Program Management Entrepreneur Days di UB Malang
Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya (UB) Malang kembali menunjukkan komitmennya dalam pengembangan keterampilan wirausaha melalui kegiatan yang diselenggarakan di Transmart MX Mal Kota Malang. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Management Entrepreneur Days yang digelar sebagai implementasi pembelajaran Laboratorium Kewirausahaan (Lab KWU) dengan tema ‘Entrepreneurship for Sustainable Future’.
Kegiatan bertajuk Sustain Bazaar 2026 ini melibatkan sebanyak 300 mahasiswa, yang terbagi dalam berbagai kelompok untuk menjalankan usaha sederhana selama hampir satu bulan, mulai tanggal 4 hingga 31 Mei 2026. Dalam acara ini, terdapat sekitar 60 tenant yang dihadirkan, baik oleh mahasiswa maupun pelaku UMKM.
Beragam produk yang dijual dalam bazaar ini mencakup kuliner, fashion, hingga produk kreatif berbasis keberlanjutan. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah memberikan pengalaman nyata dalam menjalankan bisnis, bukan hanya sekadar teori.
Pembelajaran Praktik yang Efektif
Ketua Jurusan Manajemen FEB UB Malang, Dr Nanang Suryadi SE MM, menjelaskan bahwa program ini telah berjalan selama belasan tahun sebagai model pembelajaran kewirausahaan berbasis praktik. Ia mengungkapkan bahwa evaluasi dari tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa durasi bazaar yang singkat belum memberikan pengalaman maksimal.
“Karena itu, tahun ini kami rancang lebih panjang agar mahasiswa benar-benar merasakan proses bisnis secara utuh,” ucapnya.
Acara yang digelar selama hampir satu bulan ini dikemas dengan konsep yang cukup menarik. Di hari pertama pembukaan, cukup banyak mahasiswa yang hadir langsung untuk melihat rekan-rekannya sesama mahasiswa berjualan.
Menurut Nanang, kegiatan ini tidak hanya menekankan pada aspek penjualan, tetapi juga pengalaman menyeluruh dalam menjalankan usaha. Mahasiswa dituntut memahami operasional bisnis, menyusun strategi pemasaran, mengembangkan produk, hingga menghadapi langsung dinamika pasar dan perilaku konsumen.
“Pembelajaran seperti ini terbukti lebih efektif dibandingkan teori semata. Mahasiswa belajar mengambil keputusan, memecahkan masalah, dan membangun keberanian berwirausaha,” ujarnya.
Kolaborasi dengan Pelaku UMKM
Menariknya, mahasiswa juga didorong untuk berkolaborasi dengan pelaku UMKM melalui berbagai skema seperti reseller, titip jual, hingga pemasaran digital. Pendekatan ini dinilai relevan dengan tren bisnis saat ini, sekaligus membuka peluang bagi mahasiswa untuk memulai usaha tanpa harus memiliki modal besar.
“Kami ingin mahasiswa punya pola pikir adaptif. Bahwa bisnis bisa dimulai dari kolaborasi dan kreativitas, bukan hanya dari modal,” ujar Nanang.
Mahasiswa yang berjualan pun juga dibagi dalam sistem kelompok. Satu kelompok terdiri dari 5-6 orang. Hal ini memungkinkan mereka untuk saling mendukung dan membagi tugas dalam menjalankan usaha.
Pengalaman Nyata dalam Berwirausaha
Seorang mahasiswa Manajemen semester 4 FEB UB Malang, Putri Dwi Arianti, menyampaikan bahwa kegiatan ini cukup penting karena mereka dapat merasakan langsung bagaimana cara berwirausaha dan menjalankan bisnis.
“Dengan praktek seperti ini kami bisa merasakan langsung menjadi wirausaha dengan terjun ke lapangan. Kami bisa belajar langsung dan bertemu konsumen,” katanya.
Dalam bazar kali ini, Putri bersama rekan-rekannya yang lain berjualan kue mochi yang diambil langsung dari pelaku UMKM. Lalu ada jajanan lain bikinan sendiri hasil dari inovasi yang ia lakukan.
Di hari pertama, ia menjual 20 kue mochi sebagai uji coba. Rencananya, ia akan menambah stok lebih banyak lagi seandainya jajanannya laris manis.
“Sementara masih 20 pcs dulu. Saat ini baru laku 2pcs. Nanti kalau laku banyak, bakal kami tambah lagi. Karena ini masih percobaan di hari pertama,” ungkapnya.
Inovasi Produk yang Menarik Perhatian
Sementara itu, mahasiswa lainnya ada yang berjualan Pangsit Mie yang terbuat dari semangka. Inovasi ini lahir dari riset yang mereka lakukan sebelum akhirnya dijual dalam kegiatan bazar kali ini.
“Sebelumnya ada trail eror kak. Kami gak langsung buat terus jadi. Sejak April kami melakukan persiapan hingga akhirnya lahir inovasi ini,” kata Rahmad Saiba, mahasiswa semester empat.
Rahmad juga menyediakan tester gratis bagi pengunjung yang ingin mencoba mencicipi dulu mie Semangka buatan kelompoknya. Untuk satu porsi Pangsit Mie mie Semangka ini dijual dengan harga Rp 15.000-18.000.
“Tester gratis ini untuk orang-orang yang penasaran dengan mie Semangka ini. Jadi biar orang mencicipi dulu sebelum membelinya,” tandasnya.







