Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Kecelakaan KA Argo Bromo vs KRL di Bekasi, awal mula dari mobil listrik VinFast VF e34 yang mogok di tengah rel

    5 Mei 2026

    5 Amalan dan Doa Penting untuk Jamaah Haji di Madinah

    5 Mei 2026

    Revolution Penanganan Nyeri Tanpa Operasi: Klinik GP+ Bawa Standar Emas Singapore Paincare ke Indonesia

    5 Mei 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Selasa, 5 Mei 2026
    Trending
    • Kecelakaan KA Argo Bromo vs KRL di Bekasi, awal mula dari mobil listrik VinFast VF e34 yang mogok di tengah rel
    • 5 Amalan dan Doa Penting untuk Jamaah Haji di Madinah
    • Revolution Penanganan Nyeri Tanpa Operasi: Klinik GP+ Bawa Standar Emas Singapore Paincare ke Indonesia
    • Gurihnya Bakmi Buatan Sendiri di Bakmie 96, Pilihan Kuliner Nikmat Saat Hujan
    • Berapa kWh Dapat dengan Token Rp50.000? Cek Tarif Listrik Mei 2026
    • Jadwal Kapal Pelni 3-18 Mei: Surabaya-Ambon, Tiket Rp670.500, KM Ciremai, Labobar, G Dempo
    • Harga BBM Naik, Daftar Terbaru Resmi 4 Mei 2026
    • Trump Menolak Usulan Damai Iran, Negosiasi Akhiri Konflik Timur Tengah Terancam Gagal
    • Toyota Calya 2026: Desain Modern, Hemat BBM, Harga Terjangkau
    • Porsche Cayenne Listrik 2026: SUV Super Cepat dengan Akselerasi Menggemparkan
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Teknologi»Belajar dari Jiang Xueqin: Siapa yang Menguasai Dunia Digital?

    Belajar dari Jiang Xueqin: Siapa yang Menguasai Dunia Digital?

    adm_imradm_imr9 April 20261 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Kehadiran Manusia yang Utuh di Era Digital

    Di zaman yang serba cepat, instan, dan mudah diakses, kehadiran utuh sebagai manusia semakin langka. Kita bangun dengan ponsel di tangan, menjalani hari dalam lingkungan notifikasi, dan tidur dengan kepala penuh informasi yang tidak sempurna. Hal ini membuat kita menghadapi situasi yang aneh: semakin banyak yang kita lihat, semakin sedikit yang kita pahami.

    Dunia terasa penuh, namun batin kita sering kosong. Dalam kondisi seperti ini, gagasan lama dari Plato tentang manusia di dalam gua kembali relevan. Kita mungkin tidak lagi terbelenggu oleh rantai fisik, tetapi kita tetap terikat oleh sesuatu yang jauh lebih halus, yaitu perhatian kita sendiri.

    Pemikiran Jiang Xueqin

    Pemikir seperti Jiang Xueqin membaca situasi ini dengan cukup tajam. Ia tidak melihat krisis hari ini sebagai sekadar persoalan politik, ekonomi, atau teknologi. Bagi Jiang, masalahnya lebih mendasar, yakni kita sedang kehilangan kendali atas kesadaran kita sendiri. Apa yang kita pikirkan, rasakan, dan anggap penting semakin ditentukan oleh sistem di luar diri kita, termasuk algoritma, arus opini, dan struktur kekuasaan yang bekerja tanpa terlihat.

    Dari sinilah ia memulai satu gagasan yang terdengar sederhana, tetapi sebenarnya cukup mengguncang: kekayaan sejati bukanlah uang, melainkan perhatian. Selama ini kita terbiasa mengukur nilai hidup dari hal-hal yang bisa dihitung melalui saldo rekening, aset, atau pencapaian material. Namun di dunia yang penuh distraksi, kemampuan untuk fokus justru menjadi sesuatu yang mahal.

    Perhatian sebagai Komoditas

    Kita bisa memiliki banyak hal, tetapi jika perhatian kita tercerai-berai, semua itu kehilangan maknanya. Sebaliknya, seseorang yang mampu mengarahkan kesadarannya dengan jernih, memilih apa yang layak diperhatikan, dan tidak mudah terseret arus maka sebetulnya dialah yang sebenarnya “kaya”.

    Masalahnya, perhatian kita hari ini bukan sekadar terganggu—justru ia diperebutkan. Ada industri besar yang hidup dari ekonomi perhatian. Platform digital, media sosial, hingga sistem hiburan dirancang sedemikian rupa untuk mempertahankan kita selama mungkin di dalamnya. Bukan karena mereka jahat secara sederhana, tetapi karena model bisnisnya memang bergantung pada itu. Semakin lama kita bertahan, semakin besar nilai yang bisa diekstraksi. Dalam situasi ini, perhatian manusia berubah menjadi komoditas.

    Peran Teknologi dan Kecerdasan Buatan

    Di sinilah teknologi, terutama kecerdasan buatan, memainkan peran yang semakin besar. Kita sering melihat AI sebagai alat bantu yang mempermudah pekerjaan, mempercepat proses, atau meningkatkan efisiensi. Namun jika dilihat lebih dalam, AI juga berfungsi sebagai kurator realitas. Ia memilihkan apa yang kita lihat, menyaring apa yang kita baca, bahkan memengaruhi apa yang kita rasakan. Pelan-pelan, kita tidak lagi berhadapan langsung dengan dunia, melainkan dengan versi dunia yang sudah diproses untuk kita.

