Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    15 Warna Cat Interior Mewah dan Elegan

    27 Mei 2026

    Makna Lirik Sholatuminallah: Teks Arab dan Latin Lengkap

    27 Mei 2026

    BPJS Kesehatan Aktifkan Kembali 428 Ribu Peserta JKA di Aceh

    27 Mei 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Rabu, 27 Mei 2026
    Trending
    • 15 Warna Cat Interior Mewah dan Elegan
    • Makna Lirik Sholatuminallah: Teks Arab dan Latin Lengkap
    • BPJS Kesehatan Aktifkan Kembali 428 Ribu Peserta JKA di Aceh
    • Tingkatkan UMKM, Rumah BUMN Sidoarjo Latih Pembuatan Strawberry Pudding Cheesecake
    • Perjalanan Santi Membangun Bisnis Pempek Beku, dari Reseller hingga Tembus Pasar Luar Negeri
    • 9 film ayah yang menginspirasi, wajib tonton!
    • UEA Bergabung dengan Saudi dan Qatar Minta Trump Berhentikan Perang dengan Iran
    • Jaecoo J8 SHS-P ARDIS: Mobil 530 Hp dengan Biaya Operasional Rp20 Ribu/Hari
    • Banyak yang Terkejut, Yamaha Aerox Alpha 2026 Tawarkan Kenyamanan Tak Terkalahkan
    • Ahmad, Imam Masjid Korban Pengeroyokan Emak-emak di Palopo Kini Jadi Tersangka, Terancam 3 Tahun Penjara
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Teknologi»Di dunia digital, perhatian kita dikuasai oleh kekuatan baru

    Di dunia digital, perhatian kita dikuasai oleh kekuatan baru

    adm_imradm_imr9 Maret 20265 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Data Pengguna Media Sosial di Indonesia



    Pada awal tahun 2025, Indonesia mencatatkan sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial aktif. Angka ini menyumbang sekitar 50,2% dari total penduduk negara tersebut. Rata-rata waktu yang dihabiskan oleh pengguna Indonesia di media sosial adalah sekitar 3 jam 8 menit per hari, atau setara dengan 188 menit. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.

    Dari data ini, kita dapat memahami bahwa perhatian digital menjadi arena persaingan kekuasaan dan pengaruh sosial. Kekuasaan tidak selalu hadir dalam bentuk undang-undang, aparat, atau pidato presiden. Ia hadir dalam bentuk yang lebih sunyi: notifikasi yang tak henti berbunyi, video yang otomatis bergulir, rekomendasi yang terasa “kebetulan”, dan linimasa yang seolah memahami isi kepala kita.

    Arsitektur Kekuasaan Baru di Dunia Digital

    Sejarawan sekaligus pemikir, Yuval Noah Harari, mengingatkan bahwa abad ke-21 adalah era di mana data menjadi sumber dominasi utama. Dalam karya-karyanya seperti Homo Deus dan 21 Lessons for the 21st Century, ia menyatakan bahwa jika abad-abad sebelumnya ditentukan oleh penguasaan tanah dan senjata, kini ditentukan oleh penguasaan informasi tentang manusia. Siapa yang paling memahami pola perilaku kita, dialah yang paling berkuasa.

    Di Indonesia, realitas ini bukan teori abstrak. Dengan lebih dari 100 juta pengguna internet dan penetrasi media sosial yang sangat tinggi, masyarakat kita hidup dalam ekosistem algoritmik. Platform digital bukan sekadar sarana komunikasi; ia adalah kurator realitas. Apa yang kita lihat, marahi, dukung, atau beli, semakin banyak ditentukan oleh sistem rekomendasi yang dirancang untuk mempertahankan atensi.

    Algoritma dan Rekayasa Realitas Sosial



    Pada dasarnya, algoritma bekerja berdasarkan satu prinsip utama: mempertahankan keterlibatan (engagement). Konten yang memicu emosi kuat—amarah, ketakutan, kebanggaan—lebih mungkin diprioritaskan. Akibatnya, ruang publik digital kita cenderung dipenuhi oleh ekstremitas.

    Kita menyaksikan bagaimana polarisasi politik mengeras menjelang pemilu. Percakapan publik sering kali berubah menjadi serangan personal. Hoaks dan disinformasi menyebar cepat karena lebih “menarik” secara emosional. Dalam logika algoritma, kebenaran tidak selalu menjadi prioritas; keterlibatan lah yang utama.

    Masyarakat Transparansi dan Eksploitasi Diri

    Jika Harari berbicara tentang dominasi data, filsuf Korea-Jerman, Byung-Chul Han, melihat sisi lain: transformasi manusia menjadi subjek yang mengeksploitasi dirinya sendiri. Dalam karya-karyanya seperti The Burnout Society dan The Transparency Society, Han menjelaskan bahwa masyarakat kontemporer bukan lagi masyarakat disipliner yang dikontrol dari luar, melainkan masyarakat kinerja (achievement society).

    Dalam hidup sehari-hari, kita terdorong untuk selalu tampil, selalu produktif, dan selalu terlihat. Media sosial menjadikan setiap orang sebagai proyek yang harus terus dipoles. Kita memantau jumlah “like”, membangun citra diri, dan tanpa sadar menjual kehidupan pribadi sebagai komoditas.



    Hal ini juga terjadi di Indonesia dan tampak jelas dalam budaya viral. Banyak orang berlomba menjadi konten kreator, influencer, atau figur digital. Tidak ada yang salah dengan kreativitas digital. Namun, persoalannya muncul ketika nilai diri diukur oleh metrik algoritmik. Identitas menjadi rapuh karena bergantung pada validasi instan.

