Perjalanan Oksy dalam Dunia Dansa
Oksy, seorang pegiat dansa di Provinsi Jambi, memiliki kisah menarik tentang bagaimana ia mengenal dan berkembang dalam dunia dansa. Dalam wawancara eksklusif dengan jurnalis Tribun Jambi (Fadli), ia berbagi pengalaman pribadi, perbedaan antara dansa dan tari, serta rencana ke depan untuk Asosiasi Masyarakat Dansa Indonesia (AMDI).
Awal Mula Menari
Awalnya, Oksy tidak terpikir untuk menjadi pecinta dansa. Dari kecil, ia lebih suka menari daerah dan cheerleaders dance. Bahkan, ia sempat mengajar anak-anak sekolah dan mahasiswa saat masih SMA. “Saya mengajar tari, termasuk cheerleaders,” katanya.
Namun, semakin dewasa, ia mulai tertarik pada dansa karena musik yang lebih pelan dan enak didengar. “Dulu saya lebih suka tari, tapi sekarang lebih senang dansa,” ujarnya.
Pengenalan Awal Terhadap Dansa
Pengenalan awal Oksy terhadap dansa bermula dari video YouTube. “Awalnya saya sering melihat video di YouTube, lalu mendengarkan lagu-lagu dansa dan mulai tertarik,” katanya. Ia mengaku bahwa ini terjadi saat masih sekolah, dan seiring waktu, minatnya terus berkembang.
Belajar Dansa Secara Otodidak
Oksy mengakui bahwa ia belajar dansa secara otodidak. “Saya bukan guru atau ahli dansa, hanya saja dipercaya menjadi ketua. Sampai sekarang pun saya masih belajar,” katanya. Ia juga belajar dari guru line dance yang ada di Jambi.
Perbedaan Dansa dan Tari
Menurut Oksy, perbedaan utama antara dansa dan tari terletak pada hitungan dan ketukan. “Ada beberapa jenis dansa seperti line dance, ULDI, ILDI, dan AMDI. ILDI dan ULDI lebih banyak kreasi, sedangkan dansa lebih slow dan gerakannya melingkar,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa dansa memiliki pola gerakan yang harus dihafal dan diikuti alunan musik. “Gerakannya berulang mengikuti pola dan irama musik. Ada pola dasar yang terus diulang,” tambahnya.
Kegiatan Latihan dan Anggota
Saat ini, AMDI memiliki studio latihan bernama Kiss Studio. “Latihannya rutin, hampir setiap hari,” kata Oksy. Jumlah anggota pengurus mencapai sekitar 25 orang, dan sudah terbentuk sembilan kabupaten/kota di Jambi.
Minat Anak Muda
Minat anak muda terhadap dansa masih tinggi. “Banyak yang tertarik, meskipun belum semua memahami. Kami pernah mengadakan acara di WTC, dan ada pasangan anak muda yang sangat baik berdansa,” ujarnya.
Oksy menekankan bahwa dansa bukan hanya hiburan, tetapi juga olahraga yang bisa dilakukan semua usia. “Kami memiliki pelatih usia 70 tahun yang masih aktif. Ini menunjukkan bahwa dansa bisa dilakukan hingga usia lanjut,” tambahnya.
Manfaat Dansa
Selain itu, dansa juga baik untuk melatih daya ingat dan mengurangi stres. “Karena saat latihan banyak interaksi dan canda tawa. Kadang ada yang salah gerakan atau salah mengambil pasangan saat latihan, sehingga suasana menjadi menyenangkan,” jelas Oksy.
Rencana Ke Depan
Dalam waktu dekat, AMDI akan ikut serta dalam perlombaan tingkat provinsi yang diselenggarakan oleh KORMI. Selain itu, mereka juga akan mengikuti kegiatan internasional di Yogyakarta pada tanggal 26. Peserta dari Singapura, Malaysia, China, dan Indonesia akan hadir dalam acara tersebut.
Pelajaran Hidup dari Dansa
Dari dunia dansa, Oksy belajar bahwa hidup menjadi lebih teratur dan sehat. “Dulu saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan telepon genggam. Sekarang ada jadwal latihan dan kegiatan yang membuat lebih aktif,” katanya.
Cara Bergabung
Bagi masyarakat yang ingin bergabung, Oksy menyarankan untuk langsung datang ke studio latihan. “Bisa mengenal dansa lebih dekat dan berdiskusi bersama kami,” ujarnya.
Pesan Akhir
Sebagai penutup, Oksy memberikan pesan untuk Tribuners: “Jangan hanya ibu-ibu yang bisa dansa. Bapak-bapak pasti lebih pandai berdansa.”






