Kejadian Pasangan Sesama Jenis di Ujung Batung, Kota Pariaman
Pada hari Selasa (3/2/2026), warga di Ujung Batung, Pariaman Tengah, Kota Pariaman, Sumatera Barat mengamankan dua orang laki-laki yang diduga merupakan pasangan sesama jenis. Kejadian ini berawal dari kecurigaan warga yang melihat dua pria masuk ke dalam rumah dan langsung mengunci pintu. Hal ini membuat masyarakat menjadi waspada dan memutuskan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Menurut Lurah Ujung Batung, Afrizon, laporan pertama diterima sekitar pukul 10.00 WIB. Ia segera menindaklanjuti dengan membawa petugas keamanan setempat, yaitu dubalang, untuk mengecek lokasi tersebut. Di tempat kejadian, terdapat sebuah rumah kontrakan yang ditempati oleh seorang warga bernama IH (40 tahun). Saat ditemukan, IH keluar dengan wajah pucat dan melihat kerumunan warga.
Agar tidak terjadi tindakan gegabah, Lurah Afrizon membawa kedua pria tersebut ke kantornya. Di sana, ia berkoordinasi dengan Babin dan Babinsa setempat. Setelah dilakukan koordinasi, Lurah kemudian mengundang pemuka adat dan tokoh masyarakat untuk mencari solusi terkait situasi yang terjadi.
Dari hasil koordinasi, diketahui bahwa JM (26 tahun) mengaku sedang menjalin hubungan dengan IH saat warga datang. Ia juga menyatakan bahwa ini bukan kali pertama ia melakukan hubungan seksual, tetapi dengan IH adalah pertama kalinya.
Penyelesaian Masalah
Setelah semua informasi terungkap, Lurah Afrizon berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Namun, polisi menyatakan bahwa tidak ada pelanggaran hukum yang dilakukan. Oleh karena itu, kasus ini diserahkan kembali kepada masyarakat secara sosial dan adat setempat.
Berdasarkan kesepakatan dalam pertemuan, IH diusir dari kontrakannya, dan kedua pihak sepakat untuk membayar 25 sak semen sebagai bentuk penyelesaian masalah. Lurah Afrizon menyebut bahwa kejadian ini adalah yang pertama kali terjadi di wilayahnya dan menjadi pelajaran bagi masyarakat setempat.
Ia meminta agar masyarakat lebih waspada terhadap pendatang dan memastikan latar belakang mereka. Selain itu, masyarakat juga diminta untuk melaporkan kejadian tersebut kepada Rukun Tetangga atau Rukun Warga.
Apakah Gay Bisa Sembuh?
Banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang menjadi gay. Beberapa antara lain:
- Kondisi biologis sejak lahir – Ada kemungkinan seseorang lahir dengan orientasi seksual tertentu.
- Perubahan hormonal – Perubahan hormon bisa memengaruhi orientasi seksual seseorang.
- Kondisi sosial – Misalnya, seseorang yang awalnya heteroseksual bisa terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya, seperti bergabung dengan kelompok homoseksual.
Dalam dunia psikologi, istilah “mengobati” tidak digunakan karena psikolog tidak pernah belajar menggunakan obat. Sebaliknya, psikolog menggunakan istilah “perlakuan/treatment”. Jika seseorang ingin berubah dari gay menjadi heteroseksual, psikolog bisa membantu melalui konseling dan terapi.
Beberapa cara untuk mengatasi orientasi seksual yang tidak diinginkan antara lain:
- Konseling dan terapi – Bisa membantu seseorang untuk memahami dirinya sendiri dan mengelola perasaan.
- Pengobatan diri – Bila penyebabnya karena ikut-ikutan teman, seseorang bisa melakukan pengobatan diri dengan kehendak yang kuat.
- Perhatian orang tua – Orang tua perlu lebih memperhatikan remaja mereka agar tidak terpengaruh oleh lingkungan negatif.
Pentingnya Kesadaran Masyarakat
Terkait kasus-kasus serupa di Jakarta, seperti pesta gay yang dilakukan di satu tempat dalam jumlah banyak, penting untuk memahami bahwa masalah utamanya bukanlah orientasi seksual, tetapi perilaku seks yang tidak pantas. Mereka salah karena berhubungan seks di tempat yang tidak seharusnya, bahkan sampai ratusan orang.
Mengenai motivasi mereka melakukan hal tersebut, apakah ada unsur “jebakan” atau penipuan, atau murni niat sendiri, sangat penting untuk diketahui agar kejadian serupa tidak terulang.
Untuk mencegah bertambahnya jumlah remaja yang berorientasi seksual sesama jenis, orang tua harus lebih memperhatikan anak-anak mereka. Jika remaja menjadi homoseksual karena ikut-ikutan teman, perlu segera mendapat perlakuan tertentu. Namun, jika penyebabnya karena kondisi biologis, seperti hormon, kromosom, atau neuropsikologis, maka lebih sulit diterapi.