    Jiang menyebut kecenderungan ini sebagai bentuk kontrol baru—bukan kontrol yang keras dan memaksa, tetapi yang lembut dan nyaris tidak terasa. Kita tidak dipaksa untuk patuh melainkan dibuat nyaman. Kita tidak dilarang berpikir melainkan kita diberi terlalu banyak hal untuk dipikirkan, hingga akhirnya tidak sempat berpikir secara mendalam. Ini yang membuat situasinya menjadi rumit. Karena tidak terasa seperti penindasan, kita jarang menyadarinya sebagai masalah.

    Perubahan Global dan Kekuasaan

    Dalam konteks yang lebih luas, perubahan ini juga berjalan seiring dengan pergeseran tatanan global. Dunia yang dulu relatif stabil dengan aturan main yang jelas kini mulai retak. Figur seperti Donald Trump sering dilihat sebagai simbol dari perubahan ini—bukan penyebab tunggal, tetapi bagian dari gelombang yang lebih besar.

    Politik menjadi lebih transaksional, kerja sama internasional melemah, dan kepentingan nasional kembali menguat. Dalam kondisi seperti ini, konflik tidak lagi semata-mata soal ideologi, tetapi soal hal-hal yang sangat konkret dapat berupa energi, pangan, air, dan keberlangsungan hidup.

    Di balik semua dinamika ini, ada satu hal yang jarang dibicarakan secara jujur yakni bagaimana kekuasaan direproduksi. Pengalaman Jiang di Universitas Yale membuka sisi lain dari narasi meritokrasi yang sering kita dengar.

    Kritik dan Harapan

    Kita diajarkan bahwa siapa pun bisa berhasil selama cukup pintar dan bekerja keras. Namun dalam praktiknya, jaringan, akses, dan kedekatan sosial sering kali memainkan peran yang sama besar, bahkan lebih besar. Institusi elit bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang di mana kekuasaan diwariskan dan diperkuat.

    Semua ini bisa terasa cukup pesimistis jika berhenti di sini. Namun Jiang tidak berhenti pada kritik. Ia justru menutup dengan sesuatu yang sederhana, tetapi penting bahwa setiap individu tetap memiliki arti. Di tengah sistem yang besar dan kompleks, kita memang tidak selalu punya kendali atas segalanya. Tetapi kita masih punya kendali atas satu hal yang paling mendasar yakni perhatian kita sendiri.

    Kesadaran dan Kebebasan

    Memilih untuk sadar di tengah dunia yang penuh distraksi bukanlah hal yang mudah. Ia membutuhkan disiplin, keberanian, dan kadang-kadang kesediaan untuk merasa tidak nyaman. Artinya, kita harus berani mempertanyakan apa yang kita konsumsi setiap hari, berani mengambil jarak dari arus yang terlalu bising, dan berani berpikir sendiri ketika semua orang tampak sepakat.

    Mungkin di situlah letak perlawanan yang paling nyata hari ini. Bukan dalam bentuk yang spektakuler, tetapi dalam keputusan-keputusan kecil yang konsisten, memilih untuk fokus, untuk memahami, dan untuk peduli.

    Dalam dunia yang terus berusaha merebut perhatian kita, kemampuan untuk mengatakan “tidak” pada distraksi dan “ya” pada kesadaran adalah bentuk kebebasan yang tidak bisa direbut begitu saja.

    Pertanyaan Akhir

    Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi apakah dunia ini semakin kompleks, sebab pertanyaan itu sudah pasti. Namun pertanyaan yang paling tepat adalah, di tengah kompleksitas itu, apakah kita masih hadir sebagai manusia yang utuh, atau hanya menjadi penonton yang larut dalam arus? Karena bisa jadi, kekayaan terbesar yang kita miliki bukanlah apa yang kita kumpulkan, melainkan apa yang berhasil kita sadari.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Toyota Calya 2026: Desain Modern, Hemat BBM, Harga Terjangkau

    By adm_imr5 Mei 20261 Views

    Vivo Y21d: Kamera 50MP dan Suara Menggelegar, Ini Spesifikasi dan Harganya

    By adm_imr5 Mei 20261 Views

    Pelaksanaan Ujian TKA SDN Kota Tengah Gorontalo: Tahapan dan Kelulusan Menunggu Keputusan

    By adm_imr5 Mei 20261 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Kecelakaan KA Argo Bromo vs KRL di Bekasi, awal mula dari mobil listrik VinFast VF e34 yang mogok di tengah rel

    5 Mei 2026

    5 Amalan dan Doa Penting untuk Jamaah Haji di Madinah

    5 Mei 2026

    Revolution Penanganan Nyeri Tanpa Operasi: Klinik GP+ Bawa Standar Emas Singapore Paincare ke Indonesia

    5 Mei 2026

    Gurihnya Bakmi Buatan Sendiri di Bakmie 96, Pilihan Kuliner Nikmat Saat Hujan

    5 Mei 2026
    Berita Populer

    HUT ke-112 Kota Malang Jadi Momentum Evaluasi, Wali Kota Tekankan Penyelesaian Masalah Prioritas

    Kota Malang 1 April 2026

    Kota Malang- Wahyu Hidayat menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang bukan…

    Kasus Perzinaan Oknum ASN Kota Batu Berujung Penjara, Vonis Diperberat di Tingkat Banding

    29 April 2026

    Banyak Layani Luar Daerah, Dinkes Kabupaten Malang Ubah UPT Kalibrasi Jadi BLUD

    27 Maret 2026

    Kejagung Sita Aset Kasus Ekspor CPO di Kota Malang, Tanah 157 Meter Persegi Dipasangi Plang

    2 Mei 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?