses pembedahan. Dinding lambung korban berubah warna menjadi merah muda dengan cairan kecokelatan di dalamnya. Dokter menyimpulkan bahwa korban meninggal akibat paparan zat kimia dalam dosis tinggi.
Temuan medis ini selaras dengan hasil uji laboratorium toksikologi yang mengonfirmasi keberadaan Zinc Phosphate atau racun tikus di dalam tubuh korban.
Penetapan Tersangka
Berdasarkan hasil penyelidikan, polisi menetapkan Abdullah Syauqi sebagai tersangka. Motif pembunuhan ini disebabkan oleh rasa dendam karena merasa diperlakukan berbeda oleh keluarga. Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 459 dan/atau Pasal 467 KUHP tentang pembunuhan dan pembunuhan berencana, serta Pasal 76C jo Pasal 80 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.
Ancaman hukuman maksimal mencapai 20 tahun penjara.
Respons Warga
Warga sekitar mengaku terkejut dan tidak menyangka jika pelaku adalah anggota keluarga sendiri. Lingkungan tempat tinggal korban dikenal tenang, sehingga kejadian ini membuat warga semakin waspada terhadap konflik rumah tangga yang tidak terlihat dari luar.