    Han menyebut kondisi ini sebagai bentuk kekerasan yang halus: kita merasa bebas, padahal kita sedang terjebak dalam logika sistem yang menuntut performa tanpa henti. Kelelahan mental, kecemasan sosial, dan krisis fokus menjadi konsekuensi yang semakin nyata.

    Identitas yang Rapuh

    Dalam perspektif Zygmunt Bauman, dunia digital mempercepat apa yang ia sebut sebagai “modernitas cair” dalam Liquid Modernity. Struktur sosial tidak lagi kokoh, identitas menjadi fleksibel, relasi mudah terhubung, tetapi juga mudah terputus.

    Media sosial menciptakan ilusi kedekatan, tetapi sekaligus memperdangkal komitmen. Persahabatan dapat dihapus dengan satu klik: unfriend atau unfollow. Diskursus publik berubah menjadi arus cepat yang segera dilupakan. Yang viral hari ini dapat tenggelam esok hari.



    Dalam konteks Indonesia, masyarakat yang sebelumnya ditopang oleh komunitas-komunitas kuat—keluarga, kampung, organisasi sosial, lembaga keagamaan—kini berhadapan dengan ruang digital yang cair. Solidaritas mudah terbentuk secara emosional, tetapi juga mudah pecah.

    Bauman mengingatkan bahwa dalam modernitas cair, individu merasa semakin sendirian meskipun terhubung secara digital. Ini menjelaskan paradoks zaman kita: konektivitas meningkat, tetapi kesepian dan polarisasi juga meningkat.

    Dari Demokrasi hingga Pendidikan

    Berangkat dari analisis tersebut, apa implikasinya bagi kehidupan sosial Indonesia? Pertama, demokrasi menjadi rentan terhadap manipulasi berbasis data. Kampanye politik dapat disesuaikan secara mikro berdasarkan profil psikologis pemilih. Narasi tertentu diperkuat untuk kelompok tertentu. Ruang publik menjadi terfragmentasi.

    Kedua, pendidikan menghadapi tantangan besar. Generasi muda tumbuh dalam budaya distraksi. Membaca bacaan panjang menjadi sulit, berpikir reflektif tergeser oleh konsumsi cepat. Jika perhatian atau atensi adalah prasyarat pembelajaran, krisis perhatian adalah krisis pendidikan.

    Ketiga, relasi sosial menjadi semakin reaktif. Perbedaan pendapat mudah berubah menjadi permusuhan. Algoritma cenderung mempertemukan kita dengan yang sependapat, bukan yang berbeda. Akibatnya, empati sosial melemah.



    Merebut kembali perhatian (atensi) bukan tindakan romantis, melainkan tindakan etis dan politis. Itu berarti: (1) mengembangkan literasi digital kritis, (2) membangun ruang dialog yang sehat, baik online maupun offline, (3) menuntut regulasi yang melindungi data dan mencegah eksploitasi algoritmik, serta (4) menghidupkan kembali komunitas nyata sebagai ruang pembentukan karakter.

    Pelajaran penting adalah Harari mengingatkan tentang bahaya “dataisme”, Han mengingatkan tentang kelelahan eksistensial, sedangkan Bauman mengingatkan tentang kerapuhan ikatan sosial. Ketiganya bertemu dalam satu pesan: manusia tidak boleh menyerahkan sepenuhnya otoritas hidupnya kepada sistem yang tidak ia pahami.

    Secara global, tantangan ini semakin mendesak karena kita adalah masyarakat yang sedang bertumbuh secara digital dengan cepat, tetapi belum sepenuhnya matang secara regulatif dan literatif. Jika perhatian (atensi) terus diperdagangkan tanpa kesadaran, kebebasan akan terkikis secara perlahan—bukan melalui represi terbuka, melainkan melalui distraksi permanen.

    Akhirnya, mungkin tindakan kebebasan paling radikal di abad ini bukanlah soal berteriak paling keras di media sosial, melainkan mampu berhenti sejenak, berpikir jernih, dan memilih secara sadar apa yang kita beri perhatian.

    Karena di era algoritma, siapa yang menguasai perhatian (atensi), dialah yang menguasai masa depan.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Jaecoo J8 SHS-P ARDIS: Mobil 530 Hp dengan Biaya Operasional Rp20 Ribu/Hari

    By adm_imr27 Mei 20261 Views

    BrightspotCITY 2026 Siap Berlangsung, Undang Semua Hadir

    By adm_imr27 Mei 20262 Views

    Penguatan Digital Branding Bank BJB Meraih Penghargaan Digital Brand 2026

    By adm_imr27 Mei 20261 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    15 Warna Cat Interior Mewah dan Elegan

    27 Mei 2026

    Makna Lirik Sholatuminallah: Teks Arab dan Latin Lengkap

    27 Mei 2026

    BPJS Kesehatan Aktifkan Kembali 428 Ribu Peserta JKA di Aceh

    27 Mei 2026

    Tingkatkan UMKM, Rumah BUMN Sidoarjo Latih Pembuatan Strawberry Pudding Cheesecake

    27 Mei 2026
    Berita Populer

    HUT ke-112 Kota Malang Jadi Momentum Evaluasi, Wali Kota Tekankan Penyelesaian Masalah Prioritas

    Kota Malang 1 April 2026

    Kota Malang- Wahyu Hidayat menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang bukan…

    Kasus Perzinaan Oknum ASN Kota Batu Berujung Penjara, Vonis Diperberat di Tingkat Banding

    29 April 2026

    Banyak Layani Luar Daerah, Dinkes Kabupaten Malang Ubah UPT Kalibrasi Jadi BLUD

    27 Maret 2026

    Kejagung Sita Aset Kasus Ekspor CPO di Kota Malang, Tanah 157 Meter Persegi Dipasangi Plang

    2 Mei 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?