Gua Hira, Tempat Turunnya Wahyu Pertama
Gua Hira adalah salah satu tempat yang selalu dikunjungi oleh para jemaah saat melakukan ibadah haji atau umrah ke Tanah Suci Makkah. Terletak di puncak Jabal Nur, gua ini menjadi tujuan utama karena sejarahnya sebagai tempat diturunkannya wahyu pertama Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Jabal Nur berada di kawasan Hejaz, dan untuk mencapai Gua Hira, peziarah harus melewati jalanan menanjak lalu mendaki gunung batu tersebut. Jarak dari Masjidil Haram ke Gua Hira sekitar 7 km.
Perjalanan ke Gua Hira
Saya berkesempatan mengunjungi Gua Hira setelah puncak haji. Perjalanan dimulai dari hotel di kawasan Syisyah, Kota Makkah sekitar pukul 03.00 waktu Arab Saudi. Kami memilih berangkat dini hari agar terhindar dari panas matahari Kota Makkah. Tiba di pintu masuk menuju Jabal Nur, sudah banyak jemaah dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Banyak dari mereka menggunakan tongkat yang dilengkapi senter untuk mendaki.
Mendekati subuh, semakin banyak jemaah yang datang ke Jabal Nur. Gunung ini terdiri dari batu-batu tajam dengan permukaan yang berlapis bebatuan. Untuk memudahkan peziarah, beberapa bagian telah dibuat anak tangga dengan pegangan pagar besi di salah satu sisinya.
Pintu Masuk Gua Hira
- Diapit batu-batu besar, pintu masuk Gua Hira hanya bisa dilalui 1 orang
Saat azan subuh berkumandang dari Kota Makkah yang terdengar sampai di atas Jabal Nur, para jemaah mendirikan salat subuh di permukaan gunung yang datar. Di atas pasir dan batu, jemaah melaksankan salat subuh menghadap langsung ke Ka’bah di Masjidil Haram.
Setelah melewati jalan naik turun, berkelok, dan beristirahat di sana sini, akhirnya pada pukul 05.22 waktu Arab Saudi, saya sampai di pintu masuk menuju Gua Hira. Pintunya sangat kecil, hanya bisa dilewati satu orang sambil menunduk karena diapit batu-batu besar.
Keajaiban dalam Gua Hira
- Gua Hira, tempat turunnya wahyu pertama kepada Rasulullah “Iqra”

Setelah melewati lorong kecil bebatuan besar tersebut, kita akan tiba di tempat terbuka dimana langsung bisa menghadap ke langit. Tempat ini menjadi pemisah antara Gua Hira dan pintu masuknya. Di tempat ini juga, para peziarah antre untuk masuk ke dalam Gua Hira.
Bagian dalam Gua Hira hanya bisa berdiri maksimal 3 orang. Di dalamnya ada batu pipih di dinding gua dengan keharuman seperti batu dinding Ka’bah. Agar tidak bercampur antara jemaah perempuan dan laki-laki di dalam gua, secara sukarela ada jemaah yang mengatur masuknya jemaah secara bergiliran. Saya sendiri dipersilakan masuk mengikuti dua jemaah perempuan dari negara lain.
Banyak jemaah menangis terharu bisa masuk ke dalam Gua Hira, gua tempat Malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama Allah SWT kepada Rasulullah. Di gua ini, Malaikat Jibril menyuruh dan mengajarkan Rasulullah membaca, “Iqra!”. Di gua ini pula dimulainya periode kenabian (nubuwwah) Rasulullah SAW.
Pemandangan Menakjubkan dari Atas Gua Hira
- Pemandangan dari atas Gua Hira, terlihat jelas tower Air Zamzam dekat Ka’bah

Dari puncak Gua Hira kita bisa melihat seluruh Kota Makkah. Bahkan terlihat jelas Tower Air Zamzam, tak jauh dari tempat berdirinya Baitullah (Ka’bah). Langit biru nan jernih terbentang luas. Pada pagi itu, bulan dan bintang masih terlihat jelas dari atas Gua Hira.
Banyak jemaah menunaikan salat dari atas batu Gua Hira menghadap langsung ke Ka’bah. Banyak juga yang bermunazat mengangkat tangan menghadap langsung ke atas langit. Tampak dua jemaah haji Indonesia yang sudah lanjut usia saling bergandengan tangan menyusuri dinding-dinding batu mencari celah untuk turun ke bawah.
Kehadiran Lansia di Gua Hira
- Leganya lansia 80 dari Bandung bisa sampai ke Gua Hira

Kedua jemaah yang merupakan pasangan suami istri tersebut berasal dari Bandung Barat, Jawa Barat. Keduanya sudah berusia 80 tahun. Kendati sudah lansia, namun mereka mampu mencapai Gua Hira. Tampak wajah mereka bersinar lega dan senang.
“Nyampai ka diye (ke sini) nyampai (ke dalam Gua Hira),” kata Ibu Isa dan Pak Toto, dalam Bahasa Sunda.
Ibu Isa mengungkapkan, diberangkatkan haji oleh anak mereka. Dia memegang erat tangan suaminya, kemudian menaruh tangan sang suami di bahunya, menuntun sang suami menyusuri batu-batu menuruni Jabal Nur.
Jalur Menuju Gua Hira
- Jalan ke Gua Hira hanya cukup untuk 2 orang, bergilir naik dan turun

Jalan setapak di pinggir tebing, yang menjadi satu-satunya akses ke Gua Hira, harus dilalui bersama oleh jemaah yang akan naik dan yang akan turun. Luas jalan tersebut hanya cukup untuk 2 orang, 1 sisi untuk jemaah yang akan naik, dan satu sisi untuk jemaah turun. Di beberapa titik, jemaah harus bergiliran bergerak ke atas atau ke bawah karena padatnya jemaah dan jalanan tidak muat.
Di sepanjang perjalanan, banyak pedagang-pedagang yang menjual minuman, banyak juga pengemis yang berharap belas kasih peziarah memberikan riyal mereka. Beberapa di antara mereka sambil memegang sapu, meyapu sampah-sampah botol plastik minuman bekas peziarah.










